Showing posts with label Insights. Show all posts
Showing posts with label Insights. Show all posts

Friday, April 12, 2013

Peraturan

Kejadian Pertama: Suatu hari aku sedang menyetir keluar dari parkiran komplek Ruko Pinangsia, Karawaci. Jalan keluarnya cukup sempit, dan disebelah kiri ada 2 wanita sedang berjalan kea rah yang sama. Jadi di posisinya pasti tidak kelihatan kalau ada mobil di belakangnya. Pikiranku: Kalau sampai dia jalan agak ketengah, nanti bisa ketabrak, kasihan kalau dia sampai ketabrak. Actionku: Membunyikan klakson (Beep! Beep!) Pikiran dia: Gue udah minggir, gak usah nyuruh2 gue minggir gue udah tau!! Lo berisik banget, bawel banget! Kalo mau lewat ya lewat aja! Action dia: (Teriak kenceng kenceng) Woiii, gue udah minggir!!!! Kejadian Kedua: Di sebuah tiang ada tulisan: BAHAYA! Tegangan Tinggi! Jangan menyentuh dan naik ke atas tiang ini! Si A: Wah, untung dikasi peringatan, jadi kita gak sampai kesetrum Si B: Eh, lo ngapain ngatur2 gue, siapa lo?! Gue mau manjat kek, mau pegang2 kek, suka2 gue dongg! Peraturan dibuat untuk melindungi kita, peraturan dibuat karena orang yang membuatnya peduli akan keselamatan dan kebaikan kita. Bagaimana kita menyikapi peraturan menunjukkan kematangan kita dan cara berpikir kita. Orang yang membenci peraturan adalah pribadi kekanak-kanakan yang berpikir bahwa peraturan dibuat hanya untuk membatasi dan mengatur orang lain sekehendak si pembuat peraturan. Sedangkan orang yang bijak akan menghargai peraturan sebagai bentuk kasih dan kepedulian dari pembuatnya. So, it’s all on your mind, apa persepsi kita terhadap peraturan? Beware, persepsi yang salah dan kekanak-kanakan bisa menuntun kita pada bahaya dan jalan yang salah.

Monday, July 23, 2012

Insight from the Jompos

Di tahun ini aku diberi kesempatan untuk mengunjungi 2 buah Panti Wreda. Kunjungan yang pertama di bulan April ke Panti Wreda Marfati di daerah Tangerang. Kunjungan ini aku lakukan bersama dengan teman-temanku di persekutuan doa DATE Grenvil 1. Pada kunjungan ini kami sudah mempersiapkan acara games, lagu-lagu tembang lawas, souvenir berupa syal yang dibordir nama masing-masing oma-opa, adult diapers, dan catering prasmanan untuk menyajikan konsumsi yang spesial buat oma dan opa yang katanya jarang makan makanan enak. Acara ini berlangsung dari pagi sampai acara makan siang, which is ternyata terlalu panjang karena games yang kami siapkan tidak cocok untuk opa oma dan jam 11 kita sudah mati gaya bingung mau ngapain. Anyway, aku dapat pengalaman berharga dan sukacita yang besar dengan memperhatikan oma opa di panti ini.
Kunjungan kedua baru aku lakukan kemarin di Panti Wreda Kasih Agape di daerah Depok. Kunjungan ini aku lakukan bersama dengan persekutuan doa Philipi. Perjalanannya macet parah sehingga kami terlambat sampai di panti. Persekutuan doa ini baru aku kenal kemarin, jumlah peserta yang ikut ada 28 orang. Bisa dibilang acara ini sangat minim dalam persiapannya. Konsumsi dan bis untuk keberangkatan memang sudah disiapkan, tapi untuk acara sama sekali belum dipikirkan. Tapi berhubung ada banyak orang yang terlibat dan banyak yang punya bakat baik di bidang worship leader, MC, maupun membawakan firman Tuhan, jadi selama di bis ditunjuklah satu-satu siapa petugasnya. Firmannya pun baru disiapkan pas di bis. Semua persiapan acara berlangsung sangat spontan. Misalnya untuk firman, ada satu ibu yang paling cerewet di bus dia langsung terpikir, eh ayat ini aja yang “sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu”, coba cari dimana itu. Nah dari celutukan itu lahirlah kotbah singkat yang dibawakan dip anti. Wheww nekat ajee… Panti ini dikelola oleh Gereja GBI, dan didirikan oleh ibunya Pdt Niko Nyotoraharjo. Jadi secara kebutuhan sehari-hari panti ini bisa dibilang tidak kekurangan, dan secara spiritual luar biasa kehidupan doa dan puji-pujian yang dilakukan setiap hari.
Dengan mengunjungi panti ada beberapa insights yang bisa saya dapatkan, terutama setelah 2x kunjungan bebal namanya kalo aku tidak mempelajari sesuatu. Hal yang kupelajari diantaranya: 1. Ada banyak orang yang needs utamanya adalah untuk diperhatikan. Dalam hal ini untuk didengarkan, di-recognize, disayang. Tadinya aku merasa kawatir apa ya yang harus aku obrolin dengan para oma dan opa. Jangan-jangan nanti mati gaya, bingung mau ngomong apa lagi. Ternyata kondisinya sangat jauh dari perkiraanku, disana dengan aku sekali nanya para opa oma sudah nyerocos non stop. Jadi saat kita berkunjung ke panti jompo, hal yang paling penting adalah bawa diri dan bawa kuping. Makanan, souvenir, dkk hanya sampingan saja, apalagi untuk panti jompo yang sudah cukup sering dikunjungi dan menerima sumbangan. Aku pernah ngobrol dengan seorang ibu yang mendirikan sekolah dan memperhatikan anak-anak jalanan. Ibu itu berkata bahwa sebetulnya anak-anak panti lebih kasihan karena mereka sangat kurang perhatian, sedangkan anak jalanan yang masih punya orang tua masih cukup diperhatikan oleh orang tuanya, hanya kekurangan secara materi saja. So, intinya berbagi kasih dan perhatian adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh banyak orang khususnya orang jompo atau anak2 yang ada di panti. 2. Di panti ada banyak orang tua yang ditolak oleh keluarganya sendiri. Memang ada sebagian kecil yang masuk panti atas keinginan sendiri, tapi sebagian besar karena tidak diterima di keluarganya. Ada yang diajak ke gereja dan tiba-tiba ditinggal sendirian di gereja, ada pula yang secara halus membuat orang tuanya merasa bahwa dia sangat merepotkan anaknya. Miris sekali mendengarnya. Sebagai orang tua, raising children merupakan tanggung jawab terbesar dalam hidupku. Bayi yang lahir sangat tergantung dengan orang tuanya dan semua yang pernah punya anak pasti pernah merasakan betapa merepotkan dan melelahkannya memiliki seorang bayi. Memiliki batita sangat melelahkan secara fisik maupun emosional. Setelah itu, parenting anak2 di masa sekolah, apalagi masa teenager betul-betul membutuhkan extra wisdom and bigger heart. Intinya punya anak itu sangat tidak mudah dan melelahkan. Nah, kalau setelah dia menjadi dewasa lalu memperlakukan orang tuanya seperti itu betapa tidak pantasnya! Betapa tidak acceptable tindakan itu! Selain itu salah satu hukum utama dalam kehidupan adalah “Lakukanlah pada orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan”. Nah Memperhatikan orang tua berarti adalah hokum wajib yang harus kita lakukan kalau kita tidak mau masa tua kita kesepian dan kurang perhatian dari orang lain. 3. Kehidupan di panti jompo menghadapkan orang pada posisi kepepet dimana mau tidak mau dia harus bergantung dan berharap hanya kepada Tuhan. Terutama di panti jompo Kasih Agape. Pengurusnya yang bernama Ibu Lieke bilang bahwa di oma-oma di panti ini sudah berkali-kali menghabiskan isi Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Malunya aku yang sudah 2 tahun lebih masih struggling untuk baca alkitab, baru sampai di kitab Yeremia saat ini. Mereka juga hidup dalam pujian penyembahan dan doa setiap hari. Really inspiring, aku jadi diingatkan untuk lebih konsisten menjalankan saat teduh setiap hari. Itulah sekelumit ceritaku semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita sebagai anak maupun sebagai orang tua.

Tuesday, July 3, 2012

Pemalu dan Ignorant


Perjalanan mengenali diri sendiri memang berlangsung seumur hidup. Salah satu penemuanku akhir-akhir ini yaitu aku bisa mulai mengidentifikasi penyebab mengapa aku menjadi pemalu dan mengapa aku tumbuh menjadi orang yang ignorant.

Sesorang menjadi pemalu karena dia terlalu peduli dengan pendapat orang lain mengenai dirinya. Aku tumbuh dibesarkan di keluarga yang penuh keterbukaan, dengan mami yang super kepo yang selalu mau tau setiap saat apa saja yang saya kerjakan, bersama siapa, ngomongin apa saja, dkk. Jadi dalam hidup saya tidak ada yang bisa disembunyikan dari mami saya. Selain itu, saya tumbuh di kota kecil yang penuh dengan orang-orang kepo, dimana di kotaku banyak orang yang hidup santai yang punya banyak waktu untuk “bergossip” tentang masalah orang lain. Dikelilingi oleh orang-orang kepo membuatku jadi terlalu concern dengan pendapat orang lain. Apalagi di keluargaku selalu ditanamkan bahwa kamu akan dinilai sukses kalau kamu pintar. Jadi aku selalu ja-im, selalu ingin memberikan image bahwa aku cantik, aku pintar, aku hebat, dan sebaliknya terlalu takut untuk mengungkapkan bahwa aku tidak tau, tidak pintar, tidak suka baca buku, dll. Dengan mengidentifikasi hal itu membuatku saat ini bisa mengatasi rasa maluku. Saat ini aku jadi tidak mau terlalu concern dengan pendapat orang lain – in a positive way – dan lebih bebas mengekspresikan diriku.

Selain pemalu aku juga baru menyadari bahwa aku adalah orang yang sangat ignorant. Analisaku adalah hal ini disebabkan oleh orang tuaku yang tidak pernah memberikan punishment, mereka sangat toleran terhadap segala yang aku perbuat. Sehingga untuk segala hal aku “take it for granted”, menganggapnya biasa-biasa saja. Di daerah juga sangat kurang keragaman untuk seseorang mengembangkan potensinya, akibatnya tidak ada hal yang terlalu menarik untuk aku tekuni, tidak ada yang terlalu menarik untuk menempel lama di ingatanku. Aku jadi orang yang indifferent, cuek, tidak analitis, dan pelupa. Hal yang kupelajari dari sini adalah perlunya keseimbangan antara reward dan punishment. Benar-benar harus balance, kalau salah satu terlalu berat akan berakibat buruk. Selain itu saat ini aku juga mulai belajar lebih “tertarik” akan hal-hal di sekitarku, lebih ingin tau, dan lebih memahami preferensiku.

Itulah 2 hal yang kutemukan dalam karakter jelekku yang ternyata adalah dampak dari kebiasaan dan pengaruh lingkungan di masa lalu. Intinya aku akan terus belajar dan  memperbaiki diri, karena kita boleh dilahirkan bodoh dan melakukan banyak kebodohan di masa muda, tapi kalau kita mau terus belajar, kita bisa menjadi pribadi yang better and better.

Monday, June 1, 2009

Tanggung Jawab dan Kebebasan

Pemikiran ini timbul saat aku ngobrol dengan salah seorang saudaraku di suatu acara.
Dia mengisahkan tentang anaknya yang bernama Marco.
Guru: Anak-anak, siapa di antara kalian yang hanya boleh main games (Nintendo, PSP, dkk) hari Sabtu saja?
(separuh kelas angkat tangan)
Guru: Ok. Sekarang, siapa yang boleh main games hari Sabtu dan Minggu?
(separuh kelas yang lain angkat tangan)
Guru: Bagus. Nah sekarang, siapa yang boleh main games kapan pun tanpa dibatasi oleh orang tuanya?
(hanya si Marco sendiri yang mengangkat tangan)
Guru itu menjadi heran karena selama ini Marco memiliki nilai-nilai yang cukup bagus. Kalau ada PR pun selalu dikerjakan dengan baik.
Menurut saudaraku, dengan diberikan kebebasan, si Marco malah jadi semakin bertambah tanggung jawabnya. Karena dibebaskan main games kapanpun, saat main games paling dia menghabiskan waktu setengah sampai 1 jam, toh besok-besok bisa main lagi. Tidak seperti anak lain yang karena cuma boleh main games di hari Sabtu, maka Sabtu adalah full time hari untuk main games, dan mereka jadi susah diajak jalan-jalan keluar oleh orang tuanya.
Paling untuk memotivasi Marco, dia menggunakan keseimbangan reward dan konsekuensi, seperti misalnya, kalau sampai nilai-nilainya jelek, maka PS akan ditarik dan Marco tidak boleh main games lagi untuk seterusnya.
Hmm... I definitely agree dengan cara mendidik seperti ini.

Ilustrasi kedua adalah bagaimana memperlakukan pembantu di rumah kita.
1. Di rumah ortuku pembantu selalu menjadi orang yang dicurigai. Jadi, prinsip dari ortuku semakin mereka diberi kebebasan, mereka akan jadi ngelunjak dan banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal negatif seperti bersantai-santai, mencuri, dkk. Akibatnya, ortuku jadi kerepotan sendiri. Mereka harus ekstra ketat mengontrol semua aktivitas pembantu, dan kalau ada suatu masalah para pembantu langsung terkena prinsip praduga bersalah. Hmm... ga nyaman juga kan hidup begitu. Untungnya ortuku punya cukup banyak waktu untuk mengontrol semua kegiatan pembantu di rumah. Tapi sebenernya dalam kondisi sekarang aku tidak menyalahkan mereka si, karena memang pembantu di rumah ortuku itu parah banget. Udah melakukan suatu hal puluhan kali masih sering salah-salah dan lupa-lupa juga. Tapi ortuku tetap mempertahankan pembantuku yang sekarang ini, soalnya kriteria mereka dalam memilih pembantu: biar bodo asal jujur.
2. Di rumahku, aku punya pembantu yang super rajin. Selalu terlihat bekerja non-stop di setiap kesempatan. Yang motong rumput lah, ngecat tembok lah, nguras kolam lah, sampai meng'kolot' sela-sela ubin lantai. Selain rajin, mereja juga terbukti jujur. So, aku mempercayakan banyak tanggung jawab di rumah kepada mereka. Dan, saat aku memerintahkan suatu tugas, aku bisa tinggal tenang karena yakin bahwa mereka pasti melakukan sesuai perintah. Selain itu aku tidak perlu kawatir kunci sana sini karena mereka bisa dipercaya. Jadi prinisipku, perlakukan para pembantu dengan baik, berikan semua hak-hak mereka, dan percayailah mereka, maka mereka akan melakukan segalanya dengan baik. Itu sudah terbukti dengan para pembantuku yang bukan saja loyal, tapi mereka tambah rajin dan kreatif. Coba aja, mereka bukan cuma membuat rumah menjadi bersih dan nyaman, tapi juga mempercantik rumahku. Vas bunga diisi dengan bunga-bunga kreatif hasil hand made mereka atau hasil dari kebunku, terus lap tangan juga dilipat dengan kreatif dan indah, selain itu mereka juga jadi hairstylist dari boneka yang ada di kamarku. Kadang rambut bonekaku dimodel punk, kadang diponi, kadang dijambul.. pokoknya mereka jadi kreatif deh...

Kalau aku melihat kembali kedua kejadian itu, memang kita tidak bisa membenarkan atau menyalahkan salah satunya. Karena bagaimana kita memperlakukan seseorang harus disesuaikan dengan karakter dan kematangan dari orang tersebut. Yah, seperti prinsip dalam situational leadership lah. Kalau anak buah kita memang secara kemampuan dan karakter sudah bagus, ya kita bisa melepas dia dan memberikan extra tanggung jawab. Tapi kalau kemampuan dan atau karakternya masih lemah, ya terpaksa kita kontrol dengan ketat.

Hal itu sangat applicable kalau kita membicarakan tentang pembantu atau anak buah yang datang kepada kita sudah dengan membawa kemampuan dan karakternya masing-masing, dan mereka punya 'obligasi' kepada kita karena kita adalah orang yang menilai performance mereka. Tapi kalau untuk anak-anak kita, wah aku ga yakin semudah itu. Mereka datang ke dunia ini dalam kondisi yang masih 'kosong'. Yah, meskipun masing-masing secara genetik sudah punya bawaannya sendiri-sendiri. Tapi orang tua memiliki andil besar dalam menentukan karakter anak-anak kita. Seberapa besar kontrol dan kebebasan yang kita berikan harus diseimbangkan, disesuaikan dengan kesiapan mereka dan tahap-tahap pertumbuhan yang mereka alami.

Well, gutluk for every parents & managers.

Thursday, September 25, 2008

Animal Philosophy

Dalam hidup ini, ternyata kita bisa belajar dari banyak hal. Dari fenomena kehidupan sehari-hari, dari alam ini, dari pengalaman orang lain, dan salah satunya adalah dari binatang.
Ternyata binatang juga bisa menginspirasi kita mengenai hikmah-hikmah dalam hidup ini.

1. Filosofi Babi
Kali ini babi mengajarkan pada kita suatu hal yang buruk yang tidak pantas untuk ditiru. Untuk menyuruh seekor babi untuk maju - misalnya untuk masuk ke kandangnya - caranya bukan dengan mendorongnya, tapi dengan menarik ekornya.
Kalau diaplikasikan pada kehidupan ini, hal ini nyata pada saat kita mengamati seorang anak. Bagi Anda yang sudah punya Anak, atau bagi kita yang mengingat pengalaman kita dulu, mungkin kita ingat saat kita disuruh untuk melakukan sesuatu, kita malah jadi sungkan untuk melakukan hal yang disuruh. Nah, kalau dilarang untuk melakukan sesuatu, kita malah cenderung berusaha melakukan hal itu.
Ternyata hal tersebut adalah kecenderungan yang juga dimiliki oleh hewan yang bernama Babi. Tentu saja kecenderungan ini tidak baik karena munculnya dari ego seseorang yang merasa harga dirinya terganggu kalau dia menuruti suatu perintah.
Sebaliknya, dari sisi orang yang mengerti filosofi ini, kita bisa mengatur cara bicara kita agar tidak terkesan memerintah, namun bisa membuat seseorang melakukan apa yang kita inginkan. Rasanya hal ini juga perlu diketahui oleh semua Leader, karena tidak semua orang suka dan mau disuruh dengan cara yang memerintah dan merendahkan.

2. Filosofi Kodok
Seseorang yang menggunakan cara yang tidak halal untuk mencapai kesuksesannya seringkali diibaratkan seperti Kodok. Untuk mencapai posisi yang lebih tinggi, dia akan menginjak-injak bawahan, menyikut teman-teman kerjanya (peers), dan menjilat atasannya.
Secara halus maupun kasar, pasti seringkali praktik Kodok ini banyak dijalankan oleh orang-orang dalam pekerjaannya. Rasanya orang yang masih mempraktekkan hal ini perlu mempelajari Prinsip Win-Win dari 7 Habit-nya Steven Covey.

3. Belajar dari Semut
Semut sebagai binatang yang sangat kecil, dan biasanya selalu berusaha untuk kita usir, malah bisa memberik kita pelajaran yang berharga.
Yang pertama adalah pelajaran tentang Peluang. Ada pepatah yang berkata: "Ada gula ada semut". Artinya dimana ada harta atau ada peluang, disitu orang akan berkumpul. Sama seperti kondisi Jakarta sekarang, karena kurangnya pemerataan pembangunan, maka hanya Jakarta saja yang diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Daerah lainnya kurang diperhatikan, sehingga orang-orang daerah memutuskan untuk 'berkumpul' di Jakarta.
Di sisi lain, kalau kita ingin dikerubuti oleh banyak semut, ya berusahalah untuk menjadi gula yang diinginkan oleh para semut itu. Hal ini bisa dipraktekkan dalam mencari jodoh, perkembangan karir, maupun dalam kehidupan sosial kita.
Hal kedua yang bisa dipelajari dari semut adalah tentang Kerajinan dan Kerja Sama. Semut dipercaya sebagai binatang yang paling rajin. Dia selalu mengumpulkan makanan dengan rajin, pada musim yang tepat, sehingga semut tidak akan kekurangan makanan pada musim 'paceklik'. Nah, karena menyadari tubuhnya yang super mini itu, maka semut memutuskan untuk bekerja sama dengan semut lainnya untuk mencapai tujuan bersama bagi para semut, yaitu untuk memperoleh makanan mereka.
Kalau semut pun bisa bekerja serajin itu, masa kita sebagai manusia hanya mau bermalas-malasan saja?

4. Belajar dari Anjing.
Sejak aku memiliki Anjing, aku jadi mengamati sifat dan kebiasaan yang dimiliki oleh Anjingku. Salah satu hal yang kita bisa pelajari dari Anjing adalahbahwa Anjing itu adalah binatang yang sangat setia. Kesetiaan Anjing ini terlihat dari kebiasaannya yang selalu ingin dekat dengan tuannya. Pasti kita sering mendengar kisah Anjing yang selalu ikut dengan tuannya kemanapun dia pergi. Ada temanku yang anjingnya mengikuti dia kemanapun termasuk saat dia kuliah. Saat mertuaku pergi ke sebuah gereja di luar negeri, ada Anjing yang mengikuti misa, termasuk ikut antri saat tuannya berjalan ke depan untuk menerima komuni. Saat aku makan dan ada Anjingku disebelahku, maka aku tidak akan tega membiarkan dia ngiler, pasti aku akan memberikan apapun yang bisa kuberikan padanya. Itupun menginspirasikan hubunganku dengan Tuhan. Aku yakin jika kita maunya deket deket sama Dia, pasti Dia juga tidak akan kuasa untuk menahan berkat-berkatnya untuk kita.

5. Belajar dari Rajawali
Rajawali adalah burung yang sangat kuat dan perkasa. Pada saat badai datang, dia tidak bersembunyi dan meringkuk di sarangnya, tapi dia malah terbang tinggi melampaui badai tersebut. Kehidupan ini sering diumpamakan sebagai sebuah sekolah untuk kita. Saat permasalahan datang, kita seperti sedang mengalami sebuah ujian, dan jika kita lulus kita akan naik ke kelas yang lebih tinggi. Saat kita naik ke kelas yang lebih tinggi dan kita dihadapkan pada ujian yang mudah, kita tidak akan merasa panik atau gugup karena kita sudah ada di kelas yang lebih tinggi. Tapi penerapan secara spiritualnya, terbang seperti Rajawali yang melampaui badai diibaratkan sepeti kita yang mengadalkan Tuhan dalam mengatasi permasalahan kita. Kita yang disertai Tuhan, berada di atas badai tersebut sehingga kita tidak perlu merisaukan badai itu. Kita memiliki kekuatan untuk melaluinya.

6. Belajar dari Kura-kura
Baru-baru ini aku menemukan buku tentang penerapan filosofi kura-kura dalam hal Investasi. Kura-kura dianggap sebagai binatang yang sangat lamban, tapi kelebihannya kura-kura itu berumur panjang. Dalam hal investasi, seorang yang sifatnya spekulan dan oportunis biasanya investasinya tidak akan berumur panjang dan selalu menguntungkan. Sedangkan orang yang pelan-pelan, hati-hati, dan tidak rakus malah justru bisa mengoptimalkan keuntungannya. Aku belum membaca buku ini, tapi kira-kira itulah hal yang bisa kita pelajari dari kura-kura.

Masih banyak lagi pelajaran yang bisa kita dapatkan dari binatang yang lain, misalnya Pinguin, Burung Merpati, dll. Semoga lain kali aku bisa meneruskan topik ini setelah aku mempelajari lebih jauh tentang binatang-binatang yang lain. Tapi intinya, dalam hidup ini ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari alam ciptaan Tuhan ini, termasuk salah satunya dari binatang.

Tuesday, August 19, 2008

Demi Olimpiade?


Beijing menjadi sorotan mata orang banyak dengan adanya Olimpiade yang saat ini sedang berlangsung di sana. Semua mata memandang dan semua lidah berdecak kagum melihat persiapan yang dilakukan oleh pemerintah Beijing.

Pemerintah China di Beijing berusaha mengurangi polusi dengan memindahkan pabrik-pabrik di sekitar lokasi Olimpiade dan membatasi jumlah kendaraan bermotor dengan memberlakukan penggiliran kendaraan berdasar tahun pembuatannya. Hasilnya, tingkat polusi di Beijing langsung melorot drastis!

Pemerintah China juga berusaha menjaga keindahan lokasi Olimpiade dengan melarang penduduknya memakai piyama saat keluar dari rumah, melarang meludah sembarangan, dan melarang penduduk Beijing menggunakan sepatu hitam dan kaus kaki putih yang biasanya menjadi national foot wear mereka.

Gedung untuk Stadion Utama Olimpiade dibangun dengan dana sekitar 4 trilyun rupiah, dengan pengaturan udara, pencahayaan, dan layout yang sedemikian rupa sehingga benar-benar sempurna untuk pelaksanaan seluruh pertandingan Olimpiade. Pintu keluar masuknya pun sudah diperhitungkan dengan matang supaya tidak terjadi antrian panjang atau malah terjadi "Tragedi Terowongan Mina"yang akan menyengsarakan para penonton.

Kereta bawah tanah dibuat dengan dana yang luar biasa mahal pula, sebagai kereta bawah tanah dengan jalur terpanjang di dunia. Rute kereta ini memiliki jalur khusus untuk menuju ke Stadion Utama Olimpiade.

Bukan itu saja, bahkan untuk memastikan bahwa peserta tidak menggunakan doping, telah dibuat metode pengujian yang sangat canggih sehingga dapat dipastikan bahwa tidak ada kecurangan dari para peserta Olimpiade.

Well, itu hanya sekelumit hal yang aku ketahui tentang persiapan Beijing untuk menjadi tuan rumahnya Olimpiade 2008 ini. Pasti masih banyak hal lagi yang membuat dunia menjadi sangat kagum akan kemajuan China.

Nah, ada 1 hal yang aku yakin pasti timbul di pikiran sebagian besar penduduk Indonesia yang mengikuti persiapan Olimpiade ini: "Kok bisa ya Pemerintah Beijing sedemikian gampangnya mengatur penduduknya untuk mentaati peraturan-peraturan yang dibuat?" Coba kalau hal itu diterapkan di Jakarta. Apa penduduk Jakarta mau mentaati peraturan-peraturan seperti itu? Apa bisa mengendalikan polusi yang sudah sedemikian parah di kota ini?

Hal yang kedua yang mungkin terlintas juga, "Kapan ya Indonesia bisa jadi tuan rumah Olimpiade? 10 tahun lagi? 20 tahun lagi? Atau 100 tahun lagi saat semua negara sudah men-jajal dan meraup keuntungan dengan menjadi tuan rumah Olimpiade, dan sudah tidak ada alternatif negara lain, barulah kita bisa menjadi tuan rumah Olimpiade. Well, nobody knows...

Nah, kembali ke laptop, apakah Beijing melakukan ini semua hanya demi Olimpiade? Aku yakin tidak! Justru Olimpiade ini hanyalah sebuah media unjuk gigi. Pada akhirnya kekaguman orang akan Beijing pada khususnya dan China pada umumnya akan berdampak sangat positif pada perkembangan ekonomi mereka. Perkembangan ini dipicu oleh semakin percayanya investor untuk berinvestasi di Negeri Panda ini.

Well, two thumbs up to you, Beijing!

Sunday, July 13, 2008

Instant Generation


Istilah generasi instan pasti sudah sering kita dengar baik di media massa maupun di percakapan sehari-hari. Seringkali saat membicarakan tentang generasi instan, yang muncul adalah keluhan bahwa generasi sekarang kebanyakan adalah anak-anak manja yang kurang punya daya juang dan maunya segala sesuatu serba instan.


Pada saat aku kuliah tentang Marketing Management, salah satu kalimat yang sangat nyantol di benakku adalah pada saat belajar tentang customer value. Dosenku mengatakan bahwa 2 value yang paling dianggap berharga dan penting oleh 'global customer' (customer-customer jaman sekarang) adalah SPEED dan CONVENIENCE. Aku sepenuhnya setuju dengan pernyataan itu walaupun sampai sekarang aku tidak tau apakah itu adalah pernyataan pribadi dosenku atau pernyataan seorang ahli yang didukung data dan fakta.


Customer saat ini menginginkan produk dan layanan yang serba cepat dan nyaman untuknya. Produsen yang menawarkan kedua value tersebut dengan lebih tinggi, dialah yang akan mendapatkan favor dari customer dan akhirnya bisa memenangi persaingan.


Contoh layanan yang mengandung unsur speed dan convenience misalnya: delivery service yang sekarang tidak hanya terbatas untuk makanan saja, tapi segala macam barang bisa didelivery. Contoh lain yaitu pemasaran via website. Untuk memesan suatu barang, customer tinggal duduk di depan komputer dan melakukan beberapa kali klik, lalu tidak lama kemudian datanglah pesanannya. Contoh lain lagi dalam hal mengirim pesan, rasanya metode mengirim pesan telah ber-evolusi selama berabad-abad supaya pesan bisa terkirim dengan lebih cepat dan proses pengirimannya nyaman bagi pengirim pesan (lagi-lagi 'speed' dan 'convenience'). Dulu untuk mengirim pesan orang harus berjalan atau naik kuda berjam-jam bahkan berhari-hari untuk bisa sampai ke tujuan pesan tersebut. Atau orang harus menunggu berlama-lama pesannya dikirimkan lewat sungai (message in a bottle) atau dengan perantara burung merpati yang memakan waktu cukup lama dan belum tentu sampai ke orang yang dituju. Saat masuk ke era bisnis, mulai ada post service yang bisa mengirimkan pesan kita dalam waktu paling cepat 1 hari. Di awal era teknologi mulai berkembang yang namanya telegraph dan telephone. Nah, lihatlah sekarang saat teknologi-teknologi canggih mulai merajai dunia ini, kita bisa mengirim pesan dengan berbagai cara yang praktis dan cepat, misalnya dengan mengirimkan SMS, email, dan telephone dengan HP atau VoIP. Semua pesan yang kita sampaikan bisa tersampaikan dalam hitungan detik dan dengan usaha yang sangat minim.


Kalau kita kaji lagi, sebetulnya yang namanya hal-hal yang bersifat instan itu sangat banyak keuntungannya bagi kita. Lihatlah bisnis telekomunikasi yang berkembang seperti jamur di musim hujan. Semua orang ingin punya alat komunikasi yang namanya Ha Pe. Dalam hal bisnis, untuk meeting dengan kolega di luar negeri, tinggal gunakan saja fasilitas tele-conference yang sangat praktis. Untuk memasarkan produk kita, buat saja website atau iklankan produk kita di internet dan seluruh dunia bisa melihatnya. Jadi sisi positif dari 'instanity' sebetulnya sangat banyak.


Tapi tidak bisa kita pungkiri bahwa sisi negatif dari hal-hal yang sifatnya instan pun sangat banyak. Hal-hal yang memiliki value speed dan convenience ada di sekitar kita. Misalnya untuk menyalakan TV atau AC kita tinggal pencet remote control, mau kirim pesan tinggal gerakkan jempol dengan effort yang sangat minim, mau minum kopi, teh, atau susu, semuanya disediakan dalam bentuk instan. Mau tidak mau hal-hal tersebut membentuk kebiasaan generasi sekarang menjadi lebih malas bergerak dan terbiasa dengan hal-hal yang 'langsung jadi'. Dengan kebiasaan seperti itu, tidak heran kalau daya juang mereka ('mereka'?? gue juga kalee.. :)) jadi lemah. Mereka jadi gampang menyerah dan kurang tough (ulet) baik dalam belajar, bekerja, maupun kehidupan sehari-hari.


Di Indonesia ini, budaya serba instan didukung lagi oleh keluarga-keluarga yang memanjakan anak-anaknya. Dengan dalih bahwa para orang tua tidak ingin anaknya mengalami 'kesusahan' yang mereka alami dulu, maka mereka menyediakan semua fasilitas yang secara tidak langsung malah menjadi 'racun' untuk anaknya. Misalnya adanya suster dan pembantu yang secara full time memang tersedia untuk anak tersebut. Selain itu, tidak seperti di luar negeri dimana dari masa kuliah seorang anak sudah terbiasa hidup mandiri dan terpisah dari orang tuanya. Kalau di Indonesia, bahkan sampai menikah pun seringkali si anak masih dibiayai oleh orang tuanya, dibelikan rumah, mobil, dan semua fasilitas lainnya. Malu-maluinnya lagi, saat si anak sudah mulai bereproduksi dan menghasilkan keturunan, biaya sekolah si cucu itu pun ditanggung oleh kakek atau neneknya. OMG, no wonder di kantor pun banyak orang mengeluhkan bahwa karyawan-karyawan baru mereka manja-manja dan daya juangnya sangat lemah. Bahkan seorang direktur yang aku kenal, pada saat dia merekrut dia lebih suka merekrut orang-orang 'susah' karena orang-orang ini punya daya juang yang tinggi untuk berpindah dari kesusahannya itu menuju kepada kondisi yang lebih baik.
Ada ungkapan yang berkata "the enemy of a great life, is a good life". Kalau tidak salah ungkapan ini dari Andrie Wongso. Generasi sekarang yang sudah mengalami enaknya 'good life' dengan fasilitas yang serba instan di sekelilingnya, akhirnya menjadi susah untuk mencapai 'great life' karena instanity itu menciptakan comfort zone dan contentment (merasa sudah puas).
Nah, hal ini menjadi tanggung jawab para orang tua untuk bisa mendidik anaknya agar dalam lingkungan yang menyediakan hal-hal yang serba instan, dia tetap bisa menjaga anaknya supaya tidak memiliki mental 'instan' juga. Mungkin kita bisa belajar dari 'si super kaya' Donald Trump yang bisa mendidik anaknya sehingga anaknya tidak manja dan tetap punya daya juang tinggi seperti bapaknya. Salah satu kunci sukses Donald Trump dalam mendidik anaknya yaitu dia tidak pernah mengatakan bahwa segala yang dimiliki olehnya adalah milik anaknya juga. Jadi anak-anaknya itu dikondisikan seolah-olah mereka numpang di rumah orang lain dan meminjam fasilitas dari orang lain. Kemewahan yang dimiliki oleh Mr.Trump itu adalah hasil dari kerja kerasnya sendiri, dan kalau anaknya itu menginginkan kemewahan yang sama menjadi milik mereka, ya mereka harus kerja keras juga. Interesting thought kan...

Thursday, June 12, 2008

Underestimate and Overestimate

Don't judge the book by it's cover (jangan menghukum buku dengan koper, hihi...). Kita pasti sering mendengar istilah ini kan? Maksutnya jangan menilai seseorang hanya dari penampakan luarnya saja.


Tapi kenyataan yang sering terjadi apa? Manusia mempunyai kecenderungan untuk menilai orang lain, dan penilaian yang akan digunakan pasti berdasarkan penampakan luar dan perbuatan yang tampak di depan mata kita. Ya iya lah, emangnya kita paranormal... Tapi sejalan dengan pengenalan kita akan seseorang, dimana kita mulai bisa mengenal sifat aslinya, biasanya penilaian kita akan seseorang akan berubah. Entah itu berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk.


Ada beberapa hal yang bisa membuat kita sangat menyukai seseorang, dan hal ini berbeda-beda untuk setiap orang. Kalau kita bicara tentang cewe ni, ada cewe yang suka banget liat cowo ganteng. Ya, sebagai cewe normal aku juga suka liat cowo ganteng. Apalagi menurutku cowo ganteng adalah salah satu satwa eh makhluk langka di dunia ini. Tapi ada cewe yang suka banget sama cowo ganteng ga peduli cowo itu IQ-nya jongkok, kelakuannya amburadul, de el el. Yang penting ganteng titik. Selain itu ada juga cewe yang suka sama cowo yang cerdas. Biasanya keliatan dari saat dia berbicara, seberapa luas wawasan yang dimiliki dan bagaimana cara dia mengkomunikasikan ide-idenya. Hal ini juga bisa bikin cewe terkagum-kagum dan langsung menambahkan sederet nilai plus untuk orang tersebut. Ada juga cowo tipe penakluk wanita. Tipe cowo seperti ini adalah orang yang sadar bahwa makhluk yang namanya wanita itu sangat suka dipuji dan diperhatikan. Dan selain menyadari hal itu, dia menyesuaikan tindakan dan ucapannya untuk mengambil hati para wanita. Dalam hidupku setidaknya ada 3 cowo yang cara bicara dan tindakannya bener-bener bisa bikin cewe klepek-klepek. Jadi, biarpun dia tidak terlalu kenal dekat dengan aku, dan meskipun dia tau aku sudah bersuami, tetap saja cara bicara dan kelakuannya membuatku merasa tersanjung dan melayang-layang ke langit ke-7, dan berharap dalam hati ("I wish my husband was as romantic as him"). Tipe cowo seperti ini juga sangat mempengaruhi penilaian kita terhadap seorang pria.


Di sisi lain, ada hal yang bisa membuat seseorang nilainya langsung merosot di mata kita. Ada orang yang sangat menjunjung tinggi penampilan. Penampilan dalam hal ini ada yang hanya menuntut supaya seseorang rapi, ada juga yang menuntut seseorang supaya modis. Orang-orang ini kalau ketemu dengan orang yang tidak rapi, atau tidak modis, nilainya akan jatuh drastis dalam pikirannya. Buatku malah sebaliknya, kalau aku melihat orang, terutama cowo yang terlalu rapi dan terlalu memikirkan penampilan, malah membuatku jadi ilfeel terhadap dia. Ada orang yang tidak suka dengan cowo atau cewe yang merokok. Rasanya tipe ini banyak deh, tadinya kita kagum dengan seseorang, tapi begitu tau dia ternyata merokok, maka penilaian kita langsung berubah terhadap orang itu. Ada juga orang yang tidak suka dengan cewe yang terlalu "vulgar" dan terlalu "berani". Aku beri tanda kutip karena definisi vulgar dan berani akan berbeda-beda untuk setiap orang. Ada juga orang yang menjunjung tinggi kedisiplinan dan akan sangat sebel ngeliat orang yang tidak disiplin. Selain itu aku juga baru menemukan bahwa seseorang akan langsung jatuh nilainya di mataku kalau dia terlihat "ga niat" atau tidak serius dalam melakukan sesuatu. Ternyata hal itu sangat mempengaruhi penilaianku.


Dalam hidupku aku sering mengalami di-underestimate atau di-overestimate oleh orang lain. Seperti ceritaku sebelumnya, aku sering di-underestimate karena mukaku dan cara bicaraku terlihat seperti anak-anak. Tapi aku juga sering di-overestimate, misalnya dulu saat aku kuliah aku sering dianggap sebagai orang paling pintar di kelas karena di beberapa pelajaran nilai-nilaiku terlihat sangat menonjol dibanding orang lain. Baru pas acara wisuda mereka kaget karena IP-ku tidak se'sophisticated' yang mereka kira. Aku juga sering di-overestimate di kantor, misalnya oleh bosku yang native speaker bahasa inggris. Karena lidahku mudah menyesuaikan dengan logat-logat bahasa asing, saat interview aku memberikan kesan bahwa bahasa inggrisku jago, jadi sampai saat ini aku sudah beberapa kali diminta untuk menjadi translator di event-event di kantorku. Atau saat bosku berbicara di muka umum dan dia bingung mengatakan sesuatu dalam bahasa Indonesia, dia akan menanyakan padaku, misalnya di tengah speech-nya dia tiba-tiba bertanya: "Herlina, how to say 'take it for granted' in Indonesian?". Meskipun aku beberapa kali gelagapan menjawab pertanyaannya, tapi sampai sekarang dia belum kapok juga memintaku mentranslatekan bahasa Inggrisnya.

Di-underestimate itu memang tidak enak. Tapi saat kita bisa membuktikan bahwa kita lebih dari yang mereka pikirkan, hal tersebut bikin kita jadi bangga. Sebaliknya, di-overestimate itu awalnya terasa menyenangkan, tapi setelah itu, saat ternyata kinerja atau perilaku kita tidak sehebat yang dinilai sebelumnya, mereka jadi kecewa dan kita juga rasanya jadi malu sendiri...

Intinya sih, jangan kita terlalu mudah terpengaruh terhadap under-estimate maupun over-estimate orang lain, kecuali hal itu bisa memacu kita untuk menjadi orang yang lebih baik. Di sisi lain dalam posisi kita menilai orang lain, jangan kita terlalu mudah men-judge orang lain hanya dari penampakan luarnya, karena seringkali penampilan luar itu menipu.

Monday, June 9, 2008

Phobia

Phobia sebetulnya adalah bahasa Yunani dari "takut" (fear). Ketakutan adalah perasaan yang timbul dari persepsi bahwa sesuatu itu berbahaya. Ketakutan berfungsi sebagai alat pertahanan yang menempel di otak kita. Pada saat alat pertahanan ini bekerja, timbul response berupa ketegangan, kepanikan, kalap, dan response-response lain yang tidak akan muncul kalau kita dalam kondisi normal. Response itu muncul dari terproduksinya dan dilepaskannya hormon adrenalin dalam tubuh kita, dimana ketakutan itu merupakan salah satu trigger / pemicu terkuat produksi adrenalin.

Kenapa harus dibedakan antara fear dan phobia? Karena phobia sebetulnya adalah ketakutan yang tidak rasional. Seseorang merasa super takut akan suatu hal, sementara buat orang lain hal-hal itu adalah hal yang biasa-biasa saja.

Kapan ketakutan berubah menjadi phobia? Ada 3 penyebab dari phobia:

- Classical conditioning: timbulnya phobia karena memang dikondisikan sesuatu itu menakutkan atau membahayakan. Contohnya ada percobaan terhadap seorang anak bernama Albert. Tadinya Albert tidak pernah takut terhadap tikus, bahkan dia pernah mengejar-ngejar tikus, menangkapnya, dan mempermainkan tikus itu. Tapi kemudian psikolog yang melakukan penelitian itu menunjukkan pada Albert sebuah tikus, lalu memukul dengan kuat sebuah pipa logam sehingga timbul bunyi yang kencang. Kejadian itu diulang beberapa kali, yaitu memunculkan tikus sambil membuat suara kencang. Lama kelamaan, walau tanpa terdengar suara apapun, Albert menjadi takut terhadap tikus. Contoh sehari-hari misalnya saat anak kecil tidak mau makan, orang tuanya bertanya pada anak itu: kalau kamu tidak mau makan, nanti biar ditangkep sama Pak Polisi. Akhirnya terbawa terus di pikirannya bahwa yang namanya Polisi itu menakutkan. Ada banyak pengkondisian ini yang dilakukan oleh orang tua dan terjadinya pada masa kecil seseorang dimana pada saat itu otaknya sangat mudah menyerap hal-hal yang terjadi di sekelilingnya dan langsung membuat persepsi dan asumsi sesuai dengan hal-hal yang diterimanya.

- Biological causes: timbulnya phobia karena terdapat gen yang memang membuat kita takut terhadap suatu hal. Selain gen, ada juga bagian di otak kita yang bernama Amygdala yang berfungsi menghubungkan memori dengan emosi. Dalam keadaan bahaya, tubuh mengirimkan signal kepada Amygdala, dan kemudian Amygdala menjalankan fungsinya menyimpan ketakutan yang berasosiasi dengan suatu object atau situasi tertentu. Jadi saat object atau situasi tersebut muncul, maka emosi kita berupa ketakutan akan muncul pula.

Jenis-jenis phobia, diantaranya adalah:
1. Social Phobias & Agoraphobia: Social phobias atau seringkali disebut dengan Social Anxiety Disorder, adalah ketakutan bersosialisasi dengan orang lain. Orang yang mengalami social phobia merasa tidak nyaman saat bertemu atau berkumpul dengan orang lain karena takut dipermalukan, dihina, atau dipandang rendah oleh orang lain. Rasa takutnya ini begitu kuat sehingga mengganggu dan membuatnya tertekan saat akan bertemu dengan orang lain. Rasa tertekan ini bahkan bisa dirasakan beberapa hari sebelum hari H.

Contohnya: aku punya seorang keponakan yang kalau berada di sekitar orang-orang yang sudah dikenalnya dengan dekat, dia akan menjadi seorang yang sangat terlihat cerewet dan berani. Tapi, saat kita mau berkunjung ke rumah orang yang belum dikenalnya, dia pasti tidak mau masuk ke rumah itu. Contoh extrim lagi, saat dia main mandi bola begitu ada orang lain yang masuk ke ruang mandi bola, dia akan langsung keluar dari ruang itu.

Kalau Agoraphobia adalah istilah untuk ketakutan akan hal-hal yang sifatnya asing atau menakutkan bagi yang bersangkutan, bisa jadi suatu situasi atau tempat. Contoh agoraphobia misalnya: lygophobia (ketakutan akan tempat gelap) dan eicophobia (takut keluar dari rumah). Contoh kejadiannya: Kampung halamanku adalah tempat indah yang ada di dekat 2 gunung berapi. Begitu terjadi kebakaran gunung, akan terlihat jelas dari rumahku, dan aku menjadi sangat takut kalau gunung itu akan meletus dan meluncurkan lahar panas yang akan mengejar-ngejarku. Artinya aku ketakutan terhadap sebuah situasi, yaitu kebakaran gunung.


2. Specific Phobia: yaitu phobia terhadap hal-hal tertentu yang spesifik, misalnya: altophobia (takut ketinggian), siderodromophobia (takut akan kereta api), potamophobia (takut terhadap air yang mengalir), cynophobia (takut terhadap anjing atau rabies), batrachophobia (takut terhadap kodok). Kalau aku sendiri mengalami kecoaphobia (takut sama kecoak!:))

Bagaimana cara mengatasi phobia? Ada 2 cara untuk mengatasi phobia:

- Menghindari hal-hal yang membuat phobia. Misalnya kalau takut ketinggian ya hindarilah ketinggian, misalnya hindari bekerja di gedung bertingkat, khususnya di lantai-lantai atasnya.

- Cara yang kedua yaitu sengaja terus meng-expose diri dengan hal-hal yang membuat phobia, tentu saja sambil melatih diri dan mengubah cara berpikir supaya tidak lagi takut terhadap hal-hal tersebut. Tereapi untuk hal ini disebut Cognitive Behavioral Therapy. Orang yang mengikuti terapi ini akan selalu dicheck kelakuan-kelakuannya yang bersifat irasional, pikirannya juga selalu dimonitor. Biasanya terapi dilakukan dengan meng-expose secara gradual dengan hal yang ditakuti. Misalnya takut pada anjing. Dia mula-mula akan diminta untuk menonton di TV tentang anjing-anjing yang baik, yang bisa membantu orang cacat, yang sifatnya setia, yang cerdas, dll. Seterusnya diminta melihat secara langsung anjing tapi dari kejauhan, tentu saja dipilih anjing yang baik dan sudah terlatih. Setelah itu baru dipertemukan dengan anjing kecil yang kalem dan jinak. Lalu tahap selanjutnya diminta menyentuh, dan seterusnya sampai betul-betul merasa bahwa anjing itu makhluk yang menyenangkan dan bukan menakutkan. Namun sebelumnya, akan lebih baik jika orang itu bisa menemukan kenapa dia takut pada anjing, kemudian dia bisa menyadari bahwa hal itu menimbulkan dampak buruk dalam hidupnya, dan dia perlu menerima penyebab-penyebab itu dengan lapang dada.

Untuk phobia-phobia kecil bisa diatasi dengan 3 cara sederhana: latihan relaksasi (bisa dengan meditasi, mengatur pernafasan, relaksasi di air, spa, dll), obat-obatan untuk mengendurkan syaraf, dan sebuah group yang saling mensupport.

Jadi, jangan mau kalah dengan phobia!

Sunday, June 8, 2008

Confidence Manual


Pada saat aku mendesain materi Effective Communication, aku menemukan materi tentang self confidence di beberapa website. Ada beberapa hal menarik yang akan aku sharingkan.

Ada beberapa perbedaan antara orang yang confidencenya tinggi dan rendah:
1. Orang yang confidencenya tinggi akan melakukan hal yang dianggapnya benar, meskipun orang lain berbeda dengannya, bahkan menghina atau mengkritik. Sedangkan orang yang confidencenya rendah akan cenderung melakukan hal-hal yang dirasa menyenangkan orang lain (memiliki mental ABS atau asal bapak senang).
2. Orang yang confidencenya tinggi mau mengambil risiko dan melakukan lebih dari yang diminta (go extra mile) untuk mendapatkan hal yang lebih baik dalam hidupnya. Sedangkan orang yang confidencenya rendah biasanya lebih senang tinggal di comfort zone-nya, takut gagal, dan takut mengambil risiko.
3. Orang yang confidencenya tinggi mau mengakui kesalahannya dan mau belajar dari kesalahan. Yes, aku setuju banget sama hal ini. Orang yang tidak mengakui kesalahannya ga beda jauh sama orang yang berbohong karena dia tidak berani bertanggung jawab atas hal yang diperbuatnya, dan terlalu angkuh untuk memperbaiki kesalahannya, sehingga orang semacam ini tidak pernah improve dalam hidupnya.
4. Orang yang confidencenya tinggi akan berusaha "menjual diri" secara professional dan etis, sedangkan orang yang confidencenya rendah hanya menunggu sampai ada orang yang menghargai prestasinya.
5. Orang yang confidencenya tinggi akan menerima pujian dengan cara yang bijaksana: "Saya memang sudah berusaha keras untuk hal ini, terima kasih Anda menghargainya." Sedangkan orang yang confidencenya rendah akan menolak pujian seperti ini: "Ah, itu bukan apa-apa kok, semua orang juga bisa melakukannya."

Untuk memiliki confidence yang tinggi, selain perlu untuk memiliki mentalitas dan behavior-behavior di atas, ada beberapa tips untuk gesture (bahasa tubuh) dan attitude yang perlu dimiliki untuk meningkatkan image sehingga confidence kita pun bertambah.
1. Berdiri dan duduk dengan tegak. Pada saat duduk, usahakan tulang belakang lurus, tidak bongkok, tidak terlalu tegak, tidak miring kiri atau kanan. Posisi duduk yang ergonomis, selain bisa meningkatkan image, bisa menghindarkan kita dari kelainan-kelainan fisik seperti terjepitnya urat, kelainan tulang belakang, dan juga bisa memperlancar peredaran darah ke otak sehingga meningkatkan kinerja.
Begitu pula pada saat berdiri. Berdirilah dengan kedua kaki yang lurus dan tegak. Jika salah satu kaki tidak tegak, maka akan menimbulkan kesan malas-malasan, sedangkan jika badan bongkok akan menimbulkan kesan tidak percaya diri.
2. Berjalan dengan cepat. Ternyata berjalan cepat bisa meningkatkan image seseorang karena dia lebih terlihat aktif dan dinamis dibandingkan orang yang berjalan pelan-pelan atau klemar-klemer. Tapi gaya berjalan juga sangat mempengaruhi. Usahakan berjalan lurus dan tegap. Ada gaya jalan yang kakinya melebar kiri kanan mencerminkan orang yang cuek. Ada juga gaya jalan yang seperti kingkong mencerminkan orang yang selebor dan seenaknya.
3. Berjabat tangan dengan erat. Jabatan tangan yang erat dan mantap mencerminkan ketegasan seseorang.
4. Kepala selalu diletakkan di tempatnya. Maksutnya kepala jangan menunduk atau leher membungkuk saat memberi salam ataupun saat berbicara, karena memberikan kesan kita lebih rendah dibanding orang yang kita ajak bicara.
5. Gerakan tangan diatur. Tangan yang menutup, misalnya melipat tangan, atau tangan dikatupkan seperti orang sembayang mencerminkan orang yang menutup dirinya, bosan, atau tidak tertarik. Gerakan tangan juga perlu dikontrol agar tidak annoying bagi orang yang melihatnya.
6. Berbicara dengan kecepatan yang perlahan namun dengan tegas. Ada orang-orang yang memang tukang ngomong dan berbicara sudah seperti bernafas. Buat orang-orang seperti ini, tidak masalah untuk berbicara dengan cepat, karena kecepatan dari otak ke mulut sudah super speed. Tapi untuk yang perlu waktu untuk berpikir, masih kurang PD, dan masih kurang paham dengan topik pembicaraan, sebaiknya berbicara perlahan sehingga otak masih sempat berpikir, lidah tidak terbelit-belit, dan tidak sering menyebutkan pause filler (seperti: eeeee, apa namanya, yah, okay, dsb).
Berbicara dengan nada rendah juga bisa membantu kita untuk meningkatkan image, karena terkesan lebih dewasa dan lebih matang.
7. Jangan lupa selalu lakukan eye contact. Orang yang tidak memandang lawan bicaranya, biasanya adalah orang yang tidak PD, berbohong, atau tidak memperhatikan (o ya, atau sedang jatuh cinta pada lawan bicaranya dan takut ketahuan, hihi...)
8. Selalu berpikir positif. Jangan lupa "law of attraction". Kalau kita berpikir bahwa si A jahat, maka si A betul-betul akan bersikap jahat sehingga merugikan kita. Tapi kalau kita berpikir bahwa si A baik, maka tindakan kita akan berbeda sehingga si A pun akan menunjukkan sikap baiknya pada kita, dan akibatnya menguntungkan kita sendiri.
9. Memiliki "can do" attitude. Pada saat kita dihadapkan pada suatu challenge, jangan terlalu mudah mengatakan "tidak bisa". Atau dengan kata lain kita harus berpikir bahwa imposible is nothing.

Selain tips-tips di atas, kita perlu tahu bahwa meningkatkan kepercayaan diri adalah suatu proses. Proses yang melibatkan kekecewaan, malu, nyaris putus asa dan ingin lari dari kenyataan, dan series of kegagalan-kegagalan. Hal-hal tersebut kita alami karena kita menerima challange sebagai ujian untuk kita bisa naik kelas. Pada proses tersebut kita bisa nangis darah dan hujan keringat, tapi akhirnya puas dengan hasilnya. Bisa juga berakhir dengan kegagalan, tapi kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita buat. Jadi intinya bukan hasil akhirnya, tapi keberanian kita mengambil challenge / ujian-ujian itu, dan kemampuan kita untuk menarik pelajaran (lesson learned) dari peristiwa yang terjadi.