Friday, April 12, 2013
Peraturan
Monday, July 23, 2012
Insight from the Jompos
Tuesday, July 3, 2012
Pemalu dan Ignorant
Monday, June 1, 2009
Tanggung Jawab dan Kebebasan
Dia mengisahkan tentang anaknya yang bernama Marco.
Guru: Anak-anak, siapa di antara kalian yang hanya boleh main games (Nintendo, PSP, dkk) hari Sabtu saja?
(separuh kelas angkat tangan)
Guru: Ok. Sekarang, siapa yang boleh main games hari Sabtu dan Minggu?
(separuh kelas yang lain angkat tangan)
Guru: Bagus. Nah sekarang, siapa yang boleh main games kapan pun tanpa dibatasi oleh orang tuanya?
(hanya si Marco sendiri yang mengangkat tangan)
Guru itu menjadi heran karena selama ini Marco memiliki nilai-nilai yang cukup bagus. Kalau ada PR pun selalu dikerjakan dengan baik.
Menurut saudaraku, dengan diberikan kebebasan, si Marco malah jadi semakin bertambah tanggung jawabnya. Karena dibebaskan main games kapanpun, saat main games paling dia menghabiskan waktu setengah sampai 1 jam, toh besok-besok bisa main lagi. Tidak seperti anak lain yang karena cuma boleh main games di hari Sabtu, maka Sabtu adalah full time hari untuk main games, dan mereka jadi susah diajak jalan-jalan keluar oleh orang tuanya.
Paling untuk memotivasi Marco, dia menggunakan keseimbangan reward dan konsekuensi, seperti misalnya, kalau sampai nilai-nilainya jelek, maka PS akan ditarik dan Marco tidak boleh main games lagi untuk seterusnya.
Hmm... I definitely agree dengan cara mendidik seperti ini.
Ilustrasi kedua adalah bagaimana memperlakukan pembantu di rumah kita.
1. Di rumah ortuku pembantu selalu menjadi orang yang dicurigai. Jadi, prinsip dari ortuku semakin mereka diberi kebebasan, mereka akan jadi ngelunjak dan banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal negatif seperti bersantai-santai, mencuri, dkk. Akibatnya, ortuku jadi kerepotan sendiri. Mereka harus ekstra ketat mengontrol semua aktivitas pembantu, dan kalau ada suatu masalah para pembantu langsung terkena prinsip praduga bersalah. Hmm... ga nyaman juga kan hidup begitu. Untungnya ortuku punya cukup banyak waktu untuk mengontrol semua kegiatan pembantu di rumah. Tapi sebenernya dalam kondisi sekarang aku tidak menyalahkan mereka si, karena memang pembantu di rumah ortuku itu parah banget. Udah melakukan suatu hal puluhan kali masih sering salah-salah dan lupa-lupa juga. Tapi ortuku tetap mempertahankan pembantuku yang sekarang ini, soalnya kriteria mereka dalam memilih pembantu: biar bodo asal jujur.
2. Di rumahku, aku punya pembantu yang super rajin. Selalu terlihat bekerja non-stop di setiap kesempatan. Yang motong rumput lah, ngecat tembok lah, nguras kolam lah, sampai meng'kolot' sela-sela ubin lantai. Selain rajin, mereja juga terbukti jujur. So, aku mempercayakan banyak tanggung jawab di rumah kepada mereka. Dan, saat aku memerintahkan suatu tugas, aku bisa tinggal tenang karena yakin bahwa mereka pasti melakukan sesuai perintah. Selain itu aku tidak perlu kawatir kunci sana sini karena mereka bisa dipercaya. Jadi prinisipku, perlakukan para pembantu dengan baik, berikan semua hak-hak mereka, dan percayailah mereka, maka mereka akan melakukan segalanya dengan baik. Itu sudah terbukti dengan para pembantuku yang bukan saja loyal, tapi mereka tambah rajin dan kreatif. Coba aja, mereka bukan cuma membuat rumah menjadi bersih dan nyaman, tapi juga mempercantik rumahku. Vas bunga diisi dengan bunga-bunga kreatif hasil hand made mereka atau hasil dari kebunku, terus lap tangan juga dilipat dengan kreatif dan indah, selain itu mereka juga jadi hairstylist dari boneka yang ada di kamarku. Kadang rambut bonekaku dimodel punk, kadang diponi, kadang dijambul.. pokoknya mereka jadi kreatif deh...
Kalau aku melihat kembali kedua kejadian itu, memang kita tidak bisa membenarkan atau menyalahkan salah satunya. Karena bagaimana kita memperlakukan seseorang harus disesuaikan dengan karakter dan kematangan dari orang tersebut. Yah, seperti prinsip dalam situational leadership lah. Kalau anak buah kita memang secara kemampuan dan karakter sudah bagus, ya kita bisa melepas dia dan memberikan extra tanggung jawab. Tapi kalau kemampuan dan atau karakternya masih lemah, ya terpaksa kita kontrol dengan ketat.
Hal itu sangat applicable kalau kita membicarakan tentang pembantu atau anak buah yang datang kepada kita sudah dengan membawa kemampuan dan karakternya masing-masing, dan mereka punya 'obligasi' kepada kita karena kita adalah orang yang menilai performance mereka. Tapi kalau untuk anak-anak kita, wah aku ga yakin semudah itu. Mereka datang ke dunia ini dalam kondisi yang masih 'kosong'. Yah, meskipun masing-masing secara genetik sudah punya bawaannya sendiri-sendiri. Tapi orang tua memiliki andil besar dalam menentukan karakter anak-anak kita. Seberapa besar kontrol dan kebebasan yang kita berikan harus diseimbangkan, disesuaikan dengan kesiapan mereka dan tahap-tahap pertumbuhan yang mereka alami.
Well, gutluk for every parents & managers.
Thursday, September 25, 2008
Animal Philosophy
Ternyata binatang juga bisa menginspirasi kita mengenai hikmah-hikmah dalam hidup ini.
1. Filosofi Babi
Kali ini babi mengajarkan pada kita suatu hal yang buruk yang tidak pantas untuk ditiru. Untuk menyuruh seekor babi untuk maju - misalnya untuk masuk ke kandangnya - caranya bukan dengan mendorongnya, tapi dengan menarik ekornya.
Kalau diaplikasikan pada kehidupan ini, hal ini nyata pada saat kita mengamati seorang anak. Bagi Anda yang sudah punya Anak, atau bagi kita yang mengingat pengalaman kita dulu, mungkin kita ingat saat kita disuruh untuk melakukan sesuatu, kita malah jadi sungkan untuk melakukan hal yang disuruh. Nah, kalau dilarang untuk melakukan sesuatu, kita malah cenderung berusaha melakukan hal itu.
Ternyata hal tersebut adalah kecenderungan yang juga dimiliki oleh hewan yang bernama Babi. Tentu saja kecenderungan ini tidak baik karena munculnya dari ego seseorang yang merasa harga dirinya terganggu kalau dia menuruti suatu perintah.
Sebaliknya, dari sisi orang yang mengerti filosofi ini, kita bisa mengatur cara bicara kita agar tidak terkesan memerintah, namun bisa membuat seseorang melakukan apa yang kita inginkan. Rasanya hal ini juga perlu diketahui oleh semua Leader, karena tidak semua orang suka dan mau disuruh dengan cara yang memerintah dan merendahkan.
2. Filosofi Kodok
Seseorang yang menggunakan cara yang tidak halal untuk mencapai kesuksesannya seringkali diibaratkan seperti Kodok. Untuk mencapai posisi yang lebih tinggi, dia akan menginjak-injak bawahan, menyikut teman-teman kerjanya (peers), dan menjilat atasannya.
Secara halus maupun kasar, pasti seringkali praktik Kodok ini banyak dijalankan oleh orang-orang dalam pekerjaannya. Rasanya orang yang masih mempraktekkan hal ini perlu mempelajari Prinsip Win-Win dari 7 Habit-nya Steven Covey.
3. Belajar dari Semut
Semut sebagai binatang yang sangat kecil, dan biasanya selalu berusaha untuk kita usir, malah bisa memberik kita pelajaran yang berharga.
Yang pertama adalah pelajaran tentang Peluang. Ada pepatah yang berkata: "Ada gula ada semut". Artinya dimana ada harta atau ada peluang, disitu orang akan berkumpul. Sama seperti kondisi Jakarta sekarang, karena kurangnya pemerataan pembangunan, maka hanya Jakarta saja yang diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Daerah lainnya kurang diperhatikan, sehingga orang-orang daerah memutuskan untuk 'berkumpul' di Jakarta.
Di sisi lain, kalau kita ingin dikerubuti oleh banyak semut, ya berusahalah untuk menjadi gula yang diinginkan oleh para semut itu. Hal ini bisa dipraktekkan dalam mencari jodoh, perkembangan karir, maupun dalam kehidupan sosial kita.
Hal kedua yang bisa dipelajari dari semut adalah tentang Kerajinan dan Kerja Sama. Semut dipercaya sebagai binatang yang paling rajin. Dia selalu mengumpulkan makanan dengan rajin, pada musim yang tepat, sehingga semut tidak akan kekurangan makanan pada musim 'paceklik'. Nah, karena menyadari tubuhnya yang super mini itu, maka semut memutuskan untuk bekerja sama dengan semut lainnya untuk mencapai tujuan bersama bagi para semut, yaitu untuk memperoleh makanan mereka.
Kalau semut pun bisa bekerja serajin itu, masa kita sebagai manusia hanya mau bermalas-malasan saja?
4. Belajar dari Anjing.
Sejak aku memiliki Anjing, aku jadi mengamati sifat dan kebiasaan yang dimiliki oleh Anjingku. Salah satu hal yang kita bisa pelajari dari Anjing adalahbahwa Anjing itu adalah binatang yang sangat setia. Kesetiaan Anjing ini terlihat dari kebiasaannya yang selalu ingin dekat dengan tuannya. Pasti kita sering mendengar kisah Anjing yang selalu ikut dengan tuannya kemanapun dia pergi. Ada temanku yang anjingnya mengikuti dia kemanapun termasuk saat dia kuliah. Saat mertuaku pergi ke sebuah gereja di luar negeri, ada Anjing yang mengikuti misa, termasuk ikut antri saat tuannya berjalan ke depan untuk menerima komuni. Saat aku makan dan ada Anjingku disebelahku, maka aku tidak akan tega membiarkan dia ngiler, pasti aku akan memberikan apapun yang bisa kuberikan padanya. Itupun menginspirasikan hubunganku dengan Tuhan. Aku yakin jika kita maunya deket deket sama Dia, pasti Dia juga tidak akan kuasa untuk menahan berkat-berkatnya untuk kita.
5. Belajar dari Rajawali
Rajawali adalah burung yang sangat kuat dan perkasa. Pada saat badai datang, dia tidak bersembunyi dan meringkuk di sarangnya, tapi dia malah terbang tinggi melampaui badai tersebut. Kehidupan ini sering diumpamakan sebagai sebuah sekolah untuk kita. Saat permasalahan datang, kita seperti sedang mengalami sebuah ujian, dan jika kita lulus kita akan naik ke kelas yang lebih tinggi. Saat kita naik ke kelas yang lebih tinggi dan kita dihadapkan pada ujian yang mudah, kita tidak akan merasa panik atau gugup karena kita sudah ada di kelas yang lebih tinggi. Tapi penerapan secara spiritualnya, terbang seperti Rajawali yang melampaui badai diibaratkan sepeti kita yang mengadalkan Tuhan dalam mengatasi permasalahan kita. Kita yang disertai Tuhan, berada di atas badai tersebut sehingga kita tidak perlu merisaukan badai itu. Kita memiliki kekuatan untuk melaluinya.
6. Belajar dari Kura-kura
Baru-baru ini aku menemukan buku tentang penerapan filosofi kura-kura dalam hal Investasi. Kura-kura dianggap sebagai binatang yang sangat lamban, tapi kelebihannya kura-kura itu berumur panjang. Dalam hal investasi, seorang yang sifatnya spekulan dan oportunis biasanya investasinya tidak akan berumur panjang dan selalu menguntungkan. Sedangkan orang yang pelan-pelan, hati-hati, dan tidak rakus malah justru bisa mengoptimalkan keuntungannya. Aku belum membaca buku ini, tapi kira-kira itulah hal yang bisa kita pelajari dari kura-kura.
Masih banyak lagi pelajaran yang bisa kita dapatkan dari binatang yang lain, misalnya Pinguin, Burung Merpati, dll. Semoga lain kali aku bisa meneruskan topik ini setelah aku mempelajari lebih jauh tentang binatang-binatang yang lain. Tapi intinya, dalam hidup ini ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari alam ciptaan Tuhan ini, termasuk salah satunya dari binatang.
Tuesday, August 19, 2008
Demi Olimpiade?

Pemerintah China di Beijing berusaha mengurangi polusi dengan memindahkan pabrik-pabrik di sekitar lokasi Olimpiade dan membatasi jumlah kendaraan bermotor dengan memberlakukan penggiliran kendaraan berdasar tahun pembuatannya. Hasilnya, tingkat polusi di Beijing langsung melorot drastis!
Pemerintah China juga berusaha menjaga keindahan lokasi Olimpiade dengan melarang penduduknya memakai piyama saat keluar dari rumah, melarang meludah sembarangan, dan melarang penduduk Beijing menggunakan sepatu hitam dan kaus kaki putih yang biasanya menjadi national foot wear mereka.
Gedung untuk Stadion Utama Olimpiade dibangun dengan dana sekitar 4 trilyun rupiah, dengan pengaturan udara, pencahayaan, dan layout yang sedemikian rupa sehingga benar-benar sempurna untuk pelaksanaan seluruh pertandingan Olimpiade. Pintu keluar masuknya pun sudah diperhitungkan dengan matang supaya tidak terjadi antrian panjang atau malah terjadi "Tragedi Terowongan Mina"yang akan menyengsarakan para penonton.
Kereta bawah tanah dibuat dengan dana yang luar biasa mahal pula, sebagai kereta bawah tanah dengan jalur terpanjang di dunia. Rute kereta ini memiliki jalur khusus untuk menuju ke Stadion Utama Olimpiade.
Bukan itu saja, bahkan untuk memastikan bahwa peserta tidak menggunakan doping, telah dibuat metode pengujian yang sangat canggih sehingga dapat dipastikan bahwa tidak ada kecurangan dari para peserta Olimpiade.
Well, itu hanya sekelumit hal yang aku ketahui tentang persiapan Beijing untuk menjadi tuan rumahnya Olimpiade 2008 ini. Pasti masih banyak hal lagi yang membuat dunia menjadi sangat kagum akan kemajuan China.
Nah, ada 1 hal yang aku yakin pasti timbul di pikiran sebagian besar penduduk Indonesia yang mengikuti persiapan Olimpiade ini: "Kok bisa ya Pemerintah Beijing sedemikian gampangnya mengatur penduduknya untuk mentaati peraturan-peraturan yang dibuat?" Coba kalau hal itu diterapkan di Jakarta. Apa penduduk Jakarta mau mentaati peraturan-peraturan seperti itu? Apa bisa mengendalikan polusi yang sudah sedemikian parah di kota ini?
Hal yang kedua yang mungkin terlintas juga, "Kapan ya Indonesia bisa jadi tuan rumah Olimpiade? 10 tahun lagi? 20 tahun lagi? Atau 100 tahun lagi saat semua negara sudah men-jajal dan meraup keuntungan dengan menjadi tuan rumah Olimpiade, dan sudah tidak ada alternatif negara lain, barulah kita bisa menjadi tuan rumah Olimpiade. Well, nobody knows...
Nah, kembali ke laptop, apakah Beijing melakukan ini semua hanya demi Olimpiade? Aku yakin tidak! Justru Olimpiade ini hanyalah sebuah media unjuk gigi. Pada akhirnya kekaguman orang akan Beijing pada khususnya dan China pada umumnya akan berdampak sangat positif pada perkembangan ekonomi mereka. Perkembangan ini dipicu oleh semakin percayanya investor untuk berinvestasi di Negeri Panda ini.
Well, two thumbs up to you, Beijing!
Sunday, July 13, 2008
Instant Generation

Thursday, June 12, 2008
Underestimate and Overestimate
Di-underestimate itu memang tidak enak. Tapi saat kita bisa membuktikan bahwa kita lebih dari yang mereka pikirkan, hal tersebut bikin kita jadi bangga. Sebaliknya, di-overestimate itu awalnya terasa menyenangkan, tapi setelah itu, saat ternyata kinerja atau perilaku kita tidak sehebat yang dinilai sebelumnya, mereka jadi kecewa dan kita juga rasanya jadi malu sendiri...
Intinya sih, jangan kita terlalu mudah terpengaruh terhadap under-estimate maupun over-estimate orang lain, kecuali hal itu bisa memacu kita untuk menjadi orang yang lebih baik. Di sisi lain dalam posisi kita menilai orang lain, jangan kita terlalu mudah men-judge orang lain hanya dari penampakan luarnya, karena seringkali penampilan luar itu menipu.
Monday, June 9, 2008
Phobia
Phobia sebetulnya adalah bahasa Yunani dari "takut" (fear). Ketakutan adalah perasaan yang timbul dari persepsi bahwa sesuatu itu berbahaya. Ketakutan berfungsi sebagai alat pertahanan yang menempel di otak kita. Pada saat alat pertahanan ini bekerja, timbul response berupa ketegangan, kepanikan, kalap, dan response-response lain yang tidak akan muncul kalau kita dalam kondisi normal. Response itu muncul dari terproduksinya dan dilepaskannya hormon adrenalin dalam tubuh kita, dimana ketakutan itu merupakan salah satu trigger / pemicu terkuat produksi adrenalin.Kenapa harus dibedakan antara fear dan phobia? Karena phobia sebetulnya adalah ketakutan yang tidak rasional. Seseorang merasa super takut akan suatu hal, sementara buat orang lain hal-hal itu adalah hal yang biasa-biasa saja.
Kapan ketakutan berubah menjadi phobia? Ada 3 penyebab dari phobia:
- Classical conditioning: timbulnya phobia karena memang dikondisikan sesuatu itu menakutkan atau membahayakan. Contohnya ada percobaan terhadap seorang anak bernama Albert. Tadinya Albert tidak pernah takut terhadap tikus, bahkan dia pernah mengejar-ngejar tikus, menangkapnya, dan mempermainkan tikus itu. Tapi kemudian psikolog yang melakukan penelitian itu menunjukkan pada Albert sebuah tikus, lalu memukul dengan kuat sebuah pipa logam sehingga timbul bunyi yang kencang. Kejadian itu diulang beberapa kali, yaitu memunculkan tikus sambil membuat suara kencang. Lama kelamaan, walau tanpa terdengar suara apapun, Albert menjadi takut terhadap tikus. Contoh sehari-hari misalnya saat anak kecil tidak mau makan, orang tuanya bertanya pada anak itu: kalau kamu tidak mau makan, nanti biar ditangkep sama Pak Polisi. Akhirnya terbawa terus di pikirannya bahwa yang namanya Polisi itu menakutkan. Ada banyak pengkondisian ini yang dilakukan oleh orang tua dan terjadinya pada masa kecil seseorang dimana pada saat itu otaknya sangat mudah menyerap hal-hal yang terjadi di sekelilingnya dan langsung membuat persepsi dan asumsi sesuai dengan hal-hal yang diterimanya.
- Biological causes: timbulnya phobia karena terdapat gen yang memang membuat kita takut terhadap suatu hal. Selain gen, ada juga bagian di otak kita yang bernama Amygdala yang berfungsi menghubungkan memori dengan emosi. Dalam keadaan bahaya, tubuh mengirimkan signal kepada Amygdala, dan kemudian Amygdala menjalankan fungsinya menyimpan ketakutan yang berasosiasi dengan suatu object atau situasi tertentu. Jadi saat object atau situasi tersebut muncul, maka emosi kita berupa ketakutan akan muncul pula.
Jenis-jenis phobia, diantaranya adalah:
1. Social Phobias & Agoraphobia: Social phobias atau seringkali disebut dengan Social Anxiety Disorder, adalah ketakutan bersosialisasi dengan orang lain. Orang yang mengalami social phobia merasa tidak nyaman saat bertemu atau berkumpul dengan orang lain karena takut dipermalukan, dihina, atau dipandang rendah oleh orang lain. Rasa takutnya ini begitu kuat sehingga mengganggu dan membuatnya tertekan saat akan bertemu dengan orang lain. Rasa tertekan ini bahkan bisa dirasakan beberapa hari sebelum hari H.
Contohnya: aku punya seorang keponakan yang kalau berada di sekitar orang-orang yang sudah dikenalnya dengan dekat, dia akan menjadi seorang yang sangat terlihat cerewet dan berani. Tapi, saat kita mau berkunjung ke rumah orang yang belum dikenalnya, dia pasti tidak mau masuk ke rumah itu. Contoh extrim lagi, saat dia main mandi bola begitu ada orang lain yang masuk ke ruang mandi bola, dia akan langsung keluar dari ruang itu.
Kalau Agoraphobia adalah istilah untuk ketakutan akan hal-hal yang sifatnya asing atau menakutkan bagi yang bersangkutan, bisa jadi suatu situasi atau tempat. Contoh agoraphobia misalnya: lygophobia (ketakutan akan tempat gelap) dan eicophobia (takut keluar dari rumah). Contoh kejadiannya: Kampung halamanku adalah tempat indah yang ada di dekat 2 gunung berapi. Begitu terjadi kebakaran gunung, akan terlihat jelas dari rumahku, dan aku menjadi sangat takut kalau gunung itu akan meletus dan meluncurkan lahar panas yang akan mengejar-ngejarku. Artinya aku ketakutan terhadap sebuah situasi, yaitu kebakaran gunung.
2. Specific Phobia: yaitu phobia terhadap hal-hal tertentu yang spesifik, misalnya: altophobia (takut ketinggian), siderodromophobia (takut akan kereta api), potamophobia (takut terhadap air yang mengalir), cynophobia (takut terhadap anjing atau rabies), batrachophobia (takut terhadap kodok). Kalau aku sendiri mengalami kecoaphobia (takut sama kecoak!:))
Bagaimana cara mengatasi phobia? Ada 2 cara untuk mengatasi phobia:
- Menghindari hal-hal yang membuat phobia. Misalnya kalau takut ketinggian ya hindarilah ketinggian, misalnya hindari bekerja di gedung bertingkat, khususnya di lantai-lantai atasnya.
- Cara yang kedua yaitu sengaja terus meng-expose diri dengan hal-hal yang membuat phobia, tentu saja sambil melatih diri dan mengubah cara berpikir supaya tidak lagi takut terhadap hal-hal tersebut. Tereapi untuk hal ini disebut Cognitive Behavioral Therapy. Orang yang mengikuti terapi ini akan selalu dicheck kelakuan-kelakuannya yang bersifat irasional, pikirannya juga selalu dimonitor. Biasanya terapi dilakukan dengan meng-expose secara gradual dengan hal yang ditakuti. Misalnya takut pada anjing. Dia mula-mula akan diminta untuk menonton di TV tentang anjing-anjing yang baik, yang bisa membantu orang cacat, yang sifatnya setia, yang cerdas, dll. Seterusnya diminta melihat secara langsung anjing tapi dari kejauhan, tentu saja dipilih anjing yang baik dan sudah terlatih. Setelah itu baru dipertemukan dengan anjing kecil yang kalem dan jinak. Lalu tahap selanjutnya diminta menyentuh, dan seterusnya sampai betul-betul merasa bahwa anjing itu makhluk yang menyenangkan dan bukan menakutkan. Namun sebelumnya, akan lebih baik jika orang itu bisa menemukan kenapa dia takut pada anjing, kemudian dia bisa menyadari bahwa hal itu menimbulkan dampak buruk dalam hidupnya, dan dia perlu menerima penyebab-penyebab itu dengan lapang dada.
Untuk phobia-phobia kecil bisa diatasi dengan 3 cara sederhana: latihan relaksasi (bisa dengan meditasi, mengatur pernafasan, relaksasi di air, spa, dll), obat-obatan untuk mengendurkan syaraf, dan sebuah group yang saling mensupport.
Jadi, jangan mau kalah dengan phobia!
Sunday, June 8, 2008
Confidence Manual

Pada saat aku mendesain materi Effective Communication, aku menemukan materi tentang self confidence di beberapa website. Ada beberapa hal menarik yang akan aku sharingkan.
Ada beberapa perbedaan antara orang yang confidencenya tinggi dan rendah:
1. Orang yang confidencenya tinggi akan melakukan hal yang dianggapnya benar, meskipun orang lain berbeda dengannya, bahkan menghina atau mengkritik. Sedangkan orang yang confidencenya rendah akan cenderung melakukan hal-hal yang dirasa menyenangkan orang lain (memiliki mental ABS atau asal bapak senang).
2. Orang yang confidencenya tinggi mau mengambil risiko dan melakukan lebih dari yang diminta (go extra mile) untuk mendapatkan hal yang lebih baik dalam hidupnya. Sedangkan orang yang confidencenya rendah biasanya lebih senang tinggal di comfort zone-nya, takut gagal, dan takut mengambil risiko.
3. Orang yang confidencenya tinggi mau mengakui kesalahannya dan mau belajar dari kesalahan. Yes, aku setuju banget sama hal ini. Orang yang tidak mengakui kesalahannya ga beda jauh sama orang yang berbohong karena dia tidak berani bertanggung jawab atas hal yang diperbuatnya, dan terlalu angkuh untuk memperbaiki kesalahannya, sehingga orang semacam ini tidak pernah improve dalam hidupnya.
4. Orang yang confidencenya tinggi akan berusaha "menjual diri" secara professional dan etis, sedangkan orang yang confidencenya rendah hanya menunggu sampai ada orang yang menghargai prestasinya.
5. Orang yang confidencenya tinggi akan menerima pujian dengan cara yang bijaksana: "Saya memang sudah berusaha keras untuk hal ini, terima kasih Anda menghargainya." Sedangkan orang yang confidencenya rendah akan menolak pujian seperti ini: "Ah, itu bukan apa-apa kok, semua orang juga bisa melakukannya."
Untuk memiliki confidence yang tinggi, selain perlu untuk memiliki mentalitas dan behavior-behavior di atas, ada beberapa tips untuk gesture (bahasa tubuh) dan attitude yang perlu dimiliki untuk meningkatkan image sehingga confidence kita pun bertambah.
1. Berdiri dan duduk dengan tegak. Pada saat duduk, usahakan tulang belakang lurus, tidak bongkok, tidak terlalu tegak, tidak miring kiri atau kanan. Posisi duduk yang ergonomis, selain bisa meningkatkan image, bisa menghindarkan kita dari kelainan-kelainan fisik seperti terjepitnya urat, kelainan tulang belakang, dan juga bisa memperlancar peredaran darah ke otak sehingga meningkatkan kinerja.
Begitu pula pada saat berdiri. Berdirilah dengan kedua kaki yang lurus dan tegak. Jika salah satu kaki tidak tegak, maka akan menimbulkan kesan malas-malasan, sedangkan jika badan bongkok akan menimbulkan kesan tidak percaya diri.
2. Berjalan dengan cepat. Ternyata berjalan cepat bisa meningkatkan image seseorang karena dia lebih terlihat aktif dan dinamis dibandingkan orang yang berjalan pelan-pelan atau klemar-klemer. Tapi gaya berjalan juga sangat mempengaruhi. Usahakan berjalan lurus dan tegap. Ada gaya jalan yang kakinya melebar kiri kanan mencerminkan orang yang cuek. Ada juga gaya jalan yang seperti kingkong mencerminkan orang yang selebor dan seenaknya.
3. Berjabat tangan dengan erat. Jabatan tangan yang erat dan mantap mencerminkan ketegasan seseorang.
4. Kepala selalu diletakkan di tempatnya. Maksutnya kepala jangan menunduk atau leher membungkuk saat memberi salam ataupun saat berbicara, karena memberikan kesan kita lebih rendah dibanding orang yang kita ajak bicara.
5. Gerakan tangan diatur. Tangan yang menutup, misalnya melipat tangan, atau tangan dikatupkan seperti orang sembayang mencerminkan orang yang menutup dirinya, bosan, atau tidak tertarik. Gerakan tangan juga perlu dikontrol agar tidak annoying bagi orang yang melihatnya.
6. Berbicara dengan kecepatan yang perlahan namun dengan tegas. Ada orang-orang yang memang tukang ngomong dan berbicara sudah seperti bernafas. Buat orang-orang seperti ini, tidak masalah untuk berbicara dengan cepat, karena kecepatan dari otak ke mulut sudah super speed. Tapi untuk yang perlu waktu untuk berpikir, masih kurang PD, dan masih kurang paham dengan topik pembicaraan, sebaiknya berbicara perlahan sehingga otak masih sempat berpikir, lidah tidak terbelit-belit, dan tidak sering menyebutkan pause filler (seperti: eeeee, apa namanya, yah, okay, dsb).
Berbicara dengan nada rendah juga bisa membantu kita untuk meningkatkan image, karena terkesan lebih dewasa dan lebih matang.
7. Jangan lupa selalu lakukan eye contact. Orang yang tidak memandang lawan bicaranya, biasanya adalah orang yang tidak PD, berbohong, atau tidak memperhatikan (o ya, atau sedang jatuh cinta pada lawan bicaranya dan takut ketahuan, hihi...)
8. Selalu berpikir positif. Jangan lupa "law of attraction". Kalau kita berpikir bahwa si A jahat, maka si A betul-betul akan bersikap jahat sehingga merugikan kita. Tapi kalau kita berpikir bahwa si A baik, maka tindakan kita akan berbeda sehingga si A pun akan menunjukkan sikap baiknya pada kita, dan akibatnya menguntungkan kita sendiri.
9. Memiliki "can do" attitude. Pada saat kita dihadapkan pada suatu challenge, jangan terlalu mudah mengatakan "tidak bisa". Atau dengan kata lain kita harus berpikir bahwa imposible is nothing.
Selain tips-tips di atas, kita perlu tahu bahwa meningkatkan kepercayaan diri adalah suatu proses. Proses yang melibatkan kekecewaan, malu, nyaris putus asa dan ingin lari dari kenyataan, dan series of kegagalan-kegagalan. Hal-hal tersebut kita alami karena kita menerima challange sebagai ujian untuk kita bisa naik kelas. Pada proses tersebut kita bisa nangis darah dan hujan keringat, tapi akhirnya puas dengan hasilnya. Bisa juga berakhir dengan kegagalan, tapi kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita buat. Jadi intinya bukan hasil akhirnya, tapi keberanian kita mengambil challenge / ujian-ujian itu, dan kemampuan kita untuk menarik pelajaran (lesson learned) dari peristiwa yang terjadi.



