<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487</id><updated>2011-07-28T22:25:57.866-07:00</updated><title type='text'>herlin's knowledge baskom</title><subtitle type='html'>topik-topik yang insightful dan resourceful buat semua kalangan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>34</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-1393324323243964789</id><published>2009-07-29T21:21:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T22:05:42.239-07:00</updated><title type='text'>Entrepreneurship from non-entrepreneur</title><content type='html'>Biasanya yang ngasi tips mengenai menjadi wirausahawan atau entrepreneur adalah orang yang sudah berpengalaman dan sukses menjadi pengusaha. Tapi kali ini aku ingin membahas tips sukses menjadi pengusaha jika dilihat dari pemandangan seorang yang belum berani-berani melangkah untuk membuka usaha sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku tips untuk menjadi entrepreneur yang sukses adalah:&lt;br /&gt;1. Memiliki mental pengusaha&lt;br /&gt;   Mental pengusaha yang jelas harus ada adalah berani untuk melangkah. Salah seorang kakekku sangat melarangku menjadi karyawan. Dulu aku mengabaikan nasihatnya dan menganggapnya sebagai pandangan kuno yang sekarang tidak berlaku lagi. Aku masih idealis dengan menganggap bahwa menjadi karyawan adalah pembelajaran yang bisa dijadikan bekal untuk kita mulai usaha sendiri. Ternyata benar yang dikatakannya, bahwa saat kita menjadi karyawan kita akan dikungkung atau terjeblos dalam suatu comfort zone yang sangat nyaman sehingga sangat sulit untuk keluar dari zona itu. Buktinya sudah hampir 5 tahun aku bekerja dan aku bukan tambah siap untuk membuka usaha sendiri tapi malah tambah takut. Apa karena XQ-ku (Execution Quotion) rendah ya?&lt;br /&gt;   Mental pengusaha yang kedua adalah berani mengambil risiko. Minimnya gaji yang diterima sebagai karyawan, dan juga kenaikan gaji yang tidak seberapa seringkali mendorong aku dan suami untuk mencari ide-ide bisnis. Tapi saat kita mulai berpikir tentang risiko-risiko yang mungkin timbul, akhirnya ide tinggal menjadi ide saja. Kalau aku melihat dari pengusaha-pengusaha yang sudah berhasil, sebagian besar dari mereka pasti pernah mengalami yang namanya gagal atau bangkrut dalam bisnisnya. Namun mereka memutuskan untuk bangkit lagi dan akhirnya bisa berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dapat mengidentifikasi adanya peluang bisnis dan mengambilnya&lt;br /&gt;   Peluang bisnis ada saat demand &gt; supply. Peluang bisnis, apalagi di jakarta raya ini ada sangat banyak. Misalnya di kantor, ada kebutuhan karyawan untuk makan pagi dan makan siang. Banyak orang yang bisa mengidentifikasi peluang tersebut, tapi yang bisa meng-grab peluang tersebut kesitulah duit akan mengalir.&lt;br /&gt;   Selain bisa mengambil peluang yang ada, timing yang tepat juga sangat dibutuhkan. Makanya orang yang menjadi pioneer biasanya diuntungkan dalam industrinya. Contohnya pasar HP yang memang sedang booming. Kalau kita baru masuk dan buka toko HP sekarang, mungkin sudah telat, kecuali kita bisa menemukan daerah yang masih jarang toko HP atau kita bisa membuat diferensiasi toko HP kita dibanding toko yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menghasilkan sesuatu yang berbeda, atau sesuatu yang sama dengan cara yang berbeda&lt;br /&gt;   Poin ke 1 dan 2 adalah poin dasar dalam seseorang bisa memulai menjadi seorang pengusaha. Namun untuk kunci suksesnya sendiri, menurutku ada di poin yang ketiga ini.&lt;br /&gt;   Menghasilkan sesuatu yang berbeda tentu saja tidak sekedar berbeda tapi harus memiliki added value dibandingkan yang lain. Misalnya roti abonnya Bread Talk, menurutku roti itu adalah sesuatu yang berbeda dan memiliki added value yaitu rasanya yang enak dan unik.&lt;br /&gt;   Kalau menghasilkan sesuatu yang sama dengan cara yang berbeda, ini banyak aku temui di industri kimia. Misalnya dalam menghasilkan produk Wax, selama ini teknologi yang digunakan adalah menggunakan sweating process yang membutuhkan peralatan yang super mahal. Nah, kita bisa menggunakan cara lain yang lebih mudah dan murah untuk menghasilkan barang dengan kualitas sama, tapi dengan harga yang lebih murah. Added valuenya ya dari nilai ekonomisnya itu. Sesuatu yang sama juga bisa dikemas dengan cara yang berbeda. Misalnya Starbucks bisa mengemas warkop menjadi sesuatu yang berbeda yaitu tempat nongkrong yang bergengsi. Sehingga akhirnya dia sukses menjual kopi yang kalo di warung harganya hanya Rp 1000 menjadi Rp 40.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Faktor Luck&lt;br /&gt;Mau ga mau faktor luck atau keberuntungan adalah hal yang sangat penting dalam menjalankan bisnis. Keberhasilan sebuah bisnis tergantung dari banyak sekali faktor yang tidak bisa kita rumuskan secara matematis, jadi faktor luck memang diperlukan. Contohnya di dekat rumahku ada nasi uduk yang menurutku rasanya tidak gurih dan lauk2nya pun hambar. Tapi nasi uduk itu dari dulu sampai sekarang selalu konsisten ramai pengunjung, dan aku juga termasuk salah satu pengunjung setianya. So, menurutku nasi uduk ini sangat beruntung. Di antara restoran-restoran yang banyak bertumbangan di Jakarta, ternyata dia bisa exist dan bahkan selalu ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, itulah sedikit tips dari seorang yang bermimpi menjadi pengusaha tapi belum kesampaian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-1393324323243964789?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/1393324323243964789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=1393324323243964789' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/1393324323243964789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/1393324323243964789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2009/07/entrepreneurship-from-non-entrepreneur.html' title='Entrepreneurship from non-entrepreneur'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-4721485843175623135</id><published>2009-06-17T07:38:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T07:56:28.898-07:00</updated><title type='text'>Memeras Handuk Kering</title><content type='html'>Jepang adalah negara yang memperkenalkan pada kita berbagai teknik untuk meningkatkan kualitas dan juga menghemat biaya operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun salah satu teknik yang dinamakan cost efficiency ternyata memiliki keterbatasan. Ada saatnya dimana kita tidak lagi bisa menghemat biaya yang dikeluarkan. Mengapa? Ya karena memang sudah 'pol' pengehematannya... tidak ada lagi yang bisa dihemat. Pada saat itulah kondisinya seperti "squeezing the dry towel" atau memeras handuk kering. Apa hasilnya? pastinya tidak akan menghasilkan apapun karena yang diperas itu handuk kering, sudah tidak ada lagi air yang tersisa untuk diperas lagi. Sekeras apapun usaha yang dilakukan hanya akan merusakkan si handuk, tidak membuahkan hasil yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang bisa ditarik dari sini adalah: ide-ide yang sifatnya instan dan alakadarnya, tidak dipikirkan secara mendalam, tidak kreatif, dan mudah ditiru, akan mudah menemui kesudahannya. Seperti halnya dengan 'price war' atau perang harga. Memberikan discount adalah taktik termudah dalam penjualan, tapi sampai seberapa besar si perusahaan memberikan discount? Pada saat perusahaan A memberikan discount 5%, perusahaan B tidak mau kalah dan memberikan 10%. Perusahaan A melawan lagi dengan discount 15% dan seterusnya yang akan terus menggerus profit perusahaan dan akhirnya sudah mentok tidak bisa dilakukan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide-ide yang akan bertahan adalah ide-ide yang kreatif, yang tercipta dari proses pemikiran yang kreatif dan matang. Dulu kita tidak menyadari hal ini. Makanya kita cenderung mendidik anak dengan cara yang konvensional, banyak mengatakan "jangan", mendikte anak menjadi seperti apa yang orang tua inginkan, menuntut anak untuk menjadi pintar dalam segala hal, dan hasilnya adalah mematikan kreatifitas sang anak dan tidak mengoptimalkan bakat alami yang dimiliki anak. Padahal di jaman sekarang ini kreatifitas sangat diperlukan di tengah persaingan dunia yang semakin sengit. Makanya sekarang boominglah buku-buku mengenai kreatifitas atau menjadi berbeda dengan yang lain, seperti: lateral thinking, blue ocean, purple cow, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekilas pemikiranku mengenai pentingnya menjadi kreatif dan inovatif agar bisa bersaing di dunia modern ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-4721485843175623135?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/4721485843175623135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=4721485843175623135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/4721485843175623135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/4721485843175623135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2009/06/memeras-handuk-kering.html' title='Memeras Handuk Kering'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-2786352881025263973</id><published>2009-06-01T20:59:00.000-07:00</published><updated>2009-06-01T22:11:17.329-07:00</updated><title type='text'>Tanggung Jawab dan Kebebasan</title><content type='html'>Pemikiran ini timbul saat aku ngobrol dengan salah seorang saudaraku di suatu acara.&lt;br /&gt;Dia mengisahkan tentang anaknya yang bernama Marco.&lt;br /&gt;Guru: Anak-anak, siapa di antara kalian yang hanya boleh main games (Nintendo, PSP, dkk) hari Sabtu saja?&lt;br /&gt;(separuh kelas angkat tangan)&lt;br /&gt;Guru: Ok. Sekarang, siapa yang boleh main games hari Sabtu dan Minggu?&lt;br /&gt;(separuh kelas yang lain angkat tangan)&lt;br /&gt;Guru: Bagus. Nah sekarang, siapa yang boleh main games kapan pun tanpa dibatasi oleh orang tuanya?&lt;br /&gt;(hanya si Marco sendiri yang mengangkat tangan)&lt;br /&gt;Guru itu menjadi heran karena selama ini Marco memiliki nilai-nilai yang cukup bagus. Kalau ada PR pun selalu dikerjakan dengan baik.&lt;br /&gt;Menurut saudaraku, dengan diberikan kebebasan, si Marco malah jadi semakin bertambah tanggung jawabnya. Karena dibebaskan main games kapanpun, saat main games paling dia menghabiskan waktu setengah sampai 1 jam, toh besok-besok bisa main lagi. Tidak seperti anak lain yang karena cuma boleh main games di hari Sabtu, maka Sabtu adalah full time hari untuk main games, dan mereka jadi susah diajak jalan-jalan keluar oleh orang tuanya.&lt;br /&gt;Paling untuk memotivasi Marco, dia menggunakan keseimbangan reward dan konsekuensi, seperti misalnya, kalau sampai nilai-nilainya jelek, maka PS akan ditarik dan Marco tidak boleh main games lagi untuk seterusnya.&lt;br /&gt;Hmm... I definitely agree dengan cara mendidik seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi kedua adalah bagaimana memperlakukan pembantu di rumah kita.&lt;br /&gt;1. Di rumah ortuku pembantu selalu menjadi orang yang dicurigai. Jadi, prinsip dari ortuku semakin mereka diberi kebebasan, mereka akan jadi ngelunjak dan banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal negatif seperti bersantai-santai, mencuri, dkk. Akibatnya, ortuku jadi kerepotan sendiri. Mereka harus ekstra ketat mengontrol semua aktivitas pembantu, dan kalau ada suatu masalah para pembantu langsung terkena prinsip praduga bersalah. Hmm... ga nyaman juga kan hidup begitu. Untungnya ortuku punya cukup banyak waktu untuk mengontrol semua kegiatan pembantu di rumah. Tapi sebenernya dalam kondisi sekarang aku tidak menyalahkan mereka si, karena memang pembantu di rumah ortuku itu parah banget. Udah melakukan suatu hal puluhan kali masih sering salah-salah dan lupa-lupa juga. Tapi ortuku tetap mempertahankan pembantuku yang sekarang ini, soalnya kriteria mereka dalam memilih pembantu: biar bodo asal jujur.&lt;br /&gt;2. Di rumahku, aku punya pembantu yang super rajin. Selalu terlihat bekerja non-stop di setiap kesempatan. Yang motong rumput lah, ngecat tembok lah, nguras kolam lah, sampai meng'kolot' sela-sela ubin lantai. Selain rajin, mereja juga terbukti jujur. So, aku mempercayakan banyak tanggung jawab di rumah kepada mereka. Dan, saat aku memerintahkan suatu tugas, aku bisa tinggal tenang karena yakin bahwa mereka pasti melakukan sesuai perintah. Selain itu aku tidak perlu kawatir kunci sana sini karena mereka bisa dipercaya. Jadi prinisipku, perlakukan para pembantu dengan baik, berikan semua hak-hak mereka, dan percayailah mereka, maka mereka akan melakukan segalanya dengan baik. Itu sudah terbukti dengan para pembantuku yang bukan saja loyal, tapi mereka tambah rajin dan kreatif. Coba aja, mereka bukan cuma membuat rumah menjadi bersih dan nyaman, tapi juga mempercantik rumahku. Vas bunga diisi dengan bunga-bunga kreatif hasil hand made mereka atau hasil dari kebunku, terus lap tangan juga dilipat dengan kreatif dan indah, selain itu mereka juga jadi hairstylist dari boneka yang ada di kamarku. Kadang rambut bonekaku dimodel punk, kadang diponi, kadang dijambul.. pokoknya mereka jadi kreatif deh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku melihat kembali kedua kejadian itu, memang kita tidak bisa membenarkan atau menyalahkan salah satunya. Karena bagaimana kita memperlakukan seseorang harus disesuaikan dengan karakter dan kematangan dari orang tersebut. Yah, seperti prinsip dalam situational leadership lah. Kalau anak buah kita memang secara kemampuan dan karakter sudah bagus, ya kita bisa melepas dia dan memberikan extra tanggung jawab. Tapi kalau kemampuan dan atau karakternya masih lemah, ya terpaksa kita kontrol dengan ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu sangat applicable kalau kita membicarakan tentang pembantu atau anak buah yang datang kepada kita sudah dengan membawa kemampuan dan karakternya masing-masing, dan mereka punya 'obligasi' kepada kita karena kita adalah orang yang menilai performance mereka. Tapi kalau untuk anak-anak kita, wah aku ga yakin semudah itu. Mereka datang ke dunia ini dalam kondisi yang masih 'kosong'. Yah, meskipun masing-masing secara genetik sudah punya bawaannya sendiri-sendiri. Tapi orang tua memiliki andil besar dalam menentukan karakter anak-anak kita. Seberapa besar kontrol dan kebebasan yang kita berikan harus diseimbangkan, disesuaikan dengan kesiapan mereka dan tahap-tahap pertumbuhan yang mereka alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, gutluk for every parents &amp;amp; managers.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-2786352881025263973?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/2786352881025263973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=2786352881025263973' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/2786352881025263973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/2786352881025263973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2009/06/tanggung-jawab-dan-kebebasan.html' title='Tanggung Jawab dan Kebebasan'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-9007381458631214141</id><published>2009-05-25T17:20:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T19:13:16.105-07:00</updated><title type='text'>Kehamilan: trauma, ketagihan, &amp; other insights</title><content type='html'>Bagi sebagian orang, kehamilan menimbulkan trauma yang mendalam sehingga mereka menjadi kapok untuk hamil lagi. Salah satunya adalah mamaku yang memutuskan untuk tidak hamil lagi karena tidak kuat menahan mual-mual selama kehamilan dan sakitnya melahirkan. Apalagi beliau melahirkanku dalam usia yang masih belasan tahun. Jadi mungkin karena masih muda, 'tahan sakit'nya masih sangat rendah. Selain mual-mual dan sakitnya melahirkan, pengalaman keguguran juga bisa menimbulkan trauma bagi ibu-ibu yang akhirnya memutuskan untuk tidak mau hamil lagi. Mungkin karena sakitnya dikuret, atau juga karena sakit hatinya kehilangan buah hati yang sudah diharapkan akan muncul dalam kehidupannya. Karena banyaknya keluhan seputar kehamilan dan melahirkan, tadinya aku beranggapan bahwa hamil itu sengsara dan melahirkan itu super sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku terdiagnosa positif hamil, aku langsung jadi was-was. Apa aku bakal mual2 ya,  soalnya  aku tipe yang gampang mual. Semakin aku was-was semakin aku kawatir karena seringkali apa yang kita kawatirkan itu yang menjadi kenyataan. Tapi thanks God ternyata aku tidak merasakan mual-mual yang kukawatirkan. Kehamilanku adalah kehamilan yang menyenangkan. Semua berjalan normal seperti orang yang tidak hamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore aku mendengarkan radio yang membahas tentang adanya ibu-ibu yang kecanduan hamil. Wah, ternyata hamil tidak hanya menimbulkan trauma, tapi bisa juga menimbulkan ketagihan. Saat itu aku bisa memahaminya karena memang hamil yang tanpa keluhan itu menyenangkan. Kita bisa total menikmati indahnya membesarkan seorang janin di dalam kandungan, tanpa diganggu oleh mual, cepet cape, pusing, dkk. Merasakan bayi yang menendang-nendang dalam perut, mengajak ngobrol, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain bersama bayi yang ada di kandungan memang sangat menyenangkan. Makanya tidak heran ada banyak orang yang ketagihan hamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak hamil aku menghentikan minum kopi, soda, dan alkohol. Aku menghentikan makan makanan-makanan yang mentah atau setengah matang seperti sashimie, telur setengah matang , dan lalapan yang selama ini menjadi favoritku. Aku mengurangi penggunaan kosmetik dan mengurangi makan makanan-makanan yang mengandung bahan pengawet. Aku rajin makan vitamin, makan telur rebus, makan salmon, dan memperbanyak buah dan sayur. Pokoknya aku menjaga asupan gizi bayiku dan menghindari hal-hal yang akan membahayakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan kelima ini aku mendapatkan insight mengenai hal itu. Lebih bersifat insight secara rohani. Di alkitab dikatakan bahwa tubuh kita adalah bait Allah dan Roh Kudus ada di dalam kita. Oleh sebab itu, makanya kita harus menjaga asupan yang masuk ke jiwa dan roh kita. Melakukan hal-hal buruk seperti menipu, melihat hal-hal yang sifatnya porn, mengucapkan kata-kata kotor, atau menjelek-jelekkan orang lain merupakan hal-hal yang bisa menodai bait Allah. Sedangkan segala kebaikan bisa menutrisi bait Allah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insight kedua, selama ada bayi dalam kandunganku ini banyak orang selalu berpesan padaku untuk sering-sering mengajak ngobrol, jangan dicuekin bayinya. Pasti mereka mengingatkan ini mempertimbangkan aku yang cenderung pendiam, takutnya bayiku tertelantarkan di dalam rahim. Yah, begitu juga dengan tubuh kita yang dianalogikan sebagai bait Allah. Komunikasi melalui doa itu adalah hal yang sangat penting. Makanya kadang aku berpikir bahwa umat Islam yang wajib sholat 5 waktu itu adalah suatu hal yang sangat vital. Memang manusia seringkali harus diwajibkan supaya tidak lalai. Komunikasi dengan Tuhan adalah seperti nafas dari orang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, that's a little story and insights about kehamilan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-9007381458631214141?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/9007381458631214141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=9007381458631214141' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/9007381458631214141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/9007381458631214141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2009/05/kehamilan-trauma-ketagihan-other.html' title='Kehamilan: trauma, ketagihan, &amp; other insights'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-2604795884616027071</id><published>2008-12-14T18:28:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T19:25:00.397-08:00</updated><title type='text'>Jadilah Orang Kanan</title><content type='html'>Topik ini mengutip dan terinspirasi dari buku "10 Jurus Terlarang" karya Ippho Santosa. Buku ini sudah lama terkulai di rak bukuku. Masih rapi tersegel dan aku merasa 'salah beli' dan mungkin tidak akan pernah membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beberapa hari yang lalu ada sesuatu yang merechargeku sehingga aku punya semangat untuk membaca buku-buku yang sudah lama terabaikan. Nah, terbukalah buku tersebut yang ternyata sangat menarik untuk dibaca. Ippho Santosa adalah seorang yang sangat spontan dan humoris. Jadi tulisannya tidak terstruktur, tapi bahasanya praktis dan banyak memberikan contoh-contoh, sehingga kita bisa mengerti benar ide-ide yang ingin dia sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin pertama dalam buku "10 Jurus Terlarang" adalah mengenai menjadi orang 'kanan'. Kita tau bahwa otak kanan adalah otak yang lebih ke arah kreativitas. Pendidikan kita, khususnya di Indonesia masih banyak berfokus ke otak kiri sehingga kita terbiasa untuk jadi 'orang kebanyakan', selalu mengikuti pakem yang ada, dan sungkan untuk menjadi orang yang bebeda. Orang yang berbeda dianggap sebagai orang gila. Misalnya di kelas yang kebanyakan muridnya adalah orang-orang pasif, kalau ada satu orang yang aktif bertanya maka murid lainnya akan berkomentar negatif, atau menganggap anak itu sok pintar atau mau cari muka sama guru. Dengan budaya seperti itu, akibatnya kreativitas kita seolah-olah terpenjara dan tidak berkembang dengan baik. Padahal kita tau bahwa dalam dunia bisnis, ilmu pengetahuan, dll, orang yang kreatif akan lebih unggul daripada mereka yang hanya mengikuti kebiasaan saja. Di jalan tol kita sering melihat tulisan: "Gunakan lajur kanan untuk mendahului". Memang untuk kita bisa mendahului orang lain, kita perlu memanfaatkan otak kanan kita untuk menjadi lebih kreatif dan distinctive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Inggris, kanan adalah 'right' dimana right itu juga didefinisikan sebagai 'benar' atau 'betul'. Jadi kata kanan memang sering dikonotasikan sebagai sesuatu yang baik atau sesuatu yang kuat. Seperti misalnya aliran kanan, tangan kanan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Kiyosaki dalam Cash Flow Quadrantnya juga menganjurkan kita untuk berpindah ke kuadran kanan untuk kita bisa menikmati yang namanya kebebasan finansial (financial freedom) dan kebebasan dari sisi waktu dalam kehidupan kita. Menurut Ary Ginanjar dengan ESQnya, dia juga menganjurkan untuk mulai dengan yang kanan. Artinya, mulailah dulu dengan intuisi, baru analisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, terbukti kan bahwa menjadi orang kanan itu adalah salah satu kunci sukses dalam hidup ini. Tapi bagaimana ya cara mengaktifkan otak kanan kita? Yang aku tau sih banyak-banyak mendalami dan melihat-lihat karya seni, latihan untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa, melatih pola pikir kita untuk berpikir dengan cara yang berbeda, dan masih banyak lagi cara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menjadi Mr/Ms.Right! :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-2604795884616027071?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/2604795884616027071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=2604795884616027071' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/2604795884616027071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/2604795884616027071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/12/jadilah-orang-kanan.html' title='Jadilah Orang Kanan'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-9060366659250582556</id><published>2008-11-26T20:31:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T20:33:47.620-08:00</updated><title type='text'>Sense of Belonging</title><content type='html'>Sense of Belonging atau rasa memiliki ternyata adalah sesuatu yang sangat penting dan perlu untuk ditumbuhkembangkan dalam sebuah organisasi. Mengapa? Karena Sense of Belonging ini dapat menimbulkan berbagai dampak positif, seperti misalnya: menambah rasa tanggung jawab, meningkatkan efisiensi perusahaan, dan menumbuhkan kecenderungan Advocacy atau pembelaan terhadap suatu organsasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Menambah Rasa Tanggung Jawab&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Contohnya seperti ini. Misalnya kita mempunyai sebuah dokumen yang harus ditandatangani oleh seorang Bos di perusahaan kita, dan ternyata Bos tersebut sedang di luar kota selama 1 minggu. Kalau kita menyuruh seorang OB untuk tugas ini, kemungkinan besar dia akan mengembalikan dokumen itu kepada kita dan mission failed. Atau dia tinggalkan saja pada sekretarisnya si Bos dengan tidak mengetahui bahwa si Bos sebetulnya sedang pergi ke luar kota. Akibatnya, dokumen tersebut jadi terlantar selama 1 minggu. Nah, beda halnya kalau kita sendiri yang melakukan tugas ini, dimana kita memiliki kepentingan yang sangat besar supaya dokumen tersebut bisa segera ditanda tangani. Kita akan mengusahakan segala daya upaya supaya dokumen itu ditandatangani, entah oleh wakilnya si Bos, atau minta si Bos untuk mengirim email bahwa dia sudah meng-approve dokumen tersebut.&lt;br /&gt;Hal itu adalah contoh ekstrim dimana OB bisa dikatakan Sense of Belongingnya terhadap tugas tersebut sangat minim, sementara kita punya Sense of Belonging yang sangat besar sehingga kita berusaha mempertanggungjawabkan tugas tersebut dengan segala cara dan usaha yang bisa kita lakukan. Nah, terbukti kan kalau Sense of Belonging itu bisa meningkatkan tanggung jawab seseorang.&lt;br /&gt;Ide ini timbul dalam benakku karena aku berada dalam sebuah divisi yang sifatnya centralized. Bisa dikatakan semua inisiatif yang ada di divisi ini berasal dari atasanku. Tentunya hal tersebut tidak timbul dengan sendirinya, tapi timbul karena ketidakpercayaan atasanku pada anak-anak buahnya, sehingga dia memilih untuk memborong semua tanggung jawab sendirian. Apa akibatnya?&lt;br /&gt;- Anak buah yang disuruh melakukan suatu tugas merasa dirinya seperti seorang “kuli” atau OB, karena dia tidak diberitahu apa latar belakangnya dia harus melakukan tugas itu dan kalau dia salah kenapa dikatakan salah.&lt;br /&gt;- Rasa tanggung jawab para anak buah menjadi semakin rendah, sehingga beban atasanku menjadi semakin berat.&lt;br /&gt;- Pada saat atasanku membanggakan bahwa divisi kita lebih baik dari divisi training lainnya, dan bahwa kita menjadi benchmark untuk perusahaan kita di Negara-negara lain, teman-temanku tidak ikut bangga karena mereka merasa tidak contribute sesuatu. Kasarnya mereka akan bilang, “Kita? Lo aja kali!”&lt;br /&gt;Selama ini meeting yang diadakan di divisiku sebagian besar berisi update dari atasanku, dan bukan berupa diskusi. Begitu juga saat kita melakukan planning session untuk merencanakan project-project yang akan dilakukan di tahun depan. Project-project tersebut sudah ditentukan oleh atasanku, termasuk siapa saja orang yang terlibat di dalamnya. Dan, orang-orang tersebut “dipaksa” untuk menentukan aktifitas apa saja yang akan dilakukan untuk mendukung keberhasilan project tersebut. Bisa ditebak, pada akhirnya sebagian besar project tidak terlaksana sesuai planning.&lt;br /&gt;Nah, saat aku berdiskusi dengan atasanku, dia dengan bangganya mengatakan: “Nanti saat workshop (planning session), saya akan umumkan project-project yang akan kita lakukan di tahun 2009.” Dia mengatakan itu dengan bangga seolah-olah dia telah menemukan banyak ide improvement untuk divisi ini.&lt;br /&gt;Thanks God aku pernah bekerja di sebuah perusahaan yang punya Management System yang sangat bagus. Waktu itu kita selalu memiliki sessi yang dinamakan pre-planning cycle yang melibatkan seluruh anggota divisi, dimana kita bersama-sama menentukan project-project mana yang perlu dilakukan di tahun depan, dan bagaimana prioritas dari masing-masing project tersebut, sesuai arahan strategi dan visi yang diberikan oleh President Director dan di-cascade kepada semua divisi.&lt;br /&gt;Jadi aku menyarankan adanya pre-planning session / pre-workshop yang melibatkan seluruh anggota divisi, supaya saat kita memutuskan untuk mengerjakan project-project tertentu, itu adalah kesepakatan dari semua anggota, dan mereka lebih punya background dan Sense of Belonging terhadap project tersebut. I’m sure tingkat keberhasilan project bisa lebih meningkat dengan cara ini.&lt;br /&gt;Atasanku menerima dengan baik saran ini. Meskipun aku tidak tahu saran ini akan diimplementasikan atau tidak, namun setidaknya aku telah belajar sesuatu dari ke-tidak idealan yang terjadi di organisasiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Meningkatkan Efisiensi Perusahaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jika kita memiliki Sense of Belonging terhadap perusahaan, kita akan berusaha menghemat supaya perusahaan ini bisa meningkat keuntungannya. Misalnya yang paling simple adalah ATK (alat tulis kantor). Kalau tidak dibatasi, pasti kita akan menghambur-hamburkan ATK itu baik untuk kepentingan kantor maupun pribadi. Contohnya kertas bekas. Kalau kita bisa mendapat supply kertas baru setiap saat, maka kertas bekas menjadi barang yang tidak berharga lagi dan akhirnya akan dibuang. Di divisiku supply kertas baru sangat terbatas, sehingga kita terpaksa memanfaatkan setiap lembar kertas bekas yang ada. Tapi kalau orang memiliki Sense of Belonging, meskipun tersedia supply ATK yang berlimpah, tetap dia akan berusaha berhemat dan tidak menggunakan ATK untuk kepentingan pribadi. Kalau ada banyak orang yang seperti ini, maka akan berdampak pada efisiensi yang cukup besar bagi perusahaan.&lt;br /&gt;Hal ini tidak hanya berlaku untuk penggunaan ATK, tapi juga penggunaan printer, lampu-lampu, AC, dan barang-barang lainnya di kantor. Kalau kita merasa kantor itu seperti rumah kita sendiri, pasti kita akan mematikan barang elektronik yang memang sudah tidak digunakan lagi. So, jelas bukan bahwa Sense of Belonging itu bisa meningkatkan efisiensi perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.  Menumbuhkan Advocacy&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat kita memiliki Sense of Belonging yang tinggi terhadap sesuatu, kita akan berusaha untuk membela sesuatu tersebut mati-matian. Misalnya seseorang akan membela anaknya mati-matian meskipun sudah jelas anaknya itu bersalah. Ya iya lah, orang anaknya sendiri. Sama halnya dengan perusahaan, kalau kita punya rasa memiliki terhadap perusahaan, kita akan membela perusahaan tersebut di depan orang lain. Misalnya saja aku pernah menulis di blog ini bahwa FX Hadi pernah mengatakan perusahaanku adalah perusahaan kacangan, ya jelas aku tidak terima dan berusaha membela perusahaanku. Terus ada issue bahwa perusahaanku akan dibeli oleh perusahaan competitor, kita semua berusaha menemukan bukti-bukti bahwa hal itu salah. Dan ternyata perusahaan kita punya asset sebesar 50x dari perusahaan competitor tersebut, sehingga kita mencibir abis ke perusahaan tersebut. Memiliki karyawan dengan Sense of Belonging yang tinggi sangat menguntungkan perusahaan karena hal itu membantu untuk mendongkrak Image dari perusahaan tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-9060366659250582556?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/9060366659250582556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=9060366659250582556' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/9060366659250582556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/9060366659250582556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/11/sense-of-belonging.html' title='Sense of Belonging'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-4128088574479394733</id><published>2008-11-20T05:12:00.001-08:00</published><updated>2008-11-20T05:34:17.637-08:00</updated><title type='text'>Peran-Peran dalam Project Management</title><content type='html'>Ada ungkapan yang menyatakan bahwa orang yang jatuh 2 kali pada lubang yang sama adalah orang yang dungu. Well, pernyataan itu ada benarnya juga, tapi untukku sendiri seringkali aku membutuhkan untuk mengalami pengalaman yang sama secara berkali-kali untuk bisa menarik hikmah dari peristiwa itu. Atau bisa juga disebutkan bahwa setelah puluhan kali jatuh pada lubang yang sama aku baru bisa mengambil hikmah bahwa di situ ada lubang dan bahwa jatuh ke lubang itu tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pentingnya peran-peran dalam Project Management ini baru aku sadari setelah aku belasan kali menjadi project manager, dan puluhan kali melihat dan terlibat pada suatu project. Di kantorku, ada sebuah kebiasaan buruk dari atasanku. Saat atasanku mempercayakan sebuah project kepada seseorang, tapi ternyata tidak dikerjakan dengan baik oleh orang tersebut, maka atasanku akan mengalihkan pekerjaan itu kepada orang lain. Alhasil, orang yang dialihi pekerjaan menjadi sangat sebal karena dianggap seolah-olah sebagai tong sampah tempat pembuangan tugas-tugas yang tidak bisa dikerjakan orang lain. On the other side, dari orang yang tugasnya dialihkan, dia jadi tambah ignorant, setiap kali dikasi kepercayaan untuk mengerjakan suatu project, dia tidak akan mengerjakan project itu. Karena toh nantinya project itu akan dialihkan ke orang lain kalau dia tidak mengerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi aku memberikan masukan kepada atasanku. Aku menyarankan pada dia, saat dia mempercayakan suatu project kepada orang yang belum terlalu bisa dipercaya, dan orang itu tidak mengerjakan tugasnya seperti yang diharapkan, jangan sekali-kali tergoda untuk menghibahkan tugas tersebut pada orang lain. Yang perlu dia lakukan adalah memperkuat fungsi control-nya. Dia harus memonitor lebih sering, lebih ketat, dan lebih tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru ingat bahwa di Project Management ada peran-peran yang terlibat dalam sebuah project. Peran-peran tersebut adalah&lt;br /&gt;1. Project sponsor. Misalnya: atasanku sebagai division head berperan menjadi Project Sponsor. Dia yang memiliki project, dia yang paling accountable terhadap keberhasilan project.&lt;br /&gt;2. Project manager. Project Sponsor menunjuk seorang Project Manager. Yang namanya manager, funsinya ya mengelola tugas dan aktifitas-aktifitas yang ada pada project tersebut, sehingga tujuan project dapat diselesaikan tepat waktu.&lt;br /&gt;3. Project champion. Nah, peran inilah yang paling sering terlupakan. Aku sendiri tidak terlalu ingat pada peran sesungguhnya project champion. Tapi, saat project sponsor merasa tidak terlalu percaya pada project manager, dia bisa meminta project champion untuk memperketat fungsi controlnya, sehingga project manager bisa mengerjakan tugasnya dengan semestinya.&lt;br /&gt;4. Project consultant. Project manager bisa bertanya pada project consultant tentang hal-hal yang berhubungan dengan projectnya. Biasanya project consultant ini adalah orang yang sudah lebih berpengalaman dalam mengerjakan project sejenis. Fungsi project consultant adalah sebagai resource atau sebagai reference.&lt;br /&gt;5. Project team member. Fungsi member adalah untuk membantu project manager mencapai tujuan project. Team member ini adalah sebagai pelaksana atau executor dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam project tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika peran-peran dalam project management ini bisa berjalan sebagaimana mestinya, seharusnya hal itu akan memperbesar kemungkinan suksesnya project tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-4128088574479394733?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/4128088574479394733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=4128088574479394733' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/4128088574479394733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/4128088574479394733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/11/peran-peran-dalam-project-management.html' title='Peran-Peran dalam Project Management'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-4708409951658498304</id><published>2008-09-25T08:11:00.000-07:00</published><updated>2008-10-19T03:06:33.568-07:00</updated><title type='text'>Animal Philosophy</title><content type='html'>Dalam hidup ini, ternyata kita bisa belajar dari banyak hal. Dari fenomena kehidupan sehari-hari, dari alam ini, dari pengalaman orang lain, dan salah satunya adalah dari binatang.&lt;br /&gt;Ternyata binatang juga bisa menginspirasi kita mengenai hikmah-hikmah dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Filosofi Babi&lt;br /&gt;Kali ini babi mengajarkan pada kita suatu hal yang buruk yang tidak pantas untuk ditiru. Untuk menyuruh seekor babi untuk maju - misalnya untuk masuk ke kandangnya - caranya bukan dengan mendorongnya, tapi dengan menarik ekornya.&lt;br /&gt;Kalau diaplikasikan pada kehidupan ini, hal ini nyata pada saat kita mengamati seorang anak. Bagi Anda yang sudah punya Anak, atau bagi kita yang mengingat pengalaman kita dulu, mungkin kita ingat saat kita disuruh untuk melakukan sesuatu, kita malah jadi sungkan untuk melakukan hal yang disuruh. Nah, kalau dilarang untuk melakukan sesuatu, kita malah cenderung berusaha melakukan hal itu.&lt;br /&gt;Ternyata hal tersebut adalah kecenderungan yang juga dimiliki oleh hewan yang bernama Babi. Tentu saja kecenderungan ini tidak baik karena munculnya dari ego seseorang yang merasa harga dirinya terganggu kalau dia menuruti suatu perintah.&lt;br /&gt;Sebaliknya, dari sisi orang yang mengerti filosofi ini, kita bisa mengatur cara bicara kita agar tidak terkesan memerintah, namun bisa membuat seseorang melakukan apa yang kita inginkan. Rasanya hal ini juga perlu diketahui oleh semua Leader, karena tidak semua orang suka dan mau disuruh dengan cara yang memerintah dan merendahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Filosofi Kodok&lt;br /&gt;Seseorang yang menggunakan cara yang tidak halal untuk mencapai kesuksesannya seringkali diibaratkan seperti Kodok. Untuk mencapai posisi yang lebih tinggi, dia akan menginjak-injak bawahan, menyikut teman-teman kerjanya (peers), dan menjilat atasannya.&lt;br /&gt;Secara halus maupun kasar, pasti seringkali praktik Kodok ini banyak dijalankan oleh orang-orang dalam pekerjaannya. Rasanya orang yang masih mempraktekkan hal ini perlu mempelajari Prinsip Win-Win dari 7 Habit-nya Steven Covey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Belajar dari Semut&lt;br /&gt;Semut sebagai binatang yang sangat kecil, dan biasanya selalu berusaha untuk kita usir, malah bisa memberik kita pelajaran yang berharga.&lt;br /&gt;Yang pertama adalah pelajaran tentang Peluang. Ada pepatah yang berkata: "Ada gula ada semut". Artinya dimana ada harta atau ada peluang, disitu orang akan berkumpul. Sama seperti kondisi Jakarta sekarang, karena kurangnya pemerataan pembangunan, maka  hanya Jakarta saja yang diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Daerah lainnya kurang diperhatikan, sehingga orang-orang daerah memutuskan untuk 'berkumpul' di Jakarta.&lt;br /&gt;Di sisi lain, kalau kita ingin dikerubuti oleh banyak semut, ya berusahalah untuk menjadi gula yang diinginkan oleh para semut itu. Hal ini bisa dipraktekkan dalam mencari jodoh, perkembangan karir, maupun dalam kehidupan sosial kita.&lt;br /&gt;Hal kedua yang bisa dipelajari dari semut adalah tentang Kerajinan dan Kerja Sama. Semut dipercaya sebagai binatang yang paling rajin. Dia selalu mengumpulkan makanan dengan rajin, pada musim yang tepat, sehingga semut tidak akan kekurangan makanan pada musim 'paceklik'. Nah, karena menyadari tubuhnya yang super mini itu, maka semut memutuskan untuk bekerja sama dengan semut lainnya untuk mencapai tujuan bersama bagi para semut, yaitu untuk memperoleh makanan mereka.&lt;br /&gt;Kalau semut pun bisa bekerja serajin itu, masa kita sebagai manusia hanya mau bermalas-malasan saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Belajar dari Anjing.&lt;br /&gt;Sejak aku memiliki Anjing, aku jadi mengamati sifat dan kebiasaan yang dimiliki oleh Anjingku. Salah satu hal yang kita bisa pelajari dari Anjing adalahbahwa Anjing itu adalah binatang yang sangat setia. Kesetiaan Anjing ini terlihat dari kebiasaannya yang selalu ingin dekat dengan tuannya. Pasti kita sering mendengar kisah Anjing yang selalu ikut dengan tuannya kemanapun dia pergi. Ada temanku yang anjingnya mengikuti dia kemanapun termasuk saat dia kuliah. Saat mertuaku pergi ke sebuah gereja di luar negeri, ada Anjing yang mengikuti misa, termasuk ikut antri saat tuannya berjalan ke depan untuk menerima komuni. Saat aku makan dan ada Anjingku disebelahku, maka aku tidak akan tega membiarkan dia ngiler, pasti aku akan memberikan apapun yang bisa kuberikan padanya. Itupun menginspirasikan hubunganku dengan Tuhan. Aku yakin jika kita maunya deket deket sama Dia, pasti Dia juga tidak akan kuasa untuk menahan berkat-berkatnya untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Belajar dari Rajawali&lt;br /&gt;Rajawali adalah burung yang sangat kuat dan perkasa. Pada saat badai datang, dia tidak bersembunyi dan meringkuk di sarangnya, tapi dia malah terbang tinggi melampaui badai tersebut. Kehidupan ini sering diumpamakan sebagai sebuah sekolah untuk kita. Saat permasalahan datang, kita seperti sedang mengalami sebuah ujian, dan jika kita lulus kita akan naik ke kelas yang lebih tinggi. Saat kita naik ke kelas yang lebih tinggi dan kita dihadapkan pada ujian yang mudah, kita tidak akan merasa panik atau gugup karena kita sudah ada di kelas yang lebih tinggi. Tapi penerapan secara spiritualnya, terbang seperti Rajawali yang melampaui badai diibaratkan sepeti kita yang mengadalkan Tuhan dalam mengatasi permasalahan kita. Kita yang disertai Tuhan, berada di atas badai tersebut sehingga kita tidak perlu merisaukan badai itu. Kita memiliki kekuatan untuk melaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Belajar dari Kura-kura&lt;br /&gt;Baru-baru ini aku menemukan buku tentang penerapan filosofi kura-kura dalam hal Investasi. Kura-kura dianggap sebagai binatang yang sangat lamban, tapi kelebihannya kura-kura itu berumur panjang. Dalam hal investasi, seorang yang sifatnya spekulan dan oportunis biasanya  investasinya tidak akan berumur panjang dan selalu menguntungkan. Sedangkan orang yang pelan-pelan, hati-hati, dan tidak rakus malah justru bisa mengoptimalkan keuntungannya. Aku belum membaca buku ini, tapi kira-kira itulah hal yang bisa kita pelajari dari kura-kura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi pelajaran yang bisa kita dapatkan dari binatang yang lain, misalnya Pinguin, Burung Merpati, dll. Semoga lain kali aku bisa meneruskan topik ini setelah aku mempelajari lebih jauh tentang binatang-binatang yang lain. Tapi intinya, dalam hidup ini ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari alam ciptaan Tuhan ini, termasuk salah satunya dari binatang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-4708409951658498304?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/4708409951658498304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=4708409951658498304' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/4708409951658498304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/4708409951658498304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/09/animal-philosophy.html' title='Animal Philosophy'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-3872740131684420111</id><published>2008-09-25T07:23:00.000-07:00</published><updated>2008-09-25T07:53:40.781-07:00</updated><title type='text'>Too Big To Fail</title><content type='html'>Kata-kata "Too Big to Fail" pertama kali kudengar saat aku di-interview di Citibank dalam kondisi perusahaan itu merugi parah. Pada kondisi itu semua karyawan percaya bahwa Citi Group itu too big to fail. Ya iya lah, perusahaan terbesar di dunia gitu loh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu pun kudengar lagi saat induk perusahaanku, American International Group, di New York dinyatakan nyaris bangkrut. Tanggal 16 September kondisi AIG masih gonjang ganjing, karena kondisi liquiditasnya sudah parah dan belum ada kepastian siapa yang akan mensupply modal untuk perusahaan yang sangat besar ini. Kontan saja seluruh karyawan AIG, customer AIG, dan semua yang memiliki kaitan dekat dengan perusahaan ini dilanda kepanikan. Di Singapore banyak customer AIG (termasuk anak-anak perusahaannya, misalnya: AIA dan AIU) yang memutuskan untuk surrender polisnya, karena sudah tidak percaya bahwa AIG bisa bertahan. Di Indonesia pun cukup banyak customer yang complain dan sudah berniat untuk surrender polisnya. Aku adalah salah satu korban kepanikan ini karena besok paginya, tanggal 17 September, aku harus mengajar di BCA Prioritas tentang Selling Tips produk AIG. Aku tahu bahwa aku akan dicecar dengan berbagai pertanyaan seputar issue bahwa AIG akan bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks God, pagi itu aku browsing via gprs di Communicator-ku dan menemukan bahwa The FED sudah memutuskan untuk memberi bantuan liquiditas untuk AIG sebesar USD 85 juta. Setidaknya sampai 2 tahun mendatang AIG "terselamatkan", dan jika setelah 2 tahun tidak bisa membayar kewajibannya, seburuk-buruknya AIG akan menjadi BUMN-nya pemerintah Amerika. Siapa tahu gajiku bisa jadi dalam bentuk USD! :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Management dari AIG Life Indonesia berusaha menenangkan semua karyawannya dan distribution channelnya. Salah satunya dengan mengatakan bahwa hal positif yang diambil dari sini adalah memberi tahu pada semua orang bahwa AIG adalah perusahaan yang sangat besar, sehingga pemerintah pun tidak akan membiarkannya bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menemukan hal lain dibalik sekedar "terlalu besar untuk bangkrut". Jika AIG bangkrut, kreditor yang bergantung pada AIG, karyawan-karyawan, bank-bank, dll akan sangat terpengaruh. Kebangkrutan AIG pasti memiliki dampak yang sangat besar pada kondisi perekonomian di US khususnya dan di dunia ini pada umumnya. Jadi bukan hanya perusahaannya yang sangat besar, tapi ada ketergantungan dari perusahaan dan individu-individu yang sangat banyak terhadap perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba pikirkan perusahaan di Jepang yang punya jaringan kekeluargaan yang sangat luas dengan perusahaan lain yang menjadi suppliernya maupun customernya. Aku yakin jaringan ini yang menyebabkan dampak pada satu perusahaan akan berdampak pula secara signifikan pada perusahaan lain di jaringan itu. Hal inilah sebetulnya yang bisa membuat sebuah perusahaan tidak akan begitu saja dibiarkan bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebetulnya kejatuhan dari perusahaan-perusahaan besar di Amerika memberi tahu kita bahwa tidak ada perusahaan yang too big to fail. AIG yang begitu besar, sahamnya bisa melorot 90% dalam waktu yang sangat singkat, dan tiba-tiba langsung di ambang kebangkrutan. Apapun bisa terjadi dan perusahaan sebesar apapun bisa bangkrut dalam waktu yang singkat. Dalam kondisi ekonomi yang penuh kejutan seperti saat-saat ini, menurutku perusahaan yang besar malah punya ancaman yang besar pula untuk menderita kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dimana ekonomi sedang down menurutku membuat kita jadi bisa introspeksi diri. Dampak positifnya, kita jadi lebih kenal tentang kondisi perekonomian dunia, dan juga bisa lebih paham tetang profil risiko kita. Saat kondisi pasar bagus, seseorang cenderung menilai dirinya sebagai risk taker, karena jika diminta untuk memilih instrumen investasi, pasti kebanyakan orang memilih saham dibanding instrumen yang lainnya. Nah, baru pas kondisi ekonomi slow down, atau bahkan terpuruk seperti saat ini, orang bisa mengenali profil risikonya yang sebenarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-3872740131684420111?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/3872740131684420111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=3872740131684420111' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/3872740131684420111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/3872740131684420111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/09/too-big-to-fail.html' title='Too Big To Fail'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-8037835942166236944</id><published>2008-08-29T09:33:00.000-07:00</published><updated>2008-09-09T05:18:57.127-07:00</updated><title type='text'>Risk Management</title><content type='html'>Risk Management adalah kegiatan atau proses untuk mengelola risiko yang kita prediksi akan muncul, sehingga kita dapat mempersiapkan segala sesuatu untuk mencegah risiko tersebut menghalangi tujuan kita dalam sebuah project atau aktivitas. Intinya dengan mempersiapkan diri menghadapi risiko-risiko yang mungkin muncul, kita bisa meminimalisir kegagalan kita, dan it means memperbesar peluang sukses kita dalam suatu project atau aktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa mengklasifikasikan risiko itu menjadi 3 tipe:&lt;br /&gt;1. Strategic Risk- risiko yang berkaitan dengan hal-hal yang strategic (misalnya tentang kebijakan pemerintah atau perusahaan)&lt;br /&gt;2. Delivery Risk- risiko yang berkaitan dengan men-deliver solusi project (misalnya: proses, software, dll)&lt;br /&gt;3. Benefit Realization Risk - risiko yang berkaitan dengan hambatan untuk mewujudkan benefit dari project setelah project selesai. (misalnya: culture user yang belum terbiasa, malas, dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengidentifikasi risiko-risiko yang mungkin terjadi, baik yang sifatnya Strategic, Benefit Realization, maupun Delivery Risk, jadi lebih mudah untuk mengidentifikasi segala kemungkinan risiko yang dapat terjadi dalam project kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, masing-masing risiko akan di-assess probability-nya dan impactnya jika risk tersebut terjadi. Jika impactnya cukup tinggi, maka haruslah dilakukan action untuk mengelola risiko tersebut. Ada 4 cara untuk mengelola risiko:&lt;br /&gt;1. Menghindari risiko&lt;br /&gt;2. Mengelola / meminimalkan risiko&lt;br /&gt;3. Menerima risiko&lt;br /&gt;4. Mengalihkan risiko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memungkinkan, dibuat contingency plan yang menyatakan hal apa yang akan dilakukan jika risiko tersebut benar terjadi. Dan jangan lupa disisihkan pula contingency budget. Ternyata contingency planing ini sangat bermanfaat, karena dengan melakukan ini kita sudah siap sedia dengan segala kemungkinan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelas sekali bahwa dengan adanya risk management dapat meminimalkan risiko kegagalan project dan memaksimalkan potensi keberhasilan project.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-8037835942166236944?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/8037835942166236944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=8037835942166236944' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8037835942166236944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8037835942166236944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/08/risk-management.html' title='Risk Management'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-6735441650350511930</id><published>2008-08-19T02:19:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T02:53:25.313-07:00</updated><title type='text'>Demi Olimpiade?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_gQxkMoKdN4U/SKqYBL5fiuI/AAAAAAAAABQ/zu6sg3Busbw/s1600-h/Beijing-Olympic-2008.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236164662912846562" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_gQxkMoKdN4U/SKqYBL5fiuI/AAAAAAAAABQ/zu6sg3Busbw/s320/Beijing-Olympic-2008.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Beijing menjadi sorotan mata orang banyak dengan adanya Olimpiade yang saat ini sedang berlangsung di sana. Semua mata memandang dan semua lidah berdecak kagum melihat persiapan yang dilakukan oleh pemerintah Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah China di Beijing berusaha mengurangi polusi dengan memindahkan pabrik-pabrik di sekitar lokasi Olimpiade dan membatasi jumlah kendaraan bermotor dengan memberlakukan penggiliran kendaraan berdasar tahun pembuatannya. Hasilnya, tingkat polusi di Beijing langsung melorot drastis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah China juga berusaha menjaga keindahan lokasi Olimpiade dengan melarang penduduknya memakai piyama saat keluar dari rumah, melarang meludah sembarangan, dan melarang penduduk Beijing menggunakan sepatu hitam dan kaus kaki putih yang biasanya menjadi &lt;em&gt;national foot wear&lt;/em&gt; mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung untuk Stadion Utama Olimpiade dibangun dengan dana sekitar 4 trilyun rupiah, dengan pengaturan udara, pencahayaan, dan layout yang sedemikian rupa sehingga benar-benar sempurna untuk pelaksanaan seluruh pertandingan Olimpiade. Pintu keluar masuknya pun sudah diperhitungkan dengan matang supaya tidak terjadi antrian panjang atau malah terjadi "Tragedi Terowongan Mina"yang akan menyengsarakan para penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta bawah tanah dibuat dengan dana yang luar biasa mahal pula, sebagai kereta bawah tanah dengan jalur terpanjang di dunia. Rute kereta ini memiliki jalur khusus untuk menuju ke Stadion Utama Olimpiade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu saja, bahkan untuk memastikan bahwa peserta tidak menggunakan doping, telah dibuat metode pengujian yang sangat canggih sehingga dapat dipastikan bahwa tidak ada kecurangan dari para peserta Olimpiade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, itu hanya sekelumit hal yang aku ketahui tentang persiapan Beijing untuk menjadi tuan rumahnya Olimpiade 2008 ini. Pasti masih banyak hal lagi yang membuat dunia menjadi sangat kagum akan kemajuan China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ada 1 hal yang aku yakin pasti timbul di pikiran sebagian besar penduduk Indonesia yang mengikuti persiapan Olimpiade ini: "Kok bisa ya Pemerintah Beijing sedemikian gampangnya mengatur penduduknya untuk mentaati peraturan-peraturan yang dibuat?" Coba kalau hal itu diterapkan di Jakarta. Apa penduduk Jakarta mau mentaati peraturan-peraturan seperti itu? Apa bisa mengendalikan polusi yang sudah sedemikian parah di kota ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang kedua yang mungkin terlintas juga, "Kapan ya Indonesia bisa jadi tuan rumah Olimpiade? 10 tahun lagi? 20 tahun lagi? Atau 100 tahun lagi saat semua negara sudah men-jajal dan meraup keuntungan dengan menjadi tuan rumah Olimpiade, dan sudah tidak ada alternatif negara lain, barulah kita bisa menjadi tuan rumah Olimpiade. Well, nobody knows...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kembali ke laptop, apakah Beijing melakukan ini semua hanya demi Olimpiade? Aku yakin tidak! Justru Olimpiade ini hanyalah sebuah media unjuk gigi. Pada akhirnya kekaguman orang akan Beijing pada khususnya dan China pada umumnya akan berdampak sangat positif pada perkembangan ekonomi mereka. Perkembangan ini dipicu oleh semakin percayanya investor untuk berinvestasi di Negeri Panda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, two thumbs up to you, Beijing!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-6735441650350511930?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/6735441650350511930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=6735441650350511930' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/6735441650350511930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/6735441650350511930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/08/demi-olimpiade.html' title='Demi Olimpiade?'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_gQxkMoKdN4U/SKqYBL5fiuI/AAAAAAAAABQ/zu6sg3Busbw/s72-c/Beijing-Olympic-2008.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-8355281536826227026</id><published>2008-07-13T08:27:00.001-07:00</published><updated>2008-07-15T07:24:30.790-07:00</updated><title type='text'>Instant Generation</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SHxc381yeYI/AAAAAAAAABI/ME75RntOymw/s1600-h/instant.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223151784137226626" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SHxc381yeYI/AAAAAAAAABI/ME75RntOymw/s320/instant.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Istilah generasi instan pasti sudah sering kita dengar baik di media massa maupun di percakapan sehari-hari. Seringkali saat membicarakan tentang generasi instan, yang muncul adalah keluhan bahwa generasi sekarang kebanyakan adalah anak-anak manja yang kurang punya daya juang dan maunya segala sesuatu serba instan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pada saat aku kuliah tentang Marketing Management, salah satu kalimat yang sangat nyantol di benakku adalah pada saat belajar tentang customer value. Dosenku mengatakan bahwa 2 value yang paling dianggap berharga dan penting oleh 'global customer' (customer-customer jaman sekarang) adalah SPEED dan CONVENIENCE. Aku sepenuhnya setuju dengan pernyataan itu walaupun sampai sekarang aku tidak tau apakah itu adalah pernyataan pribadi dosenku atau pernyataan seorang ahli yang didukung data dan fakta. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Customer saat ini menginginkan produk dan layanan yang serba cepat dan nyaman untuknya. Produsen yang menawarkan kedua value tersebut dengan lebih tinggi, dialah yang akan mendapatkan favor dari customer dan akhirnya bisa memenangi persaingan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Contoh layanan yang mengandung unsur speed dan convenience misalnya: delivery service yang sekarang tidak hanya terbatas untuk makanan saja, tapi segala macam barang bisa didelivery. Contoh lain yaitu pemasaran via website. Untuk memesan suatu barang, customer tinggal duduk di depan komputer dan melakukan beberapa kali klik, lalu tidak lama kemudian datanglah pesanannya. Contoh lain lagi dalam hal mengirim pesan, rasanya metode mengirim pesan telah ber-evolusi selama berabad-abad supaya pesan bisa terkirim dengan lebih cepat dan proses pengirimannya nyaman bagi pengirim pesan (lagi-lagi 'speed' dan 'convenience'). Dulu untuk mengirim pesan orang harus berjalan atau naik kuda berjam-jam bahkan berhari-hari untuk bisa sampai ke tujuan pesan tersebut. Atau orang harus menunggu berlama-lama pesannya dikirimkan lewat sungai (message in a bottle) atau dengan perantara burung merpati yang memakan waktu cukup lama dan belum tentu sampai ke orang yang dituju. Saat masuk ke era bisnis, mulai ada post service yang bisa mengirimkan pesan kita dalam waktu paling cepat 1 hari. Di awal era teknologi mulai berkembang yang namanya telegraph dan telephone. Nah, lihatlah sekarang saat teknologi-teknologi canggih mulai merajai dunia ini, kita bisa mengirim pesan dengan berbagai cara yang praktis dan cepat, misalnya dengan mengirimkan SMS, email, dan telephone dengan HP atau VoIP. Semua pesan yang kita sampaikan bisa tersampaikan dalam hitungan detik dan dengan usaha yang sangat minim. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalau kita kaji lagi, sebetulnya yang namanya hal-hal yang bersifat instan itu sangat banyak keuntungannya bagi kita. Lihatlah bisnis telekomunikasi yang berkembang seperti jamur di musim hujan. Semua orang ingin punya alat komunikasi yang namanya Ha Pe. Dalam hal bisnis, untuk meeting dengan kolega di luar negeri, tinggal gunakan saja fasilitas tele-conference yang sangat praktis. Untuk memasarkan produk kita, buat saja website atau iklankan produk kita di internet dan seluruh dunia bisa melihatnya. Jadi sisi positif dari 'instanity' sebetulnya sangat banyak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tapi tidak bisa kita pungkiri bahwa sisi negatif dari hal-hal yang sifatnya instan pun sangat banyak. Hal-hal yang memiliki value speed dan convenience ada di sekitar kita. Misalnya untuk menyalakan TV atau AC kita tinggal pencet remote control, mau kirim pesan tinggal gerakkan jempol dengan effort yang sangat minim, mau minum kopi, teh, atau susu, semuanya disediakan dalam bentuk instan. Mau tidak mau hal-hal tersebut membentuk kebiasaan generasi sekarang menjadi lebih malas bergerak dan terbiasa dengan hal-hal yang 'langsung jadi'. Dengan kebiasaan seperti itu, tidak heran kalau daya juang mereka ('mereka'?? gue juga kalee.. :)) jadi lemah. Mereka jadi gampang menyerah dan kurang tough (ulet) baik dalam belajar, bekerja, maupun kehidupan sehari-hari. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di Indonesia ini, budaya serba instan didukung lagi oleh keluarga-keluarga yang memanjakan anak-anaknya. Dengan dalih bahwa para orang tua tidak ingin anaknya mengalami 'kesusahan' yang mereka alami dulu, maka mereka menyediakan semua fasilitas yang secara tidak langsung malah menjadi 'racun' untuk anaknya. Misalnya adanya suster dan pembantu yang secara full time memang tersedia untuk anak tersebut. Selain itu, tidak seperti di luar negeri dimana dari masa kuliah seorang anak sudah terbiasa hidup mandiri dan terpisah dari orang tuanya. Kalau di Indonesia, bahkan sampai menikah pun seringkali si anak masih dibiayai oleh orang tuanya, dibelikan rumah, mobil, dan semua fasilitas lainnya. Malu-maluinnya lagi, saat si anak sudah mulai bereproduksi dan menghasilkan keturunan, biaya sekolah si cucu itu pun ditanggung oleh kakek atau neneknya. OMG, no wonder di kantor pun banyak orang mengeluhkan bahwa karyawan-karyawan baru mereka manja-manja dan daya juangnya sangat lemah. Bahkan seorang direktur yang aku kenal, pada saat dia merekrut dia lebih suka merekrut orang-orang 'susah' karena orang-orang ini punya daya juang yang tinggi untuk berpindah dari kesusahannya itu menuju kepada kondisi yang lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada ungkapan yang berkata "the enemy of a great life, is a good life". Kalau tidak salah ungkapan ini dari Andrie Wongso. Generasi sekarang yang sudah mengalami enaknya 'good life' dengan fasilitas yang serba instan di sekelilingnya, akhirnya menjadi susah untuk mencapai 'great life' karena instanity itu menciptakan &lt;em&gt;comfort zone&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;contentment&lt;/em&gt; (merasa sudah puas). &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nah, hal ini menjadi tanggung jawab para orang tua untuk bisa mendidik anaknya agar dalam lingkungan yang menyediakan hal-hal yang serba instan, dia tetap bisa menjaga anaknya supaya tidak memiliki mental 'instan' juga. Mungkin kita bisa belajar dari 'si super kaya' Donald Trump yang bisa mendidik anaknya sehingga anaknya tidak manja dan tetap punya daya juang tinggi seperti bapaknya. Salah satu kunci sukses Donald Trump dalam mendidik anaknya yaitu dia tidak pernah mengatakan bahwa segala yang dimiliki olehnya adalah milik anaknya juga. Jadi anak-anaknya itu dikondisikan seolah-olah mereka numpang di rumah orang lain dan meminjam fasilitas dari orang lain. Kemewahan yang dimiliki oleh Mr.Trump itu adalah hasil dari kerja kerasnya sendiri, dan kalau anaknya itu menginginkan kemewahan yang sama menjadi milik mereka, ya mereka harus kerja keras juga. Interesting thought kan... &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-8355281536826227026?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/8355281536826227026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=8355281536826227026' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8355281536826227026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8355281536826227026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/07/instant-generation.html' title='Instant Generation'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SHxc381yeYI/AAAAAAAAABI/ME75RntOymw/s72-c/instant.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-3019650033125490139</id><published>2008-07-12T03:55:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T04:59:04.448-07:00</updated><title type='text'>Strategy Canvas &amp; Value Innovation</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SHicRz95UiI/AAAAAAAAABA/5ADRGtEnOWg/s1600-h/strategy-canvas-southwest.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SHicRz95UiI/AAAAAAAAABA/5ADRGtEnOWg/s400/strategy-canvas-southwest.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222095597757616674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Strategy canvas adalah salah satu tools yang paling populer dari "Blue Ocean Strategy". Apakah sebenarnya strategy canvas itu? Aku membahasakan dengan bahasa sendiri sebagai penggambaran strategy pada sebuah canvas. Yang digambarkan adalah grafik yang memetakan tinggi rendahnya value-value sebuah produk atau layanan di mata customer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya terlihat pada strategy canvas dari Southwest Airlines di samping. Southwest Airlines adalah layanan transportasi yang memadukan kecepatan dari Pesawat dengan kemurahan dan kepraktisan dari  Mobil.  Dengan perpaduan itu  dia menciptakan inovasi baru layanan transportasi yang menciptakan value untuk customer, tapi sekaligus menekan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah dalam membuat strategy canvas adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Tentukan faktor-faktor yang dianggap penting oleh customer &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pesawat, faktor yang dianggap penting oleh customer adalah: harga, makanan selama di pesawat, ruang santai selama menunggu pesawat, pilihan kelas tempat duduk, konektivitas hub, layanan yang ramah, dan kecepatan. Faktor-faktor ini menjadi sumbu x (axis) pada grafik yang akan digambar.&lt;br /&gt;Perlu diingat, faktor-faktor ini harus kita lihat dari sudut pandang customer. Misalnya di pihak perusahaan, kita merasa bahwa coverage area itu sangat penting, nah kita lihat dari sisi customer 'coverage area' untuk mereka berarti mudah dijangkau (accessibility). Contoh lain kita menganggap bahwa tenaga penjual harus memiliki kompetensi yang tinggi, dari sisi customer, yang penting untuk mereka adalah penjual yang reliable (dapat diandalkan dan dapat dipercaya).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Petakan kondisi industri Anda SAAT INI dinilai dari faktor-faktor tersebut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pesawat, industri pesawat secara umum dinilai sebagai berikut dengan skala 1-10:&lt;br /&gt;- harga: 7&lt;br /&gt;- makanan: 5&lt;br /&gt;- ruang santai: 6.5&lt;br /&gt;- pilihan kelas tempat duduk: 7.5&lt;br /&gt;- konektivitas hub: 6.5&lt;br /&gt;- layanan ramah: 5&lt;br /&gt;- kecepatan: 5.5 (karena harus menunggu lama sebelum keberangkatan)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Petakan kondisi industri substitusi Anda saat ini dinilai dari faktor-faktor tersebut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pesawat, salah satu substitusi pesawat adalah mobil. Kita petakan value mobil dari faktor-faktor yang tadi:&lt;br /&gt;- harga: 1&lt;br /&gt;- makanan, ruang santai, pilihan tempat duduk, konektivitas, layanan ramah: 0&lt;br /&gt;- kecepatan: 1&lt;br /&gt;Nah, tapi ada 1 faktor yang menjadi kelebihan dari mobil. Untuk mobil pribadi tentunya bisa berangkat kapan saja kita mau. Untuk mobil umum, frekuensi keberangkatannya lebih sering dibanding dengan pesawat. Jadi ada 1 value tambahan:&lt;br /&gt;- keberangkatan dari kota ke kota secara berkala: 10&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Petakan kondisi YANG DIINGINKAN untuk bisa menciptakan value baru untuk customer, tapi menurunkan cost perusahaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pesawat, kita bisa lihat strategi yang digunakan Southwest Airlines:&lt;br /&gt;- harga: 2 (harga bisa jauh lebih murah karena ada fasilitas-fasilitas yang dikurangi)&lt;br /&gt;- makanan: 1.5 (tidak disediakan makanan, kalau mau makanan harus membeli)&lt;br /&gt;- ruang santai: 1 (tidak diperlukan ruang santai karena keberangkatannya sering, sehingga tidak perlu lama menunggu)&lt;br /&gt;- pilihan tempat duduk: 0 (tempat duduk tidak ditentukan, siapa yang masuk ke pesawat lebih awal bisa memilih sendiri dimana dia akan duduk, sama seperti di bus)&lt;br /&gt;- konektivitas hub: 0 (hanya berangkat dari satu kota ke kota lain, tidak ada transit-transitan)&lt;br /&gt;- layanan ramah: 8 (nah, hal ini yang sangat dihargai customer, tapi membutuhkan biaya yang murah, jadi tingkatkan setinggi mungkin)&lt;br /&gt;- kecepatan: 9.5 (tidak perlu menunggu lama karena jadwal penerbangan sering dan tidak memerlukan prosedur yang berbelit-belit)&lt;br /&gt;- keberangkatan dari kota ke kota secara berkala: 10 (value ini yang tidak ada pada pesawat terbang lain, namun diciptakan secara innovatif oleh Southwest Airlines. Jadi misalnya keberangkatan dari Jakarta ke Semarang tiap 1 jam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa menciptakan grafik strategi baru (seperti pada langkah nomor 4) yang berharga untuk customer dan untuk perusahaan, metode yang digunakan adalah metode ERRC:&lt;br /&gt;- Eliminate: hapuskan faktor yang tidak dianggap penting oleh customer. Misalnya: pilihan tempat duduk &amp;amp; conectivitas hub.&lt;br /&gt;- Reduce: kurangi faktor-faktor yang menghabiskan biaya tinggi untuk perusahaan, tapi kurang dianggap penting oleh customer. Misalnya: makanan &amp;amp; ruang santai.&lt;br /&gt;- Raise: tingkatkan faktor-faktor yang dianggal penting oleh customer, dan sebisa mungkin yang memakan biaya rendah bagi perusahaan. Misalnya: keramahan &amp;amp; kecepatan.&lt;br /&gt;- Create: ciptakan faktor yang baru yang innovatif yang penting bagi customer, tapi belum terpikirkan oleh perusahaan lain di industri sejenis. Misalnya: keberangkatan secara berkala dari kota ke kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada faktor yang di-Eliminate dan Reduce, maka bisa menurunkan biaya untuk perusahaan dan juga menurunkan harga jual bagi customer. Dan, karena ada faktor yang di-Raise, maka akan menambah value untuk customer. Tapi, kunci utamanya adalah di bagian Create, karena ini adalah faktor baru yang ditemukan secara kreatif yang selain menambah value untuk customer, juga menciptakan image innovatif bagi perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang dinamakan sebagai Value Innovation: menambah value, tapi sekaligus menurunkan cost. Ini adalah salah satu aplikasi yang menentang "The Tiranny of OR". Kadang kita memilih salah satu diantara Low Cost ATAU Diferensiasi. Kalau memang bisa dua-duanya kenapa tidak? Jadi konsep Value Innovation adalah memadukan antara Low Cost DAN Diferensiasi. Dan Value Innovation ini yang menjadi jantung dari Blue Ocean Strategy.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-3019650033125490139?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/3019650033125490139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=3019650033125490139' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/3019650033125490139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/3019650033125490139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/07/strategy-canvas-value-innovation.html' title='Strategy Canvas &amp; Value Innovation'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SHicRz95UiI/AAAAAAAAABA/5ADRGtEnOWg/s72-c/strategy-canvas-southwest.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-5794764230479884577</id><published>2008-06-12T02:24:00.000-07:00</published><updated>2008-06-30T08:58:56.709-07:00</updated><title type='text'>Underestimate and Overestimate</title><content type='html'>&lt;div&gt;Don't judge the book by it's cover (jangan menghukum buku dengan koper, hihi...). Kita pasti sering mendengar istilah ini kan? Maksutnya jangan menilai seseorang hanya dari penampakan luarnya saja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tapi kenyataan yang sering terjadi apa? Manusia mempunyai kecenderungan untuk menilai orang lain, dan penilaian yang akan digunakan pasti berdasarkan penampakan luar dan perbuatan yang tampak di depan mata kita. Ya iya lah, emangnya kita paranormal... Tapi sejalan dengan pengenalan kita akan seseorang, dimana kita mulai bisa mengenal sifat aslinya, biasanya penilaian kita akan seseorang akan berubah. Entah itu berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ada beberapa hal yang bisa membuat kita sangat menyukai seseorang, dan hal ini berbeda-beda untuk setiap orang. Kalau kita bicara tentang cewe ni, ada cewe yang suka banget liat cowo ganteng. Ya, sebagai cewe normal aku juga suka liat cowo ganteng. Apalagi menurutku cowo ganteng adalah salah satu satwa eh makhluk langka di dunia ini. Tapi ada cewe yang suka banget sama cowo ganteng ga peduli cowo itu IQ-nya jongkok, kelakuannya amburadul, de el el. Yang penting ganteng titik. Selain itu ada juga cewe yang suka sama cowo yang cerdas. Biasanya keliatan dari saat dia berbicara, seberapa luas wawasan yang dimiliki dan bagaimana cara dia mengkomunikasikan ide-idenya. Hal ini juga bisa bikin cewe terkagum-kagum dan langsung menambahkan sederet nilai plus untuk orang tersebut. Ada juga cowo tipe penakluk wanita. Tipe cowo seperti ini adalah orang yang sadar bahwa makhluk yang namanya wanita itu sangat suka dipuji dan diperhatikan. Dan selain menyadari hal itu, dia menyesuaikan tindakan dan ucapannya untuk mengambil hati para wanita. Dalam hidupku setidaknya ada 3 cowo yang cara bicara dan tindakannya bener-bener bisa bikin cewe klepek-klepek. Jadi, biarpun dia tidak terlalu kenal dekat dengan aku, dan meskipun dia tau aku sudah bersuami, tetap saja cara bicara dan kelakuannya membuatku merasa tersanjung dan melayang-layang ke langit ke-7, dan berharap dalam hati ("I wish my husband was as romantic as him"). Tipe cowo seperti ini juga sangat mempengaruhi penilaian kita terhadap seorang pria.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di sisi lain, ada hal yang bisa membuat seseorang nilainya langsung merosot di mata kita. Ada orang yang sangat menjunjung tinggi penampilan. Penampilan dalam hal ini ada yang hanya menuntut supaya seseorang rapi, ada juga yang menuntut seseorang supaya modis. Orang-orang ini kalau ketemu dengan orang yang tidak rapi, atau tidak modis, nilainya akan jatuh drastis dalam pikirannya. Buatku malah sebaliknya, kalau aku melihat orang, terutama cowo yang terlalu rapi dan terlalu memikirkan penampilan, malah membuatku jadi ilfeel terhadap dia. Ada orang yang tidak suka dengan cowo atau cewe yang merokok. Rasanya tipe ini banyak deh, tadinya kita kagum dengan seseorang, tapi begitu tau dia ternyata merokok, maka penilaian kita langsung berubah terhadap orang itu. Ada juga orang yang tidak suka dengan cewe yang terlalu "vulgar" dan terlalu "berani". Aku beri tanda kutip karena definisi vulgar dan berani akan berbeda-beda untuk setiap orang.  Ada juga orang yang menjunjung tinggi kedisiplinan dan akan sangat sebel ngeliat orang yang tidak disiplin. Selain itu aku juga baru menemukan bahwa seseorang akan langsung jatuh nilainya di mataku kalau dia terlihat "ga niat" atau tidak serius dalam melakukan sesuatu. Ternyata hal itu sangat mempengaruhi penilaianku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dalam hidupku aku sering mengalami di-underestimate atau di-overestimate oleh orang lain. Seperti ceritaku sebelumnya, aku sering di-underestimate karena mukaku dan cara bicaraku terlihat seperti anak-anak. Tapi aku juga sering di-overestimate, misalnya dulu saat aku kuliah aku sering dianggap sebagai orang paling pintar di kelas karena di beberapa pelajaran nilai-nilaiku terlihat sangat menonjol dibanding orang lain. Baru pas acara wisuda mereka kaget karena IP-ku tidak se'sophisticated' yang mereka kira. Aku juga sering di-overestimate di kantor, misalnya oleh bosku yang native speaker bahasa inggris. Karena lidahku mudah menyesuaikan dengan logat-logat bahasa asing, saat interview aku memberikan kesan bahwa bahasa inggrisku jago, jadi sampai saat ini aku sudah beberapa kali diminta untuk menjadi translator di event-event di kantorku. Atau saat bosku berbicara di muka umum dan dia bingung mengatakan sesuatu dalam bahasa Indonesia, dia akan menanyakan padaku, misalnya di tengah speech-nya dia tiba-tiba bertanya: "Herlina, how to say 'take it for granted' in Indonesian?". Meskipun aku beberapa kali gelagapan menjawab pertanyaannya, tapi sampai sekarang dia belum kapok juga memintaku mentranslatekan bahasa Inggrisnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di-underestimate itu memang tidak enak. Tapi saat kita bisa membuktikan bahwa kita lebih dari yang mereka pikirkan, hal tersebut bikin kita jadi bangga. Sebaliknya, di-overestimate itu awalnya terasa menyenangkan, tapi setelah itu, saat ternyata kinerja atau perilaku kita tidak sehebat yang dinilai sebelumnya, mereka jadi kecewa dan kita juga rasanya jadi malu sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya sih, jangan kita terlalu mudah terpengaruh terhadap under-estimate maupun over-estimate orang lain, kecuali hal itu bisa memacu kita untuk menjadi orang yang lebih baik. Di sisi lain dalam posisi kita menilai orang lain, jangan kita terlalu mudah men-judge orang lain hanya dari penampakan luarnya, karena seringkali penampilan luar itu menipu.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-5794764230479884577?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/5794764230479884577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=5794764230479884577' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/5794764230479884577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/5794764230479884577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/06/underestimate-and-overestimate.html' title='Underestimate and Overestimate'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-9105884633382286075</id><published>2008-06-09T02:58:00.000-07:00</published><updated>2008-06-30T09:04:03.370-07:00</updated><title type='text'>Phobia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SGkDyWETGHI/AAAAAAAAAAo/_R1tlfzWl9k/s1600-h/5-28.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SGkDyWETGHI/AAAAAAAAAAo/_R1tlfzWl9k/s320/5-28.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217705806737381490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Phobia sebetulnya adalah bahasa Yunani dari "takut" (fear). Ketakutan adalah perasaan yang timbul dari persepsi bahwa sesuatu itu berbahaya. Ketakutan berfungsi sebagai alat pertahanan yang menempel di otak kita. Pada saat alat pertahanan ini bekerja, timbul response berupa ketegangan, kepanikan, kalap, dan response-response lain yang tidak akan muncul kalau kita dalam kondisi normal. Response itu muncul dari terproduksinya dan dilepaskannya hormon adrenalin dalam tubuh kita, dimana ketakutan itu merupakan salah satu trigger / pemicu terkuat produksi adrenalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa harus dibedakan antara fear dan phobia? Karena phobia sebetulnya adalah ketakutan yang tidak rasional. Seseorang merasa super takut akan suatu hal, sementara buat orang lain hal-hal itu adalah hal yang biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan ketakutan berubah menjadi phobia? Ada 3 penyebab dari phobia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;- Classical conditioning:&lt;/strong&gt; timbulnya phobia karena memang dikondisikan sesuatu itu menakutkan atau membahayakan. Contohnya ada percobaan terhadap seorang anak bernama Albert. Tadinya Albert tidak pernah takut terhadap tikus, bahkan dia pernah mengejar-ngejar tikus, menangkapnya, dan mempermainkan tikus itu. Tapi kemudian psikolog yang melakukan penelitian itu menunjukkan pada Albert sebuah tikus, lalu memukul dengan kuat sebuah pipa logam sehingga timbul bunyi yang kencang. Kejadian itu diulang beberapa kali, yaitu memunculkan tikus sambil membuat suara kencang. Lama kelamaan, walau tanpa terdengar suara apapun, Albert menjadi takut terhadap tikus. Contoh sehari-hari misalnya saat anak kecil tidak mau makan, orang tuanya bertanya pada anak itu: kalau kamu tidak mau makan, nanti biar ditangkep sama Pak Polisi. Akhirnya terbawa terus di pikirannya bahwa yang namanya Polisi itu menakutkan. Ada banyak pengkondisian ini yang dilakukan oleh orang tua dan terjadinya pada masa kecil seseorang dimana pada saat itu otaknya sangat mudah menyerap hal-hal yang terjadi di sekelilingnya dan langsung membuat persepsi dan asumsi sesuai dengan hal-hal yang diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;- Biological causes:&lt;/strong&gt; timbulnya phobia karena terdapat gen yang memang membuat kita takut terhadap suatu hal. Selain gen, ada juga bagian di otak kita yang bernama Amygdala yang berfungsi menghubungkan memori dengan emosi. Dalam keadaan bahaya, tubuh mengirimkan signal kepada Amygdala, dan kemudian Amygdala menjalankan fungsinya menyimpan ketakutan yang berasosiasi dengan suatu object atau situasi tertentu. Jadi saat object atau situasi tersebut muncul, maka emosi kita berupa ketakutan akan muncul pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis phobia, diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Social Phobias &amp;amp; Agoraphobia: &lt;/strong&gt;Social phobias atau seringkali disebut dengan Social Anxiety Disorder, adalah ketakutan bersosialisasi dengan orang lain. Orang yang mengalami social phobia merasa tidak nyaman saat bertemu atau berkumpul dengan orang lain karena takut dipermalukan, dihina, atau dipandang rendah oleh orang lain. Rasa takutnya ini begitu kuat sehingga mengganggu dan membuatnya tertekan saat akan bertemu dengan orang lain. Rasa tertekan ini bahkan bisa dirasakan beberapa hari sebelum hari H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya: aku punya seorang keponakan yang kalau berada di sekitar orang-orang yang sudah dikenalnya dengan dekat, dia akan menjadi seorang yang sangat terlihat cerewet dan berani. Tapi, saat kita mau berkunjung ke rumah orang yang belum dikenalnya, dia pasti tidak mau masuk ke rumah itu. Contoh extrim lagi, saat dia main mandi bola begitu ada orang lain yang masuk ke ruang mandi bola, dia akan langsung keluar dari ruang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Agoraphobia adalah istilah untuk ketakutan akan hal-hal yang sifatnya asing atau menakutkan bagi yang bersangkutan, bisa jadi suatu situasi atau tempat. Contoh agoraphobia misalnya: lygophobia (ketakutan akan tempat gelap) dan eicophobia (takut keluar dari rumah). Contoh kejadiannya: Kampung halamanku adalah tempat indah yang ada di dekat 2 gunung berapi. Begitu terjadi kebakaran gunung, akan terlihat jelas dari rumahku, dan aku menjadi sangat takut kalau gunung itu akan meletus dan meluncurkan lahar panas yang akan mengejar-ngejarku. Artinya aku ketakutan terhadap sebuah situasi, yaitu kebakaran gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Specific Phobia: &lt;/strong&gt;yaitu phobia terhadap hal-hal tertentu yang spesifik, misalnya: altophobia (takut ketinggian), siderodromophobia (takut akan kereta api), potamophobia (takut terhadap air yang mengalir), cynophobia (takut terhadap anjing atau rabies), batrachophobia (takut terhadap kodok). Kalau aku sendiri mengalami kecoaphobia (takut sama kecoak!:))&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana cara mengatasi phobia? Ada 2 cara untuk mengatasi phobia:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Menghindari hal-hal yang membuat phobia. Misalnya kalau takut ketinggian ya hindarilah ketinggian, misalnya hindari bekerja di gedung bertingkat, khususnya di lantai-lantai atasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Cara yang kedua yaitu sengaja terus meng-expose diri dengan hal-hal yang membuat phobia, tentu saja sambil melatih diri dan mengubah cara berpikir supaya tidak lagi takut terhadap hal-hal tersebut. Tereapi untuk hal ini disebut Cognitive Behavioral Therapy. Orang yang mengikuti terapi ini akan selalu dicheck kelakuan-kelakuannya yang bersifat irasional, pikirannya juga selalu dimonitor. Biasanya terapi dilakukan dengan meng-expose secara gradual dengan hal yang ditakuti. Misalnya takut pada anjing. Dia mula-mula akan diminta untuk menonton di TV tentang anjing-anjing yang baik, yang bisa membantu orang cacat, yang sifatnya setia, yang cerdas, dll. Seterusnya diminta melihat secara langsung anjing tapi dari kejauhan, tentu saja dipilih anjing yang baik dan sudah terlatih. Setelah itu baru dipertemukan dengan anjing kecil yang kalem dan jinak. Lalu tahap selanjutnya diminta menyentuh, dan seterusnya sampai betul-betul merasa bahwa anjing itu makhluk yang menyenangkan dan bukan menakutkan. Namun sebelumnya, akan lebih baik jika orang itu bisa menemukan kenapa dia takut pada anjing, kemudian dia bisa menyadari bahwa hal itu menimbulkan dampak buruk dalam hidupnya, dan dia perlu menerima penyebab-penyebab itu dengan lapang dada. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk phobia-phobia kecil bisa diatasi dengan 3 cara sederhana: latihan relaksasi (bisa dengan meditasi, mengatur pernafasan, relaksasi di air, spa, dll), obat-obatan untuk mengendurkan syaraf, dan sebuah group yang saling mensupport. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, jangan mau kalah dengan phobia!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-9105884633382286075?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/9105884633382286075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=9105884633382286075' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/9105884633382286075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/9105884633382286075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/06/phobia.html' title='Phobia'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SGkDyWETGHI/AAAAAAAAAAo/_R1tlfzWl9k/s72-c/5-28.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-9126144402589287634</id><published>2008-06-08T20:33:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T05:23:50.769-07:00</updated><title type='text'>Confidence Manual</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SGzExOCu-1I/AAAAAAAAAAw/1SxMcj4MYDc/s1600-h/Confident2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SGzExOCu-1I/AAAAAAAAAAw/1SxMcj4MYDc/s320/Confident2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218762418077760338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada saat aku mendesain materi Effective Communication, aku menemukan materi tentang self confidence di beberapa website. Ada beberapa hal menarik yang akan aku sharingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa perbedaan antara orang yang confidencenya tinggi dan rendah:&lt;br /&gt;1. Orang yang confidencenya tinggi akan melakukan hal yang dianggapnya benar, meskipun orang lain berbeda dengannya, bahkan menghina atau mengkritik. Sedangkan orang yang confidencenya rendah akan cenderung melakukan hal-hal yang dirasa menyenangkan orang lain (memiliki mental ABS atau asal bapak senang).&lt;br /&gt;2. Orang yang confidencenya tinggi mau mengambil risiko dan melakukan lebih dari yang diminta (go extra mile) untuk mendapatkan hal yang lebih baik dalam hidupnya. Sedangkan orang yang confidencenya rendah biasanya lebih senang tinggal di comfort zone-nya, takut gagal, dan takut mengambil risiko.&lt;br /&gt;3. Orang yang confidencenya tinggi mau mengakui kesalahannya dan mau belajar dari kesalahan. Yes, aku setuju banget sama hal ini. Orang yang tidak mengakui kesalahannya ga beda jauh sama orang yang berbohong karena dia tidak berani bertanggung jawab atas hal yang diperbuatnya, dan terlalu angkuh untuk memperbaiki kesalahannya, sehingga orang semacam ini tidak pernah improve dalam hidupnya.&lt;br /&gt;4.  Orang yang confidencenya tinggi akan berusaha "menjual diri" secara professional dan etis, sedangkan orang yang confidencenya rendah hanya menunggu sampai ada orang yang menghargai prestasinya.&lt;br /&gt;5. Orang yang confidencenya tinggi akan menerima pujian dengan cara yang bijaksana: "Saya memang sudah berusaha keras untuk hal ini, terima kasih Anda menghargainya." Sedangkan orang yang confidencenya rendah akan menolak pujian seperti ini: "Ah, itu bukan apa-apa kok, semua orang juga bisa melakukannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memiliki confidence yang tinggi, selain perlu untuk memiliki mentalitas dan behavior-behavior di atas, ada beberapa tips untuk &lt;em&gt;gesture &lt;/em&gt;(bahasa tubuh) dan &lt;em&gt;attitude&lt;/em&gt; yang perlu dimiliki untuk meningkatkan image sehingga confidence kita pun bertambah.&lt;br /&gt;1. Berdiri dan duduk dengan tegak. Pada saat duduk, usahakan tulang belakang lurus, tidak bongkok, tidak terlalu tegak, tidak miring kiri atau kanan. Posisi duduk yang ergonomis, selain bisa meningkatkan image, bisa menghindarkan kita dari kelainan-kelainan fisik seperti terjepitnya urat, kelainan tulang belakang, dan juga bisa memperlancar peredaran darah ke otak sehingga meningkatkan kinerja.&lt;br /&gt;Begitu pula pada saat berdiri. Berdirilah dengan kedua kaki yang lurus dan tegak. Jika salah satu kaki tidak tegak, maka akan menimbulkan kesan malas-malasan, sedangkan jika badan bongkok akan menimbulkan kesan tidak percaya diri.&lt;br /&gt;2. Berjalan dengan cepat. Ternyata berjalan cepat bisa meningkatkan image seseorang karena dia lebih terlihat aktif dan dinamis dibandingkan orang yang berjalan pelan-pelan atau klemar-klemer. Tapi gaya berjalan juga sangat mempengaruhi. Usahakan berjalan lurus dan tegap. Ada gaya jalan yang kakinya melebar kiri kanan mencerminkan orang yang cuek. Ada juga gaya jalan yang seperti kingkong mencerminkan orang yang selebor dan seenaknya.&lt;br /&gt;3. Berjabat tangan dengan erat. Jabatan tangan yang erat dan mantap mencerminkan ketegasan seseorang.&lt;br /&gt;4. Kepala selalu diletakkan di tempatnya. Maksutnya kepala jangan menunduk atau leher membungkuk saat memberi salam ataupun saat berbicara, karena memberikan kesan kita lebih rendah dibanding orang yang kita ajak bicara.&lt;br /&gt;5. Gerakan tangan diatur. Tangan yang menutup, misalnya melipat tangan, atau tangan dikatupkan seperti orang sembayang mencerminkan orang yang menutup dirinya, bosan, atau tidak tertarik. Gerakan tangan juga perlu dikontrol agar tidak annoying bagi orang yang melihatnya.&lt;br /&gt;6. Berbicara dengan kecepatan yang perlahan namun dengan tegas. Ada orang-orang yang memang tukang ngomong dan berbicara sudah seperti bernafas. Buat orang-orang seperti ini, tidak masalah untuk berbicara dengan cepat, karena kecepatan dari otak ke mulut sudah super speed. Tapi untuk yang perlu waktu untuk berpikir, masih kurang PD, dan masih kurang paham dengan topik pembicaraan, sebaiknya berbicara perlahan sehingga otak masih sempat berpikir, lidah tidak terbelit-belit, dan tidak sering menyebutkan pause filler (seperti: eeeee, apa namanya, yah, okay, dsb).&lt;br /&gt;Berbicara dengan nada rendah juga bisa membantu kita untuk meningkatkan image, karena terkesan lebih dewasa dan lebih matang.&lt;br /&gt;7. Jangan lupa selalu lakukan &lt;em&gt;eye contact&lt;/em&gt;. Orang yang tidak memandang lawan bicaranya, biasanya adalah orang yang tidak PD, berbohong, atau tidak memperhatikan (o ya, atau sedang jatuh cinta pada lawan bicaranya dan takut ketahuan, hihi...)&lt;br /&gt;8. Selalu berpikir positif. Jangan lupa "&lt;em&gt;law of attraction&lt;/em&gt;". Kalau kita berpikir bahwa si A jahat, maka si A betul-betul akan bersikap jahat sehingga merugikan kita. Tapi kalau kita berpikir bahwa si A baik, maka tindakan kita akan berbeda sehingga si A pun akan menunjukkan sikap baiknya pada kita, dan akibatnya menguntungkan kita sendiri.&lt;br /&gt;9. Memiliki "can do" attitude. Pada saat kita dihadapkan pada suatu challenge, jangan terlalu mudah mengatakan "tidak bisa". Atau dengan kata lain kita harus berpikir bahwa &lt;em&gt;imposible is nothing&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tips-tips di atas, kita perlu tahu bahwa meningkatkan kepercayaan diri adalah suatu proses. Proses yang melibatkan kekecewaan, malu, nyaris putus asa dan ingin lari dari kenyataan, dan series of kegagalan-kegagalan. Hal-hal tersebut kita alami karena kita menerima challange sebagai ujian untuk kita bisa naik kelas. Pada proses tersebut kita bisa nangis darah dan hujan keringat, tapi akhirnya puas dengan hasilnya. Bisa juga berakhir dengan kegagalan, tapi kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita buat. Jadi intinya bukan hasil akhirnya, tapi keberanian kita mengambil challenge / ujian-ujian itu, dan kemampuan kita untuk menarik pelajaran (lesson learned) dari peristiwa yang terjadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-9126144402589287634?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/9126144402589287634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=9126144402589287634' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/9126144402589287634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/9126144402589287634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/06/confidence-manual.html' title='Confidence Manual'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SGzExOCu-1I/AAAAAAAAAAw/1SxMcj4MYDc/s72-c/Confident2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-8714565242318392019</id><published>2008-05-30T07:11:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T07:25:37.776-07:00</updated><title type='text'>Change Your Question Change Your Life</title><content type='html'>Salah satu teknik pemecahan masalah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;problem solving&lt;/span&gt;) yang relatif sederhana tapi ampuh adalah dengan mengajukan pertanyaan memakai 5W+1H, yaitu Why, What, Where, When, Who dan How. Dengan lima kata tanya ini maka kita akan berusaha menyelidiki atau memecahkan suatu masalah secara menyeluruh dari segala aspek. Ada juga cara yang lebih ampuh yaitu dengan teknik 5W (Five Why's) yaitu dengan bertanya lima kali why secara bertingkat mengapa suatu peristiwa terjadi, sehingga akan ditemukan alasan utama atau penyebab dasar (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;root cause&lt;/span&gt;) terjadinya sesuatu (bukan hanya sekedar symptom atau gejala).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua teknik bertanya ini dipakai oleh para manajer, sejarawan, peneliti, ilmuwan atau siapapun untuk memecahkan berbagai persoalan dan terbukti cukup efektif untuk menemukan solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam pengembangan pribadi, agar hidup kita bertumbuh, semakin berkualitas, dan memiliki tanggungjawab, maka kita perlu memilih pertanyaan-pertanyaan yang tepat, khususnya pada diri sendiri (self talk) dan juga pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita perhatikan beberapa contoh pertanyaan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa anak buahku susah diatur ?"&lt;br /&gt;"Mengapa hal ini terjadi padaku ?"&lt;br /&gt;"Mengapa susah sekali menjual produk ini ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan diatas akan membuat kita merasa tidak baik (feel bad), tak berdaya dan seolah-olah memposisikan diri kita sebagai korban keadaan. Pertanyaan-pertanyaan ini memiliki 'aura' negatif yang pada gilirannya akan menghadirkan sikap negatif pula buat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya mari kita ucapkan beberapa pertanyaan yang lain di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan harga produk kita bisa lebih bersaing ?"&lt;br /&gt;"Kapan saya dapat menemukan orang-orang yang berkualitas ?"&lt;br /&gt;"Kapan ia dapat lebih menghargai posisiku ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan ini juga tak lebih baik karena akan memberikan kesan seolah-olah kita hanya bisa menunggu, menunda atau pasrah pada keadaan. Walaupun saya yakin Anda tidak bermaksud untuk menunggu atau menunda, tapi itulah yang kita tangkap dari pertanyaan-pertanya an ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mari kita simak satu jenis pertanyaan lagi berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang menyebabkan masalah ini ?"&lt;br /&gt;"Siapa yang bisa lebih baik dari saya ?"&lt;br /&gt;"Siapa yang bisa menjelaskan visi perusahaan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, mari kita rasakan. Tanpa kita sadari bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya kita telah mencari 'kambing hitam', tidak mau introspeksi dan melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa arti ini semua ?" Kita perlu hati-hati dalam membuat pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang salah akan membuat kita merasa tak berdaya, pesimis, pasrah pada keadaan, semakin lari dari tanggungjawab dan menyalahkan orang lain, yang pada akhirnya akan membuat kita semakin jauh dari kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian marilah kita berpaling kepada pertanyaan-pertanyaan berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaiki situasi ?"&lt;br /&gt;"Bagaimanakah caranya agar penjualan saya bulan ini bisa meningkat 10% ?"&lt;br /&gt;"Apa benefit tambahan yang bisa saya tawarkan kepada customer ?"&lt;br /&gt;"Bagaimana caranya agar saya lebih kreatif ?"&lt;br /&gt;"Apa yang bisa saya kerjakan agar team ini menang ?"&lt;br /&gt;"Bagaimana caranya agar prestasi saya bisa lebih baik ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, gimana rasanya? Aku yakin dengan kata "Apa" dan "Bagaimana", kita akan merasa lebih enak (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;feel good&lt;/span&gt;), lebih berdaya, dan lebih bertanggungjawab dibanding tiga jenis pertanyaan sebelumnya yang menggunakan kata "Mengapa", "Kapan" dan "Siapa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John G. Miller dalam bukunya "The Question Behind The Question", memberikan tips agar pertanyaan-pertanyaan kita lebih berbobot sehingga bisa membuat kita bertumbuh, lebih bertanggungjawab dan mampu mengubah hidup kita ke arah lebih baik. Inilah tipsnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.. Mulai pertanyaan dengan "Apa" atau "Bagaimana", bukan "Mengapa", "Kapan" atau "Siapa".&lt;br /&gt;b.. Pertanyaan diusahakan mengandung kata "Saya", bukan "Mereka", "Kamu" atau "Kami"&lt;br /&gt;c.. Berfokus kepada tindakan, misalnya mengandung kata-kata "melakukan", "mencapai", "membuat" atau yang sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips diatas bukan berarti kita tidak boleh membuat pertanyaan dengan memakai kata-kata "Mengapa", "Kapan" atau "Siapa". Tentu saja boleh-boleh saja menggunakan ketiga kata itu untuk menggali gagasan, melakukan analisis, memecahkan masalah atau melakukan tindak lanjut. Tapi untuk melakukan perubahan dan tindakan yang positif, maka yang terbaik adalah memulai dengan "Apa" atau "Bagaimana", memakai kata ganti orang pertama ("Saya") dan action oriented.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mulai saat ini kita perlu mengubah pertanyaan-pertanyaan kita dengan memakai formula diatas. Dengan mengubah pertanyaan, maka hidup kita akan berubah. Wish You Luck.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-8714565242318392019?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/8714565242318392019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=8714565242318392019' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8714565242318392019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8714565242318392019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/05/change-your-question-change-your-life.html' title='Change Your Question Change Your Life'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-8645243682149290031</id><published>2008-05-29T18:25:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T19:27:49.091-07:00</updated><title type='text'>Words of Wisdom 1</title><content type='html'>Berikut ini akan aku sampaikan kata-kata bijak, ungkapan-ungkapan, temuan-temuan yang sifatnya inspiratif yang aku dapat selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seseorang menikah dengan orang yang cantik, lama-lama kecantikannya pasti akan pudar (abis tiap hari liat sih, jadi keliatannya ya biasa aja gitu). Tapi kalau seseorang menikah dengan orang jelek, lama-lama kejelekannya akan pudar juga. (Bp. Tan Kian Meng, PT Tripolyta Indonesia, Tbk.)&lt;br /&gt;So friends, yang mana yang kamu pilih? ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sudah masuk pada sebuah pernikahan, mencintai seseorang adalah sebuah KEPUTUSAN, dan bukan PERASAAN. (Pdt. Daniel, GBI Bandung)&lt;br /&gt;Aku setuju banget akan kata-kata ini. Jadi, setelah menikah kita tidak ada alasan untuk bilang sudah tidak cinta lagi sama pasangan kita. Wong kita sudah memutuskan untuk mencintai dia kok. Jadi apapun kondisinya dan bagaimanapun pasangan kita berubah atau kelihatan borok-boroknya, tetap kita sudah MEMUTUSKAN untuk mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita punya anak laki-laki, jangan sampai kita memberikan materi berlebih-lebihan (dalam hal ini bisa diartikan duit), karena dia bisa ‘macem-macem’ dengan materi itu. Tapi, kalau kita punya anak perempuan, jangan sampai kita kurang memberikan materi kepada dia, karena kalau dia merasa kekurangan, dia bisa ‘macem-macem’ di luar sana. (Bp. Rudi Terian, GM Marketing Auto 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak perempuan biasanya memiliki sifat dan diperlakukan sama dengan apa yang terjadi pada ibunya. Misalnya ibunya MBA (married by accident atau DP duluan), biasanya anaknya akan MBA juga. Kalau ibunya diperlakukan semena-mena oleh ayahnya, biasanya anaknya juga mengalami hal yang serupa. Tapi hal ini tidak berlaku untuk anak laki-laki, biasanya anak laki-laki tidak memiliki sifat atau mengalami kejadian yang serupa dengan Bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa mengidentifikasi apakah seorang gadis itu feminine atau tomboy, dengan cara pura-pura bertanya pada dia: “Eh, kuku kamu kotor deh…” Nah, seorang feminine akan membentangkan kukunya (kaya kalo orang abis pake kutek itu lho…), sedangkan seorang tomboy akan mengepalkan tangannya dan membalikkannya untuk melihat kukunya. (Indra &amp;amp; Fira, Astra International)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci sukses yang utama adalah memiliki visi dan memiliki road map yang jelas untuk mencapai visi tersebut, selain itu kita harus memiliki attitude NO EXCUSE untuk mengarahkan hidup kita mencapai visi itu. (TP Rachmat, Astra International)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kain baru ditambalkan ke baju tua, baju itu akan robek. Kalau anggur baru dimasukkan ke kantong kulit tua, kantong itu akan koyak. (Alkitab, Matius 9:16-17)&lt;br /&gt;Aku tadinya bingung membaca ayat ini, karena aku belum pernah menambal baju atau menuang anggur ke kantong kulit. Tapi ada hal sehari-hari yang membuat aku jadi mengerti tentang ayat ini, yaitu saat mengecat tembok tapi cat lamanya tidak dikerok dulu. Maka, tidak lama kemudian cat baru itu akan ngelotok alias mengelupas dengan sangat tidak indahnya. Insightnya adalah kita tidak bisa setengah-setengah kalau mau menerapkan paradigma baru, kita perlu membuang dulu paradigma lama kita sepenuhnya, baru paradigma baru itu bisa bekerja dengan sempurna.&lt;br /&gt;Itu baru sebagian hal-hal insightful yang aku ingat, makanya aku memberikan judul Words of Wisdom 1, semoga aku ingat hal-hal insightful lainnya untuk dilanjutkan ke Words of Wisdom 2. Kalau ada yang mau nambahin hal-hal bermakna yang ditemui selama hidupnya, feel free to give your comment ya…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-8645243682149290031?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/8645243682149290031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=8645243682149290031' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8645243682149290031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8645243682149290031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/05/words-of-wisdom.html' title='Words of Wisdom 1'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-7544523618828062287</id><published>2008-05-19T01:18:00.001-07:00</published><updated>2008-05-19T03:15:38.046-07:00</updated><title type='text'>Emphatic Communication</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SDE61fhmHiI/AAAAAAAAAAg/XSEhmiqRkKA/s1600-h/Picture1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202003735259520546" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SDE61fhmHiI/AAAAAAAAAAg/XSEhmiqRkKA/s320/Picture1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bagi Anda yang pernah belajar 7 Habit of Highly Effective People pasti pernah melihat gambar ini. Gambar ini adalah klasifikasi mendengarkan. Cara-cara orang mendengarkan dibagi menjadi 5 level. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Level yang pertama adalah Neglecting atau mengabaikan. Ini adalah level terendah dalam klasifikasi mendengarkan yang artinya orang itu terlihat sama sekali tidak mau mendengarkan kita. Misalnya memandang ke arah lain, sambil sms-an atau main-mainin ha pe, atau tiba-tiba menyelimurkan (hehe.. bahasa jawa nih) ke hal-hal lain. Misalnya kita lagi asik-asiknya bercerita tentang interview kerjaan yang kita barusan lalui, terus di tengah-tengah kita cerita tiba-tiba lawan bicara kita motong: "Eh, ada restoran baru nih, kayanya enak lho..." Errmmm... gondok kan digituin?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Level yang kedua adalah Pretending atau berpura-pura mendengarkan. Biasanya kita pura-pura mendengarkan karena meskipun kita tidak suka pada topik pembicaraannya, tapi kita terpaksa mendengarkan karena ada rasa tidak enak pada lawan bicara kita. Misalnya lawan bicara kita adalah bos kita, orang tua kita, atau orang-orang lain yang kita segani maka kita terpaksa pura-pura mendengarkan walaupun dalam hati kita ingin pembicaraan ini segera berakhir. Atau bisa juga hal ini terjadi karena topiknya ini sama sekali tidak ada kegunaannya untuk kita (What's In It For Me=0), jadi kita malas untuk mendengarkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Level yang ketiga adalah Selective atau hanya hal-hal tertentu saja yang mau didengarkan, sementara hal-hal yang tidak disukai tidak mau didengarkan. Orang-orang yang melakukan selective listening ini akan menanggapi dengan semangat hal-hal yang disukainya, tapi akan mengabaikan atau hanya pura-pura mendengarkan hal-hal yang tidak disukainya. Rasanya sebagian besar orang secara disadari atau tidak melakukan praktek selective listening ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Level yang keempat adalah Sympatic atau mendengarkan dengan penuh perhatian. Mendengarkan secara simpatik rasanya sudah cukup baik untuk dipraktekkan. Tapi saat kita benar-benar ingin didengarkan, kita akan merasa bahwa didengar secara simpatik saja tidak cukup. Kita perlu yang namanya didengarkan secara Empatik. Orang yang mendengar secara simpatik, meskipun mendengar dengan penuh perhatian, tapi mengartikan pembicaraan menggunakan sudut pandang sendiri. Sedangkan orang yang mendengar secara empatik menggunakan sudut pandang orang yang diajak bicara. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Contoh yang sering digunakan adalah contoh seorang pasien yang datang ke Dokter Mata.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pasien: Dokter, mata saya kabur ni kalo buat liat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dokter: Oooooh, ni pake kaca mata saya aja. Saya sudah 10 tahun pake kaca mata ini dan kelihatan jelaaassss banget!&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kalo kita baca cerita ini, kita bilang dokter itu dodol banget ya. Ga mungkin ada kejadian seperti itu dan ga mungkin kita melakukan hal seperti itu. Tapi kenyataannya lain, saat kita mendengarkan orang lain kita cenderung memakai sudut pandang kita sendiri. Penelitian mengatakan bahwa: "Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah untuk didengarkan, tapi manusia cenderung untuk menjawab, bukan mendengarkan." Jadi kita cenderung berusaha menjawab dan mengomentari orang dengan pendapat atau pengalaman kita sendiri. Hal itulah yang dinamakan otobiografik respon. Orang yang melakukan otobiografik respon akan merespon atau mengomentari orang lain dengan: menasihati, menyelidiki, menafsirkan, atau menilai kata-kata orang lain sesuai pengalamannya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Contoh autobiografik respon seperti ini:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Si A: Gila, tadi macet banget di Jalan Panjang. Banyak banget pohon tumbang, terus tiang listrik juga ada yang roboh. Gue 3 jam ga gerak sama sekali! Padahal gue lagi buru-buru mau ke rumah sakit, nyokap gue dirawat di Graha Medika.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Si B: Ahh, itu mah ga seberapa...Dulu gue malah lebih parah, sampe 12 jam ga gerak sama sekali.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cerita semacam ini pasti pernah kan Anda alami? Saat teman kita bercerita, kita bukannya berusaha ber-empati dengan keadaannya, tapi malah menceritakan pengalaman kita sendiri. Atau orang belum selesai cerita, kita sudah berasumsi dan men-judge sesuai pengalaman yang pernah kita alami, diteruskan dengan memberi nasihat kepada orang tersebut. Taukah Anda bahwa seringkali saat seseorang bercerita, dia hanya butuh DIDENGARKAN titik! Tidak lebih dari itu. Saat kita menasihati atau mengomentari, hal itu bahkan membuat seseorang merasa tidak didengarkan.  &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terus terang berdasarkan pengalamanku, makhluk yang paling tidak empatik dalam mendengarkan adalah pria. Makanya ada buku yang judulnya "Why Men Don't Listen and Women Can't Read Map". Apa memang sudah kodratnya ya, pria itu susah untuk berempati? Dalam hidupku aku ketemu banyak pria yang mendengar secara tidak empatik. Tapi ada juga si pria-pria empatik, misalnya atasan-atasanku saat ini. Mereka adalah orang yang sudah belajar tentang empatik listening dan mempraktekkannya. Contohnya lagi-lagi saat aku menghadapi FX Hadi yang susah menerima pendapat orang lain. Pada saat si Hadi itu berkata bahwa dia sudah membuat outline sesuai kemauan kita, sementara kita merasa outline dia sangat tidak sistematis dan terlalu general, atasanku berkata: "Ya sudah katakan saja mungkin saya yang salah mengkomunikasikan, sehingga dia tidak bisa menangkap dengan baik". Saat itu respekku terhadap atasanku benar-benar semakin bertambah besar. Inilah yang namanya mendengarkan secara empatik. Dia sangat memahami bahwa FX Hadi itu tidak mau disalahkan dan tidak mau menerima masukan, jadi kita dalam berkomunikasi harus merendahkan diri untuk meninggikan mutu. Ada juga seorang laki-laki yang automatically emphatic padaku yaitu papaku. Papaku adalah orang yang karakternya mirip banget sama karakterku, jadi saat aku bercerita padanya dia berpikir dan merasakan sesuatu hampir sama dengan apa yang ada di pikiran dan perasaanku. Jadi, kalau aku bercerita pada dia, pesannya cepet nyampe dan komentar-komentar dia pun betul-betul hal-hal yang ingin kudengar. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Buatku, didengarkan secara empatik adalah hal yang sangat menyenangkan dan mengharukan. Apalagi setelah kita mengetahui teori-teori tentang emphatic listening. Saat orang melakukan sesuatu yang tidak empatik, pikiran kita bisa protes karena tidak setuju dengan caranya itu. Tapi saat seseorang mendengarkan dan berkomunikasi secara empatik, rasakanlah dan nikmatilah betapa emphatic communication itu adalah hal yang sangat berharga dalam kehidupan ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-7544523618828062287?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/7544523618828062287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=7544523618828062287' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/7544523618828062287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/7544523618828062287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/05/emphatic-communication.html' title='Emphatic Communication'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_gQxkMoKdN4U/SDE61fhmHiI/AAAAAAAAAAg/XSEhmiqRkKA/s72-c/Picture1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-8431966338004957898</id><published>2008-05-05T07:08:00.000-07:00</published><updated>2008-05-05T23:18:51.991-07:00</updated><title type='text'>Terlihat Muda vs. Terlihat Tua</title><content type='html'>Ingat iklan A-Mild yang ini:&lt;br /&gt;- Ada seorang anak muda yang mau presentasi, terus seorang bapak-bapak melihat dia bergaya muda dan trendy. Dia yakin bahwa dengan gaya itu pasti si anak muda ini tidak akan dipercaya. So, dia memberikan pada anak muda ini stelan jasnya, kaca matanya, dan mendandani rambutnya jadi klimis ala engkong-engkong taon 40-an. Terus di akhir iklan ada tagline: yang muda, yang nggak dipercaya. Tanya kenapa?&lt;br /&gt;- Atau yang satu ini. Seorang tour leader cewek yang masih muda sedang berada di bus beserta peserta tournya. Dia sedang akan menerangkan tentang apa yang ada di kanan dan kirinya, seperti lazimnya yang dilakukan tour leader. Tapi belum sampai dia mengucapkan sebuah kalimat, semua orang langsung pura-pura tidur. Begitu terus terjadi berkali-kali, sampai akhirnya  dia menyerah dan meminta sopir bus menggantikan dia berbicara  secara lip sync, sedangkan dia sendiri menyetirkan bus itu sambil berbicara. Saat melihat yang tampil di depan adalah seorang bapak-bapak yang sudah beruban, semua orang langsung mau memperhatikan, padahal yang ngomong adalah si cewe muda yang sekarang duduk di kursi sopir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlebihan memang, tapi hebat juga cara A-Mild menangkap fenomena-fenomena yang terjadi di negara ini. Salah satunya ya itu, yang muda dianggap belum berpengalaman, sehingga orang jadi reluctant untuk mendengarkan apalagi menerima ide-ide dari orang muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jadi menurutku terlihat tua itu jauh lebih menguntungkan daripada terlihat muda. Bukankah demikian, teman-teman? Ya, memang di sisi mata uang yang lainnya seorang wanita muda atau seorang pria muda memang jauh lebih enak untuk dipandang dan disentuh. Tapi apa gunanya cuma dilihat tapi tidak didengarkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya hal ini terlintas - dan bahkan terpatri - di benakku karena aku adalah seorang trainer. Hal yang paling dibutuhkan oleh seorang trainer adalah didengarkan oleh para peserta training. Masalahnya, di usiaku yang hampir 28 tahun ini aku memiliki tampang seperti seorang fresh graduate. Itu kalau dilihat saat aku bekerja di kantor, karena saat ini minimal lulusan S1 lah yang akan diterima sebagai trainer. Tapi, kalau dilihat di luaran, misalnya seorang yang sama sekali belum mengenalku lalu melihatku untuk pertama kali, dia akan mengira aku adalah seorang anak SMA, atau mentok-mentok seorang mahasiswa tingkat awal yang sedang menuntut ilmu di sebuah universitas. Poor me....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kasusnya seperti ini. Saat aku baru pertama masuk sebagai trainer baru di perusahaanku ini (I was 27), dan di training-training pertamaku aku di-pairing dengan seorang trainer yang bernama Marina. Pada saat istirahat seorang peserta bertanya pada kami: "Bu Marina sama Mbak Herlina sudah makan belum?" Oh my God, betapa terpukulnya aku saat itu karena Marina itu 4 tahun lebih muda dari aku dan si peserta ini menyebutnya Ibu dan aku dipanggil Mbak!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus yang kedua yang juga membekas untukku adalah saat aku pergi ke Astana Giri Bangun bulan lalu. Pada saat itu kami diantar oleh seorang ibu yang bernama Bu Upik. Saat kami sedang makan durian bersama, tiba-tiba dia beramah-tamah padaku dan menanyakan: "Kuliah di mana, Dik? Eeee, atau masih SMA ya?" Duenggg! Duengggg! Duengggg!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian-kejadian seperti itu bukan cuma satu dua kali terjadi padaku. Bahkan berpuluh-puluh kali aku mendapati orang terkejut-kejut saat mengetahui bahwa aku sudah bersuami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita lihat di negara-negara lain - terutama di negara barat - orang lebih cepat terlihat tua. Misalnya saja kita bandingkan seorang gadis usia 18 tahun di Jakarta dan di Amerika (sorry ya perbandingannya antara kota dan negara).  Gadis Jakarta akan terlihat seperti seorang anak SMP yang masih polos dan kekanak-kanakan, sedangkan gadis Amerika akan terlihat sangat dewasa selayaknya wanita Indonesia umur 30-an. Kalau menurutku penyebabnya adalah gadis Jakarta terbiasa terus dimanja dan bisa terus bergantung pada orang tuanya sampai kapanpun. Sedangkan gadis Amerika sudah harus bisa mandiri di umurnya yang ke-18 itu, dan bahkan sebagian sudah hidup terpisah dari orang tuanya. Dan juga tantangan dan persaingan hidup yang dihadapi di Amerika menurutku jauh lebih besar daripada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku bukan termasuk orang yang malas, meskipun memang aku bukan tipe hardworker sejati. Tingkat stress yang kuhadapi juga bukan termasuk tingkat stress yang di bawah rata-rata. Tapi kenapa tampangku bisa begitu kekanak-kanakan ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau beramai-ramai produk kosmetik dan sejenisnya menawarkan bagaimana supaya orang terlihat awet muda, sekarang aku justru mencari tahu bagaimana supaya terlihat tua. Apakah aku harus membuat wajahku keriput? Itupun bukan hal yang mudah karena tipe mukaku adalah tipe berminyak. Nah, any suggestions friends?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-8431966338004957898?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/8431966338004957898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=8431966338004957898' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8431966338004957898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8431966338004957898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/05/terlihat-muda-vs-terlihat-tua.html' title='Terlihat Muda vs. Terlihat Tua'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-8643725413183016904</id><published>2008-04-18T01:10:00.001-07:00</published><updated>2008-04-18T23:41:02.802-07:00</updated><title type='text'>Say No to FX Hadi</title><content type='html'>&lt;div&gt;Kalau biasa kita denger kata-kata "Say No to Drugs" sekarang aku bilang "Say No to FX Hadi". Artinya aku menyamakan FX Hadi dengan Drugs. Bukan karena dia bikin kita ketagihan, ih amit-amit banget... Tapi karena dia adalah oknum yang berbahaya. Makanya aku rela untuk memperingatkan semua orang, jangan sekali-kali menggunakan dia sebagai consultant atau pembicara di perusahaan Anda.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Seperti sudah kuceritakan pada posting sebelumnya tentang "Hal yang paling kubenci", aku kecewa berat karena FX Hadi yang kupikir adalah seorang pembicara kaliber, ternyata tidak memiliki mental pembelajar. Dia bahkan sangat tidak dewasa dalam menerima masukan-masukan untuk pengembangan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, proses si FX Hadi untuk bisa "diterima" menjadi pembicara di Annual Seminar di kantorku memang proses yang amat sangat panjang dan melelahkan untukku dan terutama untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, di sela-sela kesibukannya itu kita meminta waktunya untuk bisa kita jelaskan mengenai industri bancassurance dan kebutuhan training yang diperlukan oleh para top performer bancassurance. Hal itu menurutku sesuatu yang sangat biasa dilakukan oleh semua perusahaan yang ingin mengundang seorang consultant atau trainer dari luar. Apalagi perusahaanku adalah perusahaan yang sangat menjunjung tinggi pentingnya '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Compliance&lt;/span&gt;' di setiap proses bisnisnya, ya tentunya kita perlu melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;assessment&lt;/span&gt; untuk memastikan bahwa consultant atau trainer yang kita gunakan ini memang layak untuk kita pakai. Tapi di mata FX Hadi, proses ini adalah proses yang tidak biasa dia lalui, biasanya saat sebuah perusahaan mengundang dia sebagai pembicara, ya terserah dia mau ngomong apaan sesuai dengan materi yang dia punya dan pengalaman yang pernah dia lalui. Nah, kasusnya sekarang, sudah dia susah-susah meluangkan waktu untuk diskusi, setelah itu dia mencoba membuatkan outline yang 'menurut dia' sudah sangat sesuai dengan hasil diskusi kami dan sudah paling &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the best&lt;/span&gt; dari dia, menurut kami outline yang dia buat itu masih sangat general, tidak sistematis, dan topiknya pun sangat beragam, tidak fokus, dan tidak jelas objectivenya. Kami berusaha memberikan feedback ke dia, tapi baru 1 kalimat kulontarkan: "Pak, kami merasa outline Bapak masih terlalu generic", eh dia langsung defense dengan nada suara yang sangat tidak enak. Dia bilang itu sudah yang paling the best dari dia, kalau disuruh memperbaiki lagi dia sudah tidak bisa, dan jangan mengharapkan  sesuatu yang spesifik dengan industri anda kalau anda mengundang pembicara dari luar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah mulai tidak respect dengan dia, tapi karena aku tidak bisa menemukan pembicara lain yang memiliki kompetensi sales dan marketing yang kita butuhkan, dan juga bisa mengkomunikasikan ide-idenya dengan menarik, aku terpaksa meneruskan dengan orang bebal ini. Hanya saja pendapatku tentang FX Hadi sudah sangat berubah, memang dia punya bakat untuk jadi sales trainer, tapi dia tidak punya bakat untuk jadi consultant karena dia hanya mau menggunakan apa yang sudah dia miliki, tidak mau dikustomisasi sesuai perusahaan yang dia layani. Dan lagi, meskipun dia punya skill, knowledge, dan experience yang cukup tinggi - kalo istilahnya Tukul: 'flying watch'-nya sudah tinggi. Tapi kalau tidak disertai dengan attitude yang memadai, semuanya menjadi nol besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kedua yang harus dia lalui yaitu mengenai Administrasi. Dalam hal administrasi ini FX Hadi juga terlibat, karena ternyata yang namanya FX Training itu bukan suatu lembaga, tapi  jasa perorangan doang.  Jadi di sana rasanya yang terlibat hanya FX Hadi, seorang tenaga marketing, dan seorang tenaga admin. Puluhan kali aku contact dengan orang marketingnya yang namanya Sandra Tamara (keren ya, namanya... - tapi sayang karakternya sudah terkontaminasi oleh karakter bosnya). Aku berhubungan dengan Sandra untuk arrange waktu ketemuan antara FX Hadi dengan bosku, untuk minta outline dari FX Hadi, untuk memberi masukan topik yang kita inginkan, dan terutama masalah administrasi. Setelah aku berjuang keras meyakinkan atasanku bahwa FX Hadi memiliki kompetensi yang kita perlukan, maka dia memutuskan "Ok, proceed with Hadi". Jadi kita mulai proses administrasinya.&lt;br /&gt;- Dimulai dari dia memberikan pada kita "Confirmation Letter", lalu dia mulai mengejar-ngejar kita untuk menandatangani dan mengembalikan confirmation letter itu atau proses ini akan dibatalkan.&lt;br /&gt;- Lalu setelah confirmation letter selesai, aku meminta dia untuk memberikan invoice sebagai bukti tagihan kepada kita. Ternyata dia tidak biasa menerbitkan invoice, jadi dia mengirimkan padaku kuitansi atau tanda terima pembayaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada due date pembayaran DP, ternyata orang Tax di perusahaanku tidak mau menerima Confirmation Letter atau kuitansi digunakan sebagai invoice. Jadi aku negosiasi sama orang tax bagaimana cara termudah untuk menyelesaikan permasalahan ini karena memang si FX Training itu tidak pernah menerbitkan invoice. Akhirnya setelah negosiasi sekian lama dia bilang "Bikin saja surat yang menyatakan bahwa Confirmation Letter itu akan digunakan sebagai invoice". Ok, deal dengan usulan itu aku sampaikan pada Sandra Tamara. Eh, ternyata '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;like father like daughter&lt;/span&gt;' dia langsung offense dengan usulan itu as if she's already overwhelmed dengan segala proses yang dilalui di perusahaanku. Setelah complain dengan semua proses yang sudah dilalui, dia lalu bilang: "Kalau begini caranya biar saya tanyakan dulu ke Pak Hadi, rasanya beliau belum tentu mau melanjutkan lagi proses ini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks to my boss yang saat itu ber-empati padaku. Dia denger semua proses negosiasiku dengan orang Tax yang dilanjutkan perdebatanku dengan Sandra Tamara. Dia memberiku password teleponnya dan berkata padaku: "Kalau memang dia mau batalkan ya batalkan saja, kita pake Anowar saja" (alternatif pembicara ke-2). Omg, rasanya dia seperti mendukungku dan mengakui bahwa orang seperti FX Hadi ini tidak pantas untuk diperjuangkan, dan sangat tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;worth it&lt;/span&gt; untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;engage&lt;/span&gt; perusahaan kita ini dengan orang serperti FX Hadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian FX Hadi menelponku. Dia bilang: "Mbak Herlina, saya berterima kasih untuk kesempatan yang diberikan pada saya untuk menjadi pembicara di perusahaan Anda. Tapi setelah proses ini, saya merasa tidak cocok dan sebaiknya proses ini dibatalkan saja. Saya tidak menyalahkan Anda karena Anda sudah berusaha untuk menjadi moderator dan organizer yang baik. Tadinya saya pikir AIG adalah perusahaan besar, tapi ternyata perusahaan Anda adalah perusahaan KACANGAN." Duaarrr... duerrr... duoorrrrr..... gubrrraakkkkk!!! Bagai tersambar petir di siang bolong aku mendengar kalimat itu. Dia yang selalu bilang "Salam peduli pelanggan!", sekarang malah menyebutkan calon pelanggannya adalah perusahaan kacangan! Dia melanjutkan lagi, "Masa confirmation letter suru dijadikan invoice? Mana ada invoice yang ditandatangani kedua belah pihak?" Ya semua orang tau hal itu, dodoll! Aku cuma berusaha mempermudah, jadi dia tidak perlu menerbitkan invoice, cukup surat keterangan yang menyatakan Confirmation Letter itu akan digunakan sebagai invoice. Eh, malah dia sewot! Lah, kalo menerbitkan invoice saja tidak pernah, perusahaan apaan tu namanya. Orang kaya gini menyebutkan AIG perusahaan kacangan??? Ngaca dulu dong...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sekali ini aku rasanya pengen jadi 'hero'-nya AIG. Aku ga terima perusahaanku ini dibilang kacangan, karena sistem compliance di perusahaan ini dibuat sedemikian ketat supaya kita bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;make sure&lt;/span&gt; bahwa kita memberikan yang terbaik untuk karyawan dan untuk customer kita. Bisnis asuransi adalah bisnis kepercayaan dan untuk menjaga kepercayaan kita tidak bisa main-main dalam setiap proses bisnis yang kita jalankan. I definitely agree dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku ceritakan ini pada bosku, kita langsung bertolak ke kantor pusat untuk menemui bosnya bosku 'si Indiahe'.. Dia bilang, dengan membatalkan hal ini FX Hadi menyatakan bahwa memang dia tidak siap menjadi pembicara di sini, karena dia tidak memiliki kompetensi yang kita butuhkan. Selain itu beruntunglah kita karena tidak jadi berhubungan dengan seseorang yang mentalnya kekanak-kanakan. Kalau dia mengatakan kita adalah kacangan, dia sendiri tidak lebih dari kulit kacangnya! Hehehe... I always love it when my Indian boss menyatakan suatu analogi. Dia paling jago bikin analogi-analogi seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir dari proses ini aku rasakan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lose-lose solution&lt;/span&gt;, karena dia pasti punya bad experience dengan perusahaanku dan pasti akan menceritakan tentang keburukan perusahaanku kepada orang-orang yang dia temui. Dari sisiku pun demikian, karena aku akan dengan sukarela mengabarkan pada dunia not to use this trainer. Aku tadinya ingin mengklarifikasi lagi supaya image AIG kacangan di benak dia itu bisa hilang, dan aku tidak bertanggung jawab menjadi pencemar nama perusahaanku. Tapi atasanku bilang malamnya dia akan contact FX Hadi. Aku berharap pada pembicaraan malam itu dia bisa membersihkan nama AIG dari segala image buruk yang ada di kepala orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-8643725413183016904?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/8643725413183016904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=8643725413183016904' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8643725413183016904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8643725413183016904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/04/say-no-to-fx-hadi.html' title='Say No to FX Hadi'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-6507532135590247651</id><published>2008-04-17T01:15:00.000-07:00</published><updated>2008-04-18T02:03:37.862-07:00</updated><title type='text'>Fully Loaded Responsibility (2)</title><content type='html'>Saat aku mendengar Serial CD "When Life Gets Tough", aku mendapat masukan baru tentang yang namanya sense of responsibility.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa ciri-ciri dari orang yang tidak punya responsibility.&lt;br /&gt;1. Suka berbohong&lt;br /&gt;Orang yang berbohong adalah orang yang tidak mau menanggung risiko dari kejujuran. Artinya lagi, dia berbohong karena tidak mau bertanggung jawab terhadap apa yang dia sudah perbuat. Contohnya, karena kita tidak mau dimarahin bos akibat telat, kita mending menggunakan alasan 'macet', dibanding minta maaf dan bilang "saya salah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Banyak bicara dan sedikit bekerja&lt;br /&gt;Tipe-tipe NATO (no action talk only) ini yang ternyata banyak kita jumpai baik di dunia pendidikan, dunia kerja, maupun kehidupan sehari-hari. Ngomongnya aja yang banyak, tapi tidak ada wujud nyatanya. Repot dah kalo bekerja sama dengan orang-orang seperti ini, pasti kita jadi repot karena orang-orang ini susah diajak 'bekerja' sama. Mending si kalo orang-orang seperti ini adalah tipe konseptor yang memang ide-idenya briliant tapi males ngerjainnya. Lah, kalo ide ga ada kerja juga ga mau, trus apa untungnya kita kerja sama dengan tipe orang kaya gini? Para NATO'ers ini biasanya penuh dengan excuse yang tujuannya membenarkan diri sendiri. Tapi ga butuh waktu lama untuk merasa jijik terhadap excuse-excuse mereka ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengerjakan suatu hal dengan asal-asalan&lt;br /&gt;Kebalikannya adalah giving the best atau strive for excellence. Orang yang ga bertanggung jawab, boro-boro memenuhi standar yang sudah ditetapkan (asal selesai), standar performance dari orang yang tanpa tanggung jawab ini amat sangat rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan golongan (PMP banget ga sehh?)&lt;br /&gt;Orang yang tidak bertanggung jawab salah satu cirinya adalah egois. Contoh nyata ya pemerintah kita. Mereka mengutamakan kepentingan perut mereka dan kesejahteraan keluarga mereka dengan cara-cara yang sangat tidak etis. Ya, aku si pengennya tidak menghakimi dan tidak mengutuki pemerintah kita, karena memang anggota pemerintahan yang jujur aku yakin masih tetep ada. Tapi itu cuma contoh saja, bahwa orang yang mengutamakan kepentingannya sendiri adalah orang yang tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa karakteristik dari 'tanggung jawab' yang bisa kita ketahui:&lt;br /&gt;- Tanggung jawab itu dimulai dari perkara yang kecil.&lt;br /&gt;Saat kita bisa setia dalam perkara kecil, kita bisa dipercayakan untuk mengambil tanggung jawab pada perkara yang lebih besar. Banyak cerita tentang orang-orang 'besar' yang dulu memulai karirnya dari perkara-perkara kecil, seperti contohnya salah satu penyanyi favoritku, yaitu Sidney Mohede. Dia mulai pelayanannya di gereja cuma gulung-gulung kabel sound system. Tapi dia mengerjakannya dengan memberikan yang terbaik. He became the best tukang gulung kabel in the world :) Now, he already become one of the most well known singers in the indonesian gospel music.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tanggung jawab itu berbuahkan kepercayaan&lt;br /&gt;Semakin besar tanggung jawab kita, semakin besar pula kepercayaan yang diberikan pada kita. Kita tidak dipercaya seseorang karena penampilan fisik kita. Kita dipercayai karena tanggung jawab yang kita tunjukkan. Contohnya: seorang anak tidak akan mempercayai dan menghormati ayahnya hanya karena si ayah adalah 'ayah', seorang yang sudah menitipkan sperm-nya kepada dia. Dia akan percaya pada si ayah kalau ayah itu menunjukkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah yang baik. Contoh lain yaitu produk &amp;amp; layanan dalam negeri. Aku si pengennya membeli produksi dalam negeri supaya negri ini ga defisit melulu. Tapi kok ya memang tidak adanya tanggung jawab itu bikin kita ga bisa percaya, seperti contohnya kasus Adam Air yang barusan ditutup beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, milikilah sense of responsibility terhadap apa yang kita lakukan. Karena kita bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan yang dianugerahkan pada kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-6507532135590247651?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/6507532135590247651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=6507532135590247651' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/6507532135590247651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/6507532135590247651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/04/fully-loaded-responsibility-2.html' title='Fully Loaded Responsibility (2)'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-36030526217923699</id><published>2008-04-14T18:40:00.001-07:00</published><updated>2008-04-18T00:46:44.124-07:00</updated><title type='text'>Fully Loaded Responsibility (1)</title><content type='html'>Hari ini aku mendapatkan sesuatu yang insightful dari Cosmopolitan FM. Topik hari ini adalah bahwa kita bertanggung jawab untuk segala hal yang terjadi pada diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian pertama disebutkan bahwa jika kita menyetir mobil, lalu karena lampu merah menyala kita dengan patuh berhenti sebelum tanda garis di traffic light tersebut. Eh, beberapa detik kemudian ada mobil yang dengan seenak udelnya menabrak kita dari belakang. Nah, apakah itu sepenuhnya tanggung jawab dari orang yang menabrak kita? Jawabannya adalah 'tidak'. Karena kita juga bertanggung jawab bagaimana kita bisa berada di tempat itu. Kita bertanggung jawab karena kita ada di tempat itu berdasarkan keputusan kita. Kita memutuskan untuk keluar dari rumah, menyetir mobil, dan mengambil jalan tersebut. Kita memutuskan untuk berhenti dengan patuhnya di lampu merah tersebut. Berarti kebereadaan kita di situ adalah tanggung jawab kita. Toh orang yang menabrak itu juga tidak berharap bahwa dia akan menabrak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian kedua, kalau kita tidak puas akan sesuatu hal. Kita tidak puas karena harapan kita lebih tinggi dari kenyataan yang kita terima. Nah, salah kita juga kenapa kita punya harapan yang tinggi. Jadi saat kita kecewa pada seseorang atau suatu kejadian, kita juga bertanggung jawab pada kekecewaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian seperti ini juga berlaku dalam tanggung jawab yang lebih besar lagi saat hal ini berhubungan dengan pekerjaan kita dan juga pernikahan kita. Hal-hal yang membuat kita kecewa dengan pekerjaan atau pernikahan itu adalah tanggung jawab kita sendiri. Kalau hal itu berhubungan dengan pekerjaan, berarti kita harus mereview lagi tentang harapan kita dan mengapa harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan yang kita terima. Kalu kita bisa menurunkan harapan atau ekspektasi kita atau kita bisa memperbaiki supaya orang atau keadaan bisa menjadi sesuai ekspektasi kita, maka lakukanlah supaya kita bisa bekerja dengan gembira dan menghasilkan kinerja yang optimal. Namun jika kita tidak bisa melakukan hal itu, ya cari saja pekerjaan yang lain yang bisa memenuhi ekspektasi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi kalau hubungannya dengan pernikahan. Kalau kita kecewa dengan pasangan kita, mau tidak mau kita harus menerima keadaan tersebut. Aku mengibaratkan masuk ke pernikahan itu seperti kita masuk ke pesawat dan terbang bersamanya. Pesawat itu baru landing kalau kita sudah mencapai tujuan bersama. Di atas udara kita tidak bisa memutuskan untuk quit. Dalam hal ini kalau pasangan kita tidak sesuai dengan harapan kita, yang perlu kita lakukan adalah forgive and accept. Ungkapan "forgive and accept" itu buatku bener banget. Kita tidak bisa forgive and forget, karena semakin kita berusaha melupakan sesuatu, semakin kita akan ingat tentang sesuatu itu. Misalnya: "Jangan sekali-sekali ya, pokoknya jangan sekali-sekali kamu memikirkan tentang Gajah yang warnanya pink." Pasti kita malah jadi memikirkan gajah warna pink. Lagi pula kalau itu hubungannya sama pasangan yang kita temui tiap hari, masa kita mau mencoba melupakan dia sementara dia ada di depan kita tiap hari dan belum tentu dia bisa berubah menjadi sesuatu yang kita harapkan. Ga mungkin banget kan... Jadi forgive &amp;amp; accept, itu udah hal yang paling bener untuk kita bisa menghadapi sesuatu atau seseorang dan menerimanya apa adanya dengan gembira dan lapang dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks to Cosmo &amp;amp; anonymous speaker I heard this morning...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-36030526217923699?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/36030526217923699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=36030526217923699' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/36030526217923699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/36030526217923699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/04/fully-loaded-responsibility.html' title='Fully Loaded Responsibility (1)'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-6217845012418840519</id><published>2008-04-09T06:52:00.000-07:00</published><updated>2008-04-10T19:39:16.670-07:00</updated><title type='text'>Hal yang Paling Kubenci</title><content type='html'>Hari ini aku menemukan hal yang paling kubenci dari seseorang. Rupanya menemukan karakter-karakter, kesukaan, kebencian, dkk - yang intinya mengenal diri sendiri - itu benar-benar proses yang panjang ya. Aku menemukan serpihan-serpihan itu satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu jaman aku SMP &amp;amp; SMA ada diary / agenda yang suka di-iderin untuk kita ngisi bio data dan nempelin foto kita di situ. Nah biasanya disitu selain ada nama, alamat, dan tanggal lahir, juga pasti ada juga bagian yang mengungkapkan kesukaan dan ketidaksukaan kita, misalnya hobby, warna favorit, binatang favorit, sampai ke hal yang paling disukai dan paling dibenci. Biasanya hal yang paling dibenci sama kebanyakan orang adalah "dibohongi" atau "menunggu". Aku sendiri lupa hal apa yang dulu kutuliskan di diary orang tentang hal yang paling kubenci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hari ini aku menemukan hal yang paling kubenci. Hal ini baru kutemukan pada saat aku menelpon seorang konsultan atau sales trainer yang akan digunakan pada Annual Seminar untuk para Top Performer di perusahaanku. Dia adalah FX Hadi, seorang sales trainer yang sudah cukup terkenal, yang kalau dia bicara di radio aku bisa terkagum-kagum dengan sales skillnya dan kemampuan komunikasinya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan para pendengar radio yang menelpon ke Smart FM. Karena kekagumanku itu aku berusaha meyakinkan atasanku dan atasannya atasanku supaya mereka mau menggunakan jasanya untuk Annual Seminar tahun ini. Akhirnya mereka setuju dan mereka mem-brief FX Hadi tentang kondisi perusahaan &amp;amp; industri kami, karena FX Hadi sama sekali belum punya pengalaman dan pengetahuan untuk industri bancassurance. Setelah itu FX Hadi mengirimkan outline hal-hal yang akan dia sampaikan pada seminar kami. Terus terang saat melihat outline-nya aku merasa kecewa, kok rasanya semua topik mau dimasukkan, dan lagi cara penyampaiannya tidak sistematis. Aku si masih yakin bahwa FX Hadi bisa menyampaikan dengan menarik dan memberi banyak masukan, tapi atasanku melihat outline itu kan kecewa banget... Setelah aku berdiskusi dengan atasanku, aku menyampaikan tentang pendapat mereka kepada FX Hadi. Tapi guess what, baru aku menyampaikan 1 kalimat: "Pak, atasan saya merasa outline Bapak masih terlalu generic...." Langsung dia berubah intonasinya dan mengoffense kata-kataku dengan kata-kata yang sangat bikin aku ilfil, hoeekkkk... Ternyata selama ini orang yang kukagumi, yang kurekomendasikan dan kubela mati2an di depan atasanku adalah orang yang tidak mau menerima kesalahannya. Orang yang tidak mau menerima kesalahannya adalah orang yang tidak mau belajar. Meskipun dia hobi membaca buku, tapi aku yakin hanya bagian-bagian yang dia sukai saja yang diambil untuk diterapkan. Jadi tidak semua orang yang suka membaca adalah orang yang mau belajar. Orang yang tidak mau belajar adalah orang yang BEBAL. Dan orang tipe seperti inilah yang aku paling tidak sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menemukan ada 2 orang terdekatku yang seperti ini juga. Mereka tidak mau disalahkan oleh orang lain. Salah satunya adalah orang yang pernah menjadi atasanku. Atasanku ini adalah difficult people, orang yang dianggap sulit dan "dibenci" oleh orang 1 departemenku. Tapi berhubung kemampuan adaptasiku yang sangat tinggi, aku berhasil untuk manage my boss dan get his favor. Orang-orang mengagumiku untuk hal ini karena dia adalah tipe orang yang 'hard to please' dan gampang marah. Hampir semua orang di divisi kami pernah dimarahinya. Aku sendiri tidak pernah dimarahi karena kesalahanku dalam pekerjaan, tapi dia baru marah padaku kalau pride-nya tersinggung. Disinilah letak ketidaksukaanku. Begitu dia merasa disalahkan atau direndahkan dia akan langsung berubah mukanya dan suaranya, dan meng-create alasan-alasan yang buatku nol besar karena hanya bertujuan untuk meninggikan pride-nya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tidak mau disalahkan menurutku tidak akan bisa mengubah perilakunya yang buruk. Nah, kalau baru satu kalimat dilontarkan dia sudah offense, pasti orang jadi malas kan untuk memperingatkannya lagi. Tambahlah orang itu berakar dalam kebiasaan2 dan perilaku2 buruknya. Aku mengalami sendiri, baru 1 kalimat yang terlontar yang kuucapkan dengan penuh kelembutan, kalau lawan bicaraku itu sudah merasa disalahkan, dia langsung menggonggong lebih kenceng dari aku. Akhirnya aku yang tadinya mau mengingatkan tentang kesalahan dia malah aku jadi dimarahin. Biasanya orang-orang ini kebanyakan adalah pria, karena pria merasa harus menjaga pride-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter tidak mau disalahkan ini, jika dibiarkan berlarut-larut akan semakin meningkatkan ke-keraskepala-an seseorang. Jadi kalau aku menemukan hal ini pada orang yang sudah tua, terus terang aku akan merasa sulit memasukkan pendapat-pendapatku padanya, dan aku akan "iya iya" aja kalau orang seperti ini berbicara. Pasti butuh effort yang sangat berat untuk memasukkan pandangan baru pada orang seperti ini karena pola pikirnya sudah terbentuk begitu keras dan kaku berdasar kesukaan dan kemauannya sendiri. Jadi, terkadang aku merasa ga worth it berdiskusi dengan orang semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kesimpulannya, karakter yang paling tidak kusukai adalah karakter orang yang tidak mau menerima, mengakui, dan memperbaiki kesalahannya. Karena menurutku orang seperti itu adalah orang BEBAL!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-6217845012418840519?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/6217845012418840519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=6217845012418840519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/6217845012418840519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/6217845012418840519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/04/hal-yang-paling-kubenci.html' title='Hal yang Paling Kubenci'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-2962445786476917455</id><published>2008-04-04T08:14:00.000-07:00</published><updated>2008-04-04T08:16:12.352-07:00</updated><title type='text'>Tiga Macam Ciuman</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Adanya 3 macam ciuman ini sebetulnya sudah aku identifikasi kira-kira 1 tahun yang lalu, saat usia perkawinanku berumur 1 tahun. Saat aku merindukan ciuman-ciuman lain yang pernah aku rasakan sebelum menikah. Psssstttt…. Tulisan ini perlu dikasi label BO (bimbingan orang tua), hehehe…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ciuman yang pertama kunamakan Ciuman Sayang. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Ciuman ini selain mengandung unsur cinta kasih, juga mengandung unsur hormat. Biasanya ciuman ini diberikan pada orang tua, atau dari orang tua ke anak, bisa juga ke mertua, saudara-saudara, atau teman-teman yang cukup dekat dengan kita. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ciuman ini bisa di kening, bisa di pipi, bisa di punggung tangan, dan bisa juga cheek-to-cheek. Dampak dari ciuman ini adalah bisa menimbulkan perasaan hangat di hati kita, dan yang jelas meningkatkan rasa hormat dan syukur kita. Bersyukurlah kalau sekarang kita masih bisa menikmati ciuman sayang ini, karena artinya kita masih memiliki orang-orang yang kita cintai dan hormati, dan kita masih bisa mengekspresikan rasa sayang dan hormat kita kepada mereka. Banyak orang yang tidak bisa merasakan ciuman ini karena mereka sudah kehilangan orang yang mereka cintai. Atau mereka punya orang-orang yang dicintai dan dihormati tapi tidak bisa atau tidak terbiasa untuk mengekspresikan perasaan itu dengan ciuman sayang ini. Ciuman ini, kalau ada kategori Ciuman Sayang yang paling tinggi, maka ciuman ini sifatnya adalah memberi dengan tulus tanpa mengharap balas. Si pencium memberikan rasa sayang dan rasa hormatnya kepada orang yang diberi ciuman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ciuman yang kedua adalah Ciuman Cinta – atau mungkin lebih tepat dinamakan ciuman romantis. Ciuman ini adalah miliknya pasangan yang sedang dimabuk cinta. Mereka memberikan ciuman ini untuk mengekspresikan rasa cintanya kepada pasangannya. Ciuman ini misalnya ciuman ke pipi, bibir, bahu, ataupun tangan. Saat kita mendapatkan ciuman ini, kita merasakan aliran-aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuh, dan dampak dari aliran listrik ini bisa membuat kita berbunga-bunga dan terbayang-bayang sampai berhari-hari. Hihihi...Namun, ciuman-ciuman ini bisa berubah menjadi kategori ciuman ketiga yang nanti akan aku sampaikan, tergantung dari motivasinya. Jadi aku kategorikan ciuman ini sebetulnya berdasarkan motivasi atau tujuan dari si pencium. Beruntunglah mereka yang punya cowo yang romantis, karena pasti cowo-cowo itu rajin menghujaninya dengan Ciuman-ciuman Cinta. Dan kalau kamu masih bisa menikmati Ciuman Cinta saat ini, nikmatilah sebisamu karena mungkin tidak selamanya kamu bisa mendapatkan ciuman itu (eheemmm... curhat ni ceritanya?:p). &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;O ya, ciuman ini menurutku sifatnya saling memberi dan menerima (take &amp;amp; give). Jadi, secara umum ciuman ini tidak setulus Ciuman Sayang, karena masih mengharapkan balasan. Coba kamu mencium bibir orang dan yang dicium diem aja, emang enak? :D&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ciuman yang ketiga adalah Ciuman Nafsu. Nah, yang aku maksut dengan ciuman nafsu ini adalah ciuman yang ditujukan ke bagian-bagian yang memang menimbulkan nafsu, bisa bagian yang terlihat (misalnya leher), tapi terutama di bagian-bagian paling private di tubuh kita. Dampak dari ciuman ini memang awalnya bisa menimbulkan getar-getar listrik seperti Ciuman Cinta, tapi – terutama kalo dilihat dari sudut pandang seorang wanita – pasti tidak selamanya Ciuman Nafsu ini bisa menimbulkan getar-getar yang kita harapkan. &lt;/span&gt;Boro-boro selamanya, biasanya it only lasts for a moment and after that kita bahkan bisa merasa agak-agak apatis terhadap ciuman macam ini. Why? Karena menurutku ciuman ini ada di tahap yang paling rendah dibanding kedua ciuman di atas. Dia ada di tahap yang paling rendah karena motivasi dari ciuman ini adalah motivasi yang paling egois, yaitu untuk kepentingan dan kepuasan diri sendiri. Ini adalah penilaian secara majority terhadap ciuman nafsu, memang ada ciuman-ciuman nafsu yang tidak egois, tapi tunggu saja waktunya sampai kamu bisa merasakan bahwa motivasi itu bisa dengan mudahnya pudar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memang nothing lasts forever, man.. Tapi buat cowo-cowo yang nyadar akan hal ini, pikirkanlah perasaan pasanganmu. Motivasi yang tulus sangat menentukan berarti atau tidaknya tindakanmu bagi orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Have a great kiss everybody…Mmmuuuaaachhh! &lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;:)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-2962445786476917455?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/2962445786476917455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=2962445786476917455' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/2962445786476917455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/2962445786476917455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/04/tiga-macam-ciuman.html' title='Tiga Macam Ciuman'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-4647850290618262716</id><published>2008-04-02T01:28:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T01:42:17.395-07:00</updated><title type='text'>Know How</title><content type='html'>Ini adalah resensi buku "Know How" yang dikarang oleh Ram Charan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali seseorang dipilih menjadi pemimpin hanya berdasarkan pembawaan dan karakteristik pribadi yang dangkal, seperti;&lt;br /&gt;- Daya tarik kecerdasan mentah: "Dia sangat cerdas, tajam, dan sangat analitis. Saya dapat merasakan dia dapat melakukan pekerjaan ini"&lt;br /&gt;- Karakter yang mengesankan dan keterampilan berkomunikasi yang hebat: "Presentasinya luar biasa. Caranya mempresentasikan data dengan program Power Point sangat impresif. Ia berhasil membuat komite terkesan. Camkan perkataanku, dia akan meraih posisi tertinggi."&lt;br /&gt;- Kekuatan visi yang berani: "Betapa hebat gambaran yang ia berikan mengenai arah tujuan kita, yaitu bergerak maju."&lt;br /&gt;- Kesan sebagai pemimpin alami: "Orang-orang di divisi ini sangat menyukainya. Ia pembangkit semangat dan motivator yang hebat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal di atas memang penting, tapi hal tersebut tidak menjamin seseorang memiliki keahlian membuat keputusan bisnis yang tepat. Atribut-atribut kepribadian itu hanya sepotong kecil kue kepemimpinan dan nilainya akan menyusut bila tanpa know how. Know how itu ditunjukkan dari pertanyaan-pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;- Dapatkah Anda melakukan &lt;strong&gt;positioning bisnis&lt;/strong&gt; Anda dengan mencari ide utama yang dapat memenuhi keinginan konsumen Anda dan menghasilkan uang?&lt;br /&gt;- Dapatkah Anda &lt;strong&gt;mengidentifikasi perubahan eksternal&lt;/strong&gt; dengan mendeteksi pola-pola bisnis mendahului orang lain dan mengambil posisi menyerang?&lt;br /&gt;- Tahukan Anda cara memimpin sistem sosial bisnis Anda dengan &lt;strong&gt;mempekerjakan orang yang tepat&lt;/strong&gt; dengan perilaku yang tepat untuk membuat keputusan yang lebih baik serta cepat untuk meraih hasil bisnis?&lt;br /&gt;- Dapatkah Anda menilai orang dengan &lt;strong&gt;menemukan bakat terbesar&lt;/strong&gt; mereka berdasar fakta dan observasi dan mencocokkannya dengan sebuah tugas?&lt;br /&gt;- Apakah Anda membentuk sebuah tim dengan &lt;strong&gt;mempekerjakan pemimpin yang kompeten&lt;/strong&gt; untuk menekan ego mereka dan berkoordinasi dengan baik?&lt;br /&gt;- Tahukah Anda cara &lt;strong&gt;mengembangkan tujuan&lt;/strong&gt; dengan menyeimbangkan potensi bisnis Anda dengan pencapaian realistisnya?&lt;br /&gt;- Dapatkah Anda &lt;strong&gt;menetapkan prioritas akurat&lt;/strong&gt; dengan menentukan tugas-tugas spesifik yang memadukan sumber daya, tindakan, dan energi untuk pencapaiannya?&lt;br /&gt;- Dapatkah Anda &lt;strong&gt;menanggulangi kekuatan di luar pasar&lt;/strong&gt; dengan merespons secara kreatif dan positif terhadap tekanan sosial yang tidak Anda kendalikan tapi berdampak besar pada bisnis Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekilas tentang Know How&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat ya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-4647850290618262716?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/4647850290618262716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=4647850290618262716' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/4647850290618262716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/4647850290618262716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/04/know-how.html' title='Know How'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-3046638394951944441</id><published>2008-04-02T00:45:00.000-07:00</published><updated>2008-04-03T18:34:51.561-07:00</updated><title type='text'>Post Power &amp; New Power Syndrome</title><content type='html'>Aku pernah mengenal seseorang yang mengalami New Power Syndrome. Orang ini cenderung hobi marah-marah dan kalau dia berhasil marah rasanya puas banget dan merasa naik pamor. Dulu aku punya seorang leader yang tidak mempraktekkan apa yang dia ajarkan berpuluh-puluh kali, terutama tentang leadership. Nah, kali ini tidak sebegitu parah, orang ini hanya tidak mempraktekkan apa yang dia sudah pelajari tentang situational leadership. Kalau dibilang gaya kepemimpinan dia adalah tipe dictator atau directive rasanya kurang tepat juga. Paling tepat aku lukiskan cara dia berkomunikasi dengan anak-anak buahnya itu adalah seperti Guru BP yang sedang memarahi atau menasihati siswa yang tidak patuh. Bayangkan saja kalau gaya guru BP ini diterapkan ke anak buah yang sudah senior – atau paling tidak merasa senior bekerja di perusahaan tersebut. Yang jelas para anak buah ini pasti akan langsung offense dengan cara itu. Dan, kalau gaya ini terus menerus dijalankan, akibatnya si anak-anak buah ini akan menjadi ignorant saat dia dimarahi oleh “Si Guru BP” ini. Amarah guru BP ini sudah dianggap seperti angin lalu, seperti omongan orang yang hanya berusaha supaya dirinya dihargai sebagai atasan, tapi akhirnya tidak berdampak apapun. Sebetulnya ada banyak hal positive yang aku lihat dari orang ini, tapi sayang sekali dia tidak bisa menyikapi situasi yang dihadapi di tempat kerjanya saat ini dengan cara yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain New Power Syndrome, ada juga kulihat fenomena Post Power Syndrome. Syndrome ini diderita oleh banyak teman-temanku yang lain yang sudah bangkotan di industri yang sama, yang sudah makan asam garamnya industri ini, yang sudah merasakan pernah punya anak buah, tapi yang sekarang terpaksa harus puas menjadi bawahan dari seorang yang lebih muda dan pengalamannya lebih sebentar di industri ini. Orang-orang ini biasanya cenderung “merendahkan” atasannya, sering menjelek-jelekkan atasannya, bertindak semaunya, tidak mau diatur, dan seperti yang aku tuliskan di atas, mereka lama-lama lelah untuk meng-offense atasannya dan sekarang menjadi orang-orang yang ignorant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap divisi di suatu perusahaan pasti punya karakteristik yang berbeda-beda. Seperti saat ini divisiku dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang sales. Aku satu-satunya orang yang belum pernah terjun langsung ke dunia sales. Dan memang menurutku dunia sales itu "nggak gue banget", karena dibutuhkan mental berani ditolak, pantang menyerah, dan harus sanggup siang malam dikejar target. Tapi orang-orang sales ini kalau dikumpulkan dalam satu divisi training memang jadinya bisa runyam. Karena walaupun training itu harus mencerminkan kondisi di lapangan, tapi sisi akademis dari training itu mau tidak mau harus dimiliki juga oleh seorang trainer. Kondisi ini berbeda sekali dengan kondisi yang aku alami di perusahaan sebelumnya dimana orang-orangnya semua adalah orang akademis, para kutu buku yang sangat memuja ilmu pengetahuan. Disana problemnya malah bagaimana supaya sisi akademis ini bisa menjadi practical, bagaimana supaya bisa dipindahkan dari head ke hand. Cara meetingnya pun berbeda, kalau di perusahaan saat ini yang dipenuhi orang-orang sales, mereka kebanyakan tidak mau dipusingkan dengan diskusi, brainstorming, dkk, tapi di perusahaanku dulu meeting kita seringkali menjadi sessi mind gym yang berkepanjangan dan bikin telinga "eneg". Bukan apa-apa, kadanga mereka cuma gede omong tapi executionnya kurang banget... Ya memang masing-masing perusahaan punya karakternya sendiri-sendiri, dan bahkan di satu perusahaan pun masing-masing divisi punya karakter yang berbeda-beda. Kepemimpinan yang situational dan kemampuan untuk beradaptasi menjadi hal yang penting. Ada satu hal yang menarik yang ingin aku bahas di next blog yaitu tentang "Tempered Radical", seseorang yang bisa menempatkan diri dengan apik di lingkungan kerjanya, tapi dengan halus bisa mempengaruhi lingkungan kerjanya dengan value-value positif yang dia miliki. What an amazing person...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-3046638394951944441?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/3046638394951944441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=3046638394951944441' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/3046638394951944441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/3046638394951944441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/04/post-power-new-power-syndrome.html' title='Post Power &amp; New Power Syndrome'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-2737543651395057026</id><published>2008-03-31T18:36:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T18:40:12.523-07:00</updated><title type='text'>Astana Giri Bangun</title><content type='html'>2 long weekend yang lalu aku berkesempatan untuk pergi ke Solo bersama keluarga suamiku. Salah satu tempat tujuan kami adalah makam mantan Presiden Soeharto: Astana Giribangun. Saudaraku kenal dengan salah satu juru kuncinya, so kita bisa masuk sampai ke depan makamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata makamnya itu berupa sebuah joglo berukuran sekitar 10 x 10m. Joglo itu dikelilingi gebyok ukir-ukiran dari kayu yang berkualitas tinggi (kata penjaganya). Kami bergiliran masuk ke dalam joglo tersebut. Di sisi kanan sudah penuh terisi oleh 5 makam, yaitu makam dari kakaknya Ibu Tien, makam ayah dan ibunya Ibu Tien, makam Pak Harto, dan makam Ibu Tien. Makam Pak Harto belum diberi nisan, sedangkan makam lainnya sudah diberi gundukan nisan dari batu sejenis marmer. Makam baru boleh diberi nisan setelah 1000 hari dikubur. Pada nisan dituliskan nama masing-masing dan tanggal wafatnya – semuanya dalam bahasa Kromo Inggil. Di dekat makam ada tulisan: Dilarang Memotret. Tapi kami dengan santainya jeprat jepret sana sini, dan penjaganya juga tidak ada usaha sama sekali untuk melarang kami. Ya, Indonesia gitu loh….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat aku ke sana, beberapa hari yang lalu pas acara 40 hari peringatan meninggalnya Soeharto. Jadi masih ada acara tahlilan yang diselenggarakan di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya, Astana giribangun ini sudah dibangun pada tahun 70-an. Untuk membangunnya diperlukan waktu selama 2 tahun. Setelah selesai dibangun, jenazah dari kakak, ayah, dan ibunya Ibu Tien dipindahkan ke situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam ini ternyata tidak seperti dugaanku, aku pikir ada di ruang terbuka, ternyata di Joglo yang tertutup sehingga bebas dari serangan panas dan hujan. Tapi tidak semewah dugaanku juga. Menurutku jauh lebih mewah dan sakral makamnya Sun Yat Sen di China. Di makam Sun Yat Sen itu kita bahkan ga boleh bicara sama sekali. Ya, but this is quite an experience for me lah…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-2737543651395057026?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/2737543651395057026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=2737543651395057026' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/2737543651395057026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/2737543651395057026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/03/astana-giri-bangun.html' title='Astana Giri Bangun'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-2171407780555691153</id><published>2008-03-18T18:32:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T18:56:47.911-07:00</updated><title type='text'>Global Warming vs. Kekeringan</title><content type='html'>Aku ingin menyampaikan paradox yang ada di kepalaku mengenai Global Warming. Ada 2 fakta yang bertolak belakang dan membuatku sedikit bingung. Ya, maklumlah daya analisaku agak2 kurang. Tapi paling tidak aku bisa kepikiran kedua fakta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta pertama: Global Warming yang disebabkan karena industrialisasi maupun deforestrasi itu membuat bumi ini menjadi lebih panas. Akibatnya es yang ada di kutub utara mencair sehingga bisa menaikkan permukaan air laut. Nah, berarti volume air yang ada di bumi ini bertambah dong ya...&lt;br /&gt;Fakta kedua: Beberapa negara di dunia ini kekurangan air bersih. Contohnya di Australia. Mereka memberlakukan hari khusus atau tempat khusus dimana orang boleh mencuci mobil. Di luar hari itu tidak boleh. Menyiram tanaman juga hanya boleh hari-hari tertentu atau bahkan tidak boleh sama sekali. Kalau kita ketahuan menyiram tanaman pada hari yang tidak diperbolehkan, maka kita bisa didemo sama semua tetangga. Nah, artinya mereka kekurangan air bersih bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku mendengar fakta kedua dari sepupuku di Australia yang dapet beasiswa S3 untuk jurusan water treatment, aku jadi berhemat-hemat dalam menggunakan air. Bahkan sempat memutuskan untuk tidak mandi sore! Tapi setelah aku pikir2 lagi bukannya menurut fakta 1 jumlah volume air di dunia ini malah bertambah? Apakah air yang ada sekarang jadi tambah kotor dan susah diolah untuk jadi air bersih? Atau aku melewatkan fakta lain yang bisa menjelaskan hubungan kedua fakta ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-2171407780555691153?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/2171407780555691153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=2171407780555691153' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/2171407780555691153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/2171407780555691153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/03/global-warming-vs-kekeringan.html' title='Global Warming vs. Kekeringan'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-6920711648466478402</id><published>2008-03-16T23:20:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T23:25:14.179-07:00</updated><title type='text'>Adaptive vs. Plin Plan</title><content type='html'>Kalau aku diminta untuk mendefinisikan tentang diri sendiri aku selalu bilang bahwa aku adalah orang yang adaptive. Aku merasa adaptive karena aku sangat mudah menyesuaikan diri dengan berbagai tipe orang, berbagai suasana, berbagai kebudayaan, berbagai kebiasaan, berbagai rasa makanan, dsb. Hal buruknya adalah aku terlalu cepat menyatu dengan keadaan yang ada sehingga tidak terpikir untuk melakukan improvement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada hal buruk lagi yang sering aku rasakan yaitu aku merasa sebagai orang yang plin plan. Aku sering merasa indifferent terhadap sesuatu. Misalnya aku melihat seorang cowok itu biasa-biasa saja, tapi setelah beberapa teman bilang bahwa dia ganteng, aku baru mengamat-amatinya kembali dan sering kali jadi setuju kalau memang dia ganteng. Hal yang sama berlaku untuk makanan. Aku jarang sekali bisa mengidentifikasikan suatu makanan itu enak atau tidak enak pada cicipan pertama dan tanpa diganggu oleh pendapat-pendapat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seringkali bingung apa yang melandasiku menjadi orang yang indifferent seperti itu. Lalu aku kembali lagi ke latar belakang keluargaku. Mamaku adalah orang yang sangat dominan di keluargaku. Dia yang selalu mengambil keputusan untuk aku maupun untuk papaku dan untuk semua kebutuhan dalam keluarga kami. Bahkan untuk menentukan makan dimana pun papaku sudah malas untuk berpendapat karena akhirnya pendapat mamaku lah yang selalu dijalankan. Ya, memang latar belakang keluarga itu adalah salah satu faktor yang tidak bisa atau susah untuk dikontrol. Kalau kata Steven Covey itu adanya di lingkaran kepedulian dan bukan lingkaran pengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku sudah berkeluarga dan banyak mengambil keputusan sendiri dan aku sangat merasakan kadar indifferentku sudah sangat berkurang. Thanks God finally I found seleraku sebenernya seperti apa, valuesku sebenarnya apa saja, dan hal itu langsung aku list di excel untuk mengingatkan dan meneguhkanku lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa tentang seperti apa diriku dan apa yang melatarbelakanginya sering aku lakukan belakangan ini. Training PRH (personalite et relatione humaines) menurutku adalah salah satu training yang cukup bagus untuk menggali hakikat diri kita yang sebenarnya untuk menjadi landasan kita berkembang menjadi lebih baik. Ya, tentu saja selain khotbah-khotbah di gereja. Kedua hal itu meskipun saat dijalani sangat membosankan, tapi ternyata bisa menumbuhkan kebijaksanaan dalam hidup ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-6920711648466478402?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/6920711648466478402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=6920711648466478402' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/6920711648466478402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/6920711648466478402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/03/adaptive-vs-plin-plan.html' title='Adaptive vs. Plin Plan'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-8984210854989688897</id><published>2008-03-02T22:51:00.000-08:00</published><updated>2008-03-02T22:55:09.771-08:00</updated><title type='text'>Tentang Problem Solving</title><content type='html'>&lt;p&gt;I’ve been introduced about problem solving around 2 years ago. That’s when I participated Minaut (Mining &amp;amp; Automotive) Problem Solving training in Astra. I’m quite amazed with the importance of problem solving, that’s because the trainer (who is my beloved boss) has a capability to make the participants adore him J.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But that’s only for a short while since I didn’t use the problem solving tools in my daily job or daily life. I got deeper understanding about problem solving when I was given a responsibility to be the program manager for problem solving training for cadre supervisor. The first thing I got about problem solving is about identifying whether a problem is ready to be solved or not.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A problem can be divided into two types, a complex problem and a single problem. A complex problem consists of some single problems. A complex problem is not ready to be solved; it should be broken down into single problems first. For example: creating a successful marriage. What kind of problem is it? Yes, it is a complex problem; it is not ready to be solved directly. Firstly, we have to set the KPI of a successful marriage, e.g.: “balik modal”, enough food, no complain from the parents (both side), etc. Then, we break the problem down to its single problems according to the KPI. The single problem can be: the invitation, the program, the meal, the decoration, etc. After that, the single problems are ready to be solved one by one or by different person that’s in charge for each problem.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then the second one is about various kind of problem solving. Practical problem solving, analytical problem solving, and creative problem solving.&lt;br /&gt;1. Practical problem solving is usually done by asking why, and why, and why.. until you find the root cause of the problem. Then, since it is a practical problem or a simple problem, it can be solved directly.&lt;br /&gt;2. The analytical problem solving is for a problem that has many root causes that they have to be analyzed and solved one by one. There are some analytical problem solving method, such as DMAIC (define, measure, analyze, improve, control) and 8 steps problem solving. The 1st one I think is an old problem solving method, but surprisingly still used until today. AIG has just created a new division called PMO (Project Management Office). It’s a division that coordinates and manages the improvement projects in AIG. It uses DMAIC method and 6-sigma. So, I think those methods are “everlasting methods” just like the SWOT method for strategic management. The tools for analytical problem solving are just like strategic management tools such as fish bone diagram, cause effect diagram, pareto diagram, etc.&lt;br /&gt;3. The third type of problem solving is creative problem solving. In my opinion, this is the most useful problem solving method. Especially when trying to find a solution for a problem, we have to use our creative thinking. Experience of course helps much, but it can only produce solution that is “biasa-biasa saja”. To produce an unusual solution or a “blue” solution (adopting from blue ocean strategy), we have to use lateral thinking and not linear thinking. We have to think out of the box. And I bet this method will not only solve the problem but has the effect to produce incredible result on the long term.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To be more creative is one of my resolutions in 2008, because I’ve been thinking that our education method and my surrounding have so many impacts to lower my creativity. This is a reactive thinking, but I respond it with a proactive approachJ. I think creativity can be built over time. One of the activities I do for this purpose is this blog. It can make me more creative ‘cause I have to continuously look for interesting topics to be written on this blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The conclusion is: applying problem solving method is very useful to get an appropriate solution for the problem, and one most useful skill for this method is creativity, because it can help us to produce more than just a solution, it can help us to reap a better tomorrow. (Isn’t it like a word of wisdom? Hihihi…)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-8984210854989688897?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/8984210854989688897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=8984210854989688897' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8984210854989688897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8984210854989688897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/03/tentang-problem-solving.html' title='Tentang Problem Solving'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-8466104668661452824</id><published>2008-02-21T20:36:00.000-08:00</published><updated>2008-02-21T20:38:27.470-08:00</updated><title type='text'>Anda Telah Menyusahkan Saya, Terimakasih!</title><content type='html'>by Arvan Pradiansyah&lt;br /&gt;Managing Director ILM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu mahasiswa saya pernah membaca sebuah buku berjudul Pedogogy for the Oppress (Pendidikan bagi Kaum Tertindas) yang ditulis oleh Paulo Freire, peneliti Amerika Latin. Salah satu kalimat yang masih saya ingat sampai sekarang berbunyi, ”Setiap orang pada dasarnya adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja saya tidak setuju dengan kata-kata itu. Bagaimana tidak, saya mempunyai kriteria yang cukup tinggi mengenai seseorang yang pantas disebut guru. Seorang guru haruslah bisa digugu dan ditiru. Ia haruslah menjadi role model. Selain itu ia juga harus memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan saya sendiri, paling tidak ia menguasai sesuatu yang tidak saya kuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu pendapat saya dahulu. Belakangan saya harus merevisi kembali pandangan itu. Pengalaman hidup justru mengajarkan pada saya bahwa pendapat Freire benar adanya. Saya belajar bukan hanya dari orang-orang yang saya hormati, melainkan justru dari orang-orang yang menyusahkan. Bahkan, pelajaran yang saya terima dari orang-orang yang menyusahkan jauh lebih powerful karena merasuk jauh kedalam pikiran dan sanubari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilamana orang-orang baik memberikan pelajaran melalui pengalaman yang menyenangkan, maka orang-orang yang menyusahkan justru memberikan pengalaman yang pahit dan getir, sebuah pelajaran yang tak akan terlupakan sepanjang hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saya membaca sebuah buku yang menarik berjudul Thank You for Being Such A Pain karya Mark I Rosen. Buku ini makin memperkuat pendapat saya mengenai betapa pentingnya peranan yang dimainkan oleh orang-orang yang menyusahkan dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman yang menyenangkan lebih mudah kita kupakan, karena hal itu tidak masuk terlalu dalam ke dalam memori kita atau bahkan kita menganggap sepele (taken for granted). Kalau bawahan melayani kita dengan sepenuh hati, kita mungkin berpikir bahwa itu sudah merupakan tugasnya. Kalau atasan kita ramah, baik hati dan mau mengerti, kita mungkin berpikir bahwa memang seperti itulah yang harus dilakukan seorang atasan. Kalau rekan kerja kita kooperatif, kita mungkin beragumentasi bahwa memang kewajiban setiap orang adalah saling membantu. Kalau pasangan hidup kita penuh perhatian, mungkin kita akan berpikir bahwa ini sudah merupakan hak kita. Bahwa kita memang berhak menerima perlakuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, pelajaran apakah yang dapat kita ambil dari orang-orang yang menyenangkan tersebut ? Mungkin ada, tetapi pasti tidak akan semendalam pelajaran dari pengalaman yang menyakitkan. Misalkan saja, ada seseorang yang menghina Anda, mengeluarkan kata-kata yang menyakiti Anda. Mudahkan Anda melupakannya ? Kemungkinan tidak. Biasanya kita malah memikirkan bagimana membalas sakit hati kita. Namun justru disinilah manfaat yang diberikan orang-orang ini. Mereka sebenarnya telah memberikan experential learning yang tidak akan mungkin kita lupakan, yaitu mengenai betapa sakit rasanya diperlakukan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sakit yang luar biasa ini sangat kita perlukan untuk membantu kita memahami perasaan yang akan dirasakan orang lain bila kita melakukan tindakan yang sama. Memahami lebih dari sekedar mengetahui. Kalau Anda mengetahui sesuatu, Anda belum paham karena Anda baru masuk ke ”teorinya”, tapi kalau Anda sudah merasakannya, Anda akan memahami. Anda bahkan akan masuk ke alam kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mempunyai atasan yang senang memaki-maki dan merendahkan harga diri orang lain. Namun, ia sangat berjasa kepada saya karena memberikan pelajaran mengenai betapa sakitnya diperlakukan demikian. Saya kemudian berjanji kepada diri sendiri untuk tidak akan pernah menyakiti dan merendahkan harga diri orang lain dalam situasi apa pun. Saya benar-benar sadar bahwa setiap orang ingin dianggap penting dan diperlakukan dengan penuh hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman yang suka menjelek-jelekkan saya di belakang juga telah menjadi guru besar saya. Ia telah menyadarkan saya akan pentingnya bersikap loyal terhadap orang yang tidak hadir (loyal to the absent). Tentu saja, saya sudah pernah mempelajari buruknya menggosipkan orang lain dari buku-buku, kitab suci ataupun beberapa pelatihan perilaku, tetapi pelajaran yang paling merasuk jiwa saya justru saya dapatkan dari kawan saya itu. Rasa sakit yang saya alami justru membuat saya ”bersumpah” untuk tidak akan pernah melakukan perilaku yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak lagi guru besar yang dapat saya tuliskan di sini. Ada klien yang pertama kali bertemu langsung memanggil saya dengan ”kamu”. Ada kawan yang gemar memberikan ”label negatif”. Ada atasan yang suka berlama-lama menjawab handphonenya, padahal kami berdua sedang melakukan rapat. Ia sering membiarkan saya ternganga di hadapannya. Semua orang ini adalah guru besar saya dalam ”kuliah” Hubungan Antarmanusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu alih-alih membenci orang ini, kita seharusnya malah berterimakasih kepada mereka. Berterima kasih disini bukan dalam pengertian sinisme. Melainkan berterima kasih secara tulus dan dari lubuk hati kita yang paling dalam. Bukankah hanya orang-orang ini yang berani mengambil resiko untuk menjadi orang yang tidak disukai ? Bukankah mereka telah mengajarkan kepada kita untuk menjadi jauh lebih baik dari hari ke hari ? Bukankah dengan pengalaman pahit yang mereka berikan, kita dapat tumbuh secara spiritual ? Bahkan dalam konteks yang lebih luas, orang-orang itu sebenarnya telah diutus oleh Tuhan untuk berjumpa dengan kita di dunia ini, dan mengajarkan sesuatu yang tak dapat diajarkan oleh kawan-kawan dan sahabat-sahabat kita yang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-8466104668661452824?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/8466104668661452824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=8466104668661452824' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8466104668661452824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/8466104668661452824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/02/anda-telah-menyusahkan-saya-terimakasih.html' title='Anda Telah Menyusahkan Saya, Terimakasih!'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-3933361028705981388</id><published>2008-02-21T20:21:00.000-08:00</published><updated>2008-02-21T20:22:49.710-08:00</updated><title type='text'>Jadi trainer itu susah!</title><content type='html'>This is my first own story written on this blog. Forgive me for writing it in an “alakadar English”. For your info I don’t write in English because I am so fluent in English, but this is for my self development actually.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to laptop, this is about my experience as a trainer. I started to see myself as a trainer when I was in my post graduate study in Prasetiya Mulya. We had so many group assignments that had to be presented. So, presenting the group assignment was a routine job for us. My first presentation surprisingly had a great result and many compliments from my friends and lecturer. And after that I can make sure that when I was presenting something in front of the class, I was pretty sure that everyone would voluntarily concentrate on my presentation. Many friends told me that I had a talent becoming a trainer or lecturer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My first job was not in trainer field. But accidentally my company (Astra International) was being restructured and my division was being dismissed. I had a limited freedom to choose where I would move to. At that time I decided to move to AMDI (Astra Management Development Institute) and it meant that I decided to be a trainer / faculty member.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first time I taught in a class, I started to realize that training is not as easy as I’ve imagined. When I was presenting in Prasetiya Mulya, I only have to talk for 10-15 minutes. And at my first class, I have to talk for 2 hours (which is only 1 session, but it felt like years for me…). After I talked for 1 hour I felt like I could not breath anymore, it just like running for hours. God, I don’t like talking!! But since I’ve decided to enter this world of training, I have to improve my self in teaching and facilitating. I found that I have to use ice breakers, many teaching methods, analogy, practical examples, and many other skills that I need to be a good trainer… I have to improve in how to create a lively atmosphere, how to “conquer” all participants, how to handle difficult participants, and so on… This is really not an easy stuff, man…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I then realize that training is not my world, this is really not my favorite and not my destiny. But I rather see this as a self development. Until this time I still prefer to develop training materials than to deliver it. But, I am also very thankful for this training world as I can learn so many things here….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-3933361028705981388?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/3933361028705981388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=3933361028705981388' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/3933361028705981388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/3933361028705981388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/02/jadi-trainer-itu-susah.html' title='Jadi trainer itu susah!'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4498536789732497487.post-1899175412911396415</id><published>2008-02-12T01:57:00.000-08:00</published><updated>2008-02-12T02:07:39.105-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Terbaik di Dunia</title><content type='html'>Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya mendudukiperingkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karenamemang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitaspendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara denganibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan, inimemang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruhdunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil surveiinternasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization forEconomic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenaldengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, danjuga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademistapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalammasalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggidibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapanegara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar,memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, ataumemborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandiamulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengannegara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah merekajustru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea,ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jamperminggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitasgurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengankualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiriadalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklahfantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftaruntuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk kefakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkandengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanyadan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guruyang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadiguru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut merekabebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulumyang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri.Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakanbagian yang sangat penting bagi kualitaspendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yangmenghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kitacenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru diFinlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukurdengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untukmengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertigalulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!Ini membantu siswa belajar betanggungjawab atas pekerjaan merekasendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso,Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebihbebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencarisendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jikamereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidakbelajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru.Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salahseorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai danfleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekandan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yangmembuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah diFinlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik danyang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagaikesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menanganimasalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagisetiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai,umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu;berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perluuntuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka.Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka haltersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akanmenghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukankesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilaisebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistemranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinyamasing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diripada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antarakompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen padakeberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalammengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yangtidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangatbertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andri Aji Saputro&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4498536789732497487-1899175412911396415?l=knowledgebaskom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/feeds/1899175412911396415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4498536789732497487&amp;postID=1899175412911396415' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/1899175412911396415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4498536789732497487/posts/default/1899175412911396415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://knowledgebaskom.blogspot.com/2008/02/pendidikan-terbaik-di-dunia.html' title='Pendidikan Terbaik di Dunia'/><author><name>Herlina Tanujaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03927137776523569455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
